Dalam Loka, Riwayatmu Dulu

Dalam Loka, Riwayatmu Dulu

SHARE

Dalam Loka atau Istana Tua bekas kediaman resmi Raja Sumbawa, kini tidak lagi berdiri megah dan kokoh, semegah dan sekokoh adat dan budaya Samawa dimasa lalu. Tidak tahu kepada siapa kita harus bertanya, mengapa semua ini terjadi.Mungkin kita harus bertanya kepada rumput yang bergoyang ?? atau kepada siapa…..wallahu a’lam

Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat adalah bekas wilayah kesultanan Sumbawa yang diperintah oleh Sultan Muhamad Kaharuddin III (1931-1958) yang merupakan sultan terakhir dari dinasti Amasa (Mas) Bantan Dewa Dalam Bawa. Mengingat Sumbawa yang pernah menjadi wilayah kerajaan tentu saja sangat banyak memiliki dan meninggalkan warisan benda-benda budaya yang patut dilestarikan.
Peninggalan Kesultanan Sumbawa yaitu istana Dalam Loka yang didirikan pada tahun 1885 oleh Sultan Muhamad Jalaluddin III (1883-1931). Pada tanggal 13 Nopember 1975 dibuat pernyataan bersama antara keluarga Sultan Muhamad Kaharudin III (1931-1958) mengenai kesepakatan penyerahan pemugaran istana tua Dalam Loka kepeda pihak pemerintah (Dirjen Kebudayaan Depdikbud RI). Hak milik atas istana Dalam Loka dan pekarangan tetap menrupakan hak turun temurun dari Sri Sultan M. Kaharuddin III.. Mulai sejak saat itulah biaya pemugaran datang dari APBN dan APBD I Prov. NTB, dan menjadi situs areal temuan benda-benda purbakala.
Pengertian Dalam Loka sendiri berarti, Dalam = istana, rumah-rumah dalam lingkungan istana, Loka = Dunia, tempat. Dalam Loka bermakna istana tempat tinggal raja, katakanlah pusat pemerintahan. Pada tahun 1932 didirika istana baru yaitu Gedug Wisma Praja. Pun menjadi kebanggan rakyat Sumbawa, model istana Dalam Loka menjadi prototype bangunan adat mewakili NTB di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.
Konsepsi Bangunan
Sebelum Dalam Loka dibangun di atas lokasi yang sama pernah dibangun pula beberapa istana kerajaan pendahulu. Diantaranya Istana Bala Balong, Istana Bala Sawo dan Istana Gunung Setia. Istana-istana ini telah lapuk dimakan usia bahkan diantaranya ada yang terbakar habis di makan api. Sebagai gantinya, dibangunlah sebuah istana kerajaan yang cukup besar ukurannya beratap kembar serta dilengkapi dengan berbagai atribut. Istana yang dibangun terakhir ini bernama Dalam Loka.
Arsitektur Dalam Loka sebagai istana memiliki bentuk yang istimewa, tidak sama seperti bangunan-bangunan umum yang berdiri disekitarnya. Bangunan Dalam Loka berukuran luas 696,98 m2 ditopang oleh tiang sebanyak 99 buah, namun sekarang berjumlah 96 buah.
Bilangan 99 seperti jumlah tiang utuk mengingatkan agar Raja dalam menjalankan pemerintahan hendaknya mengadaptasi sifat Tuhan sebanyak 99 jumlahnya. Yaitu, rahman/pengasih, rahim/penyayang dan seterusnya.
Sedangkan tangga yang menjadi pintu masuk ke istana, mengambil bentuk sebuah pendakian yang mengadung konsepsi nilai bahwa siapaun seyogyanya menaruh hormat kepada Raja. Hal ini dinyatan, melalui sikap tubuh yang membungkuk manakala memanjat tangga istana.
Susunan ruangan dalam istana yang asli terdiri dari beberapa bagian antara lain: Lunyuk Agung yakni ruangan depan atau balairung, tempat untuk musyawarah, penerima tamu-tamu agung, resepsi kerajaan, upacara-upacara adat dan sebagainya. Bagian barat terdapat beberapa kamar yaitu kamar sholat atau sembahyang, kamar peraduan Sri Sultan serta kamar untuk tuan putri beserta dayang-dayangnya. Bagian timur terdapat empat buah kamar dipergunakan bagi putra dan putri Sultan yang sudah berumah tangga serta pejabat istana yang berstatus kepala rumah tangga kerajaan. Bagian tengah antara kamar-kamar sebelah timur dan barat merupakan ruangan besar memanjang, berfungsi sebagai tempat untuk mengatur hidangan untuk segala macam upacara adat dan selamatan, sedangkan pada hari-hari biasa merupakan ruangan untuk berkumpul, bercanda para keluarga istana. Selain itu pada malam hari ruangan itu dimanfaatkan untuk ruang tidur. Aslinya, di luar bangunan induk bagian sebelah barat memanjang terdapat jamban Sri Sultan dan permaisuri serta para tuan putri. Di samping itu juga terdapat sebuah Bala Bulo atau anjung-anjung berbentuk rumah susun berlantai tiga. Bagian bawah untuk tempat tidur para putri yang belum berumah tangga, dan bagian atasnya khusus untuk para putri raja berikut keluarga istana yang wanita dan para dayang-dayangnya. Dikala ada keramaian pada upacara-upacara adat, maka bagian atas ini berfungsi pula sebagai tribune untuk menonton.
BEKAS istana Sultan Sumbawa yang lebih dikenal dengan Dalam Loka, kini tidak lagi berdiri kokoh seperti sebelumnnya. Sejak beberapa tahun terakhir ini, Istana Tua yang menjadi icon sejarah ini telah dirobohkan untuk renovasi total. Namun renovasi ini memakan waktu sangat lama dan dikhawatirkan tidak bisa dirampungkan.Kabar terakhir terdengar bahwa kendala utama renovasi Istana Tua itu karena kayu jati alam mesti didatangkan dari Jawa. Sampai berita ini diturunkan, tidak ada tanda-tanda bahwa renovasi itu berjalan. Kini tinggal rangka-rangka kayu yang masih berdiri. Entah kapan renovasi itu selesai. Tidak ada pihak yang merasa berkewajiban memberikan penjelasan.
Sejak 1994 bangunan ini berubah fungsi menjadi museum daerah. Hal ini dimaksudkan selain untuk melestarikan bangunan Dalam Loka, juga dihajatkan sebagai tempat menyimpan benda purbakala yang ada di daerah ini. Tanggal 1 Maret 1994 Dalam Loka resmi menjadi Museum sesuai Keputusan Bupati Sumbawa bernomor 118/1994.Sejak saat itulah semua benda purbakala yang masi bisa diselamatkan disimpan di Dalam Loka, seperti giologika, etnografika, arkeologika, historika dan yang sejenisnya. Perhatian Pemerintah Kabupaten Sumbawa saat itu terbilang sangat besar. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa kali rehab ringan beberapa bagian Istana Tua itu yang dialokasikan melalui APBD II Sumbawa, bahkan sejumlah karyawan moseum mendapat honor dari APBD II setiap tahun nya. Kalau nggak salah catat, petugas moseum saat itu ada 11 orang termasuk Kepala Moseum nya bapak Haji Dinollah Rayes.
Namun sayang setelah Bupatinya digantikan oleh putra-putra daerah, justeru Dalam Loka dibiarkan terbengkalai. Jangan tanya soal honor petugas moseum, benda-benda purbakala yang dulu disimpan di moseum pun hilang tak berbekas. Yang tertinggal hanyalah gambar-gambar usang dan beberapa benda yang tidak lagi mencerminkan kejayaan Kerajaan Sumbawa dimasa lalu.Dalam APBD II Sumbawa tahun 2009, juga tidak ada anggaran khusus bagi upaya pelestarian Dalam Loka.
 
Ahmad Zuhri Muhtar

SHARE
Admin Sumbawanews