Eksistensi Cek Bocek Selesek Undang Perdebatan Warga Lingkar Dodo

Eksistensi Cek Bocek Selesek Undang Perdebatan Warga Lingkar Dodo

SHARE

Sumbawa Besar,  Sumbawanews.com.-
Eksistensi suku Cek Bocek Selesek Rensuri masih mengundang perdebatan warga dilingkar Dodo Kecamatan Ropang. Pasalnya, sebagian warga masih meragukan eksistensi dan legitimasi suku tersebut.

M. Taufan tokoh pemuda Kecamatan Lantung kepada wartawan koran ini kemarin, meragukan keberadaan suku yang kini mendiami Desa Lawin Kecamatan Ropang itu.
Setelah membaca makalah soal sejarah suku Cek Bocek Selesek Rensuri yang dipaparkan oleh Dato Sukanda RHD selaku ketua suku tersebut dalam Seminar, M.. Taufan melihat adanya indikasi pembelokan sejarah  dari fakta sesungguhnya.

Bagaimana tidak, lanjut Taufan, dalam makalah itu disebutkan awal mula lahirnya masyarakat adat Cek Bocek Selesek Rensuri di Desa Lawin itu pada tahun 1492, dimana hidup 10 kelompok manusia Bajompang (Sistem meramu) berkeprcayaan animisme dan dinamisme yang 10 tahun kemudian bertemu dengan kelompok manusia perahu yang terdampar asal Samudera Pasai dipimpin Datu Awan Kuning dan mayoritas Islam.

“Setahu kami agama Islam paling terakhir menyebar di daerah ini sekitar tahun 1600-an masehi, setelah Budha dan Hindu. Kenapa tahun 1492, orang Samudra  Pasai yang mayoritas Islam sudah ada dan bertemu manusia Bajompang. Terus terang ini saya ragukan,” ujar Taufan.

Begitu juga soal alasan perpindahan warga Selesek Rensuri ke Desa Lawin sekarang, warga Dodo ke Desa Lebangkar, Lebah ke Babar Lunyuk, warga Beru ke Ledang, dan Jeluar ke Lemurung, karena faktor gangguan alam dinilai Taufan  tidak tepat. Sebab, lanjut Taufan, menurut penuturan para Tetua Lantung, alasan kepindahan warga tersebut karena faktor jarak yang cukup jauh terkait penyerahan upeti mereka.

“Ada baiknya, mereka mengajak sejarawan  dan budayawan sebelum mengklaim komunitas adat mereka, sehingga betul-betul mengungkapkan fakta sejarah yang sesungguhnya,” tukasnya.

Diakui Taufan, pihaknya bukan tidak setuju dengan keberadaan komunitas adat Cek Bocek Selesek Rensuri itu. Hanya saja, keberadaannya betul-betul dalam kerangka pelestarian adat dan budaya setempat. Bukan  untuk dimanfaatkan sebagai posisi tawar komunitas itu kepada pihak lain.

“Saya pribadi setuju, asal dalam kerangka pelestarian adat dan budaya setempat. Jangan untuk mengklaim wilayah terotorial lalu bergaining dengan investor yang akan masuk kesana, ini yang tidak kami setuju,” tukasnya.

Arjuna—Kepala Desa Lebangkar kepada wartawan menyatakan, bahwa dirinya selaku kades tidak dalam posisi setuju maupun tidak setuju terkait eksistensi suku Cek Bocek Selesek Rensuri itu.

“Saya selaku kades tentu punya masyarakat, dan itu semua saya serahkan sepenuhnya kepada masyarakat saya, apa mereka setuju atau tidak,” katanya.

Namun demikian, ia secara pribadi setuju jika komunitas adat tersebut terbentuk dalam kerangka pelestarian adat dan budaya setempat. Komunitas adat tersebut, hanya refresentatif warga Desa Lawin, beda dengan Lebangkar yang memiliki adat istiadat sendiri.

“Silahkan mereka mengklaim punya wilayah sendiri, tapi kami punya adat sendiri. Semuanya saya serahkan kepada masyarakat saya dan saya tidak bisa memutuskannya sendiri,” tukasnya.

Senada diungkapkan Arjuna tokoh pemuda Desa Lawin, kendati suku Cek Bocek Selesek Rensuri itu ada di desanya. Namun, persoalan setuju atau tidak hendaknya diserahkan kepada masyarakat setempat.

“Sebab, tidak semua masyarakat di desa kami setuju dengan komunitas adat itu, termasuk orang-orang yang duduk dalam struktur adat tersebut,” ujarnya singkat. 
Sementara itu, Kepala Suku Cek Bocek Selesek Rensuri Datu Sukanda RHD, mengaku awal mula lahirnya masyarakat adat Cek Bocek Selesek Rensuri di Desa Lawin itu pada tahun 1492, dimana hidup 10 kelompok manusia Bajompang (Sistem meramu) berkepercayaan animisme dan dinamisme yang 10 tahun kemudian bertemu dengan kelompok manusia perahu yang terdampar asal Samudera Pasai dipimpin Datu Awan Kuning dan mayoritas Islam.

“Karena ada kesepakatan pada tahun 1520 kedua kelompok membentuk pemerintahan yang dikepalai Datu Awan kuning,” katanya.

Untuk mempermudah jalannya roda pemerintahan, diangkat wakilnya yakni Cek Bocek yang mengontrol hasil kinerja secara keseluruhan wilayah pemerintahan Datu Awan Kuning. Cek bocek lalu diberi mandat mengangkat beberapa kementrian, Temo Dodo, Selesek, Kedatuan Sury dan Lebah. Pemerintahan Datu Awan Kuning, berjalan turun temurun, M Hatta, Tunru bin Usman, H Damhuji, Raja Hasbullah hingga wafat 1996 dan diteruskan oleh Datu Sukanda RHD sampai saat ini. Karenanya, pihaknya bersama warga Lawin bergabung kedalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) untuk mempertahankan eksistensi komunitas adat ini.

“Fakta sejarah komunitas adat ini masih ada sampai hari ini, dibuktikan dengan peninggalan bekas  kebun, Masjid, kuburan dan lain-lain. Komunitas ini harus diakui keberadaannya dan keabsahannya, siapapun nanti investor yang masuk harus berkoordinasi dengan kami,” pungkasnya.(YK)

SHARE
Admin Sumbawanews