
Berampok (tinju tradisional) merupakan salah satu budaya tana’ Samawa yang hampir tidak pernah dilaksanakan lagi. Khawatir akan hilangnya budaya adu nyali dan kelincahan dalam bertarung ini, Kaum Muda Bangkit Berkarya (KMBB) kembali di tana Pariri Lema Bariri budaya ini digelar. Bagai mana pelaksanaanya ?
Oleh : AGUS SUDONO
Minggu pagi (26/10) sekitar pukul 8;00 wita alun – alun kota Taliwang sudah dibanjiri oleh warga masyarakat Sumbawa Barat, baik yang akan menyaksikan atau sebagai peserta dalam budaya barampok yang sudah lama tidak pernah digelar. Demikian pula halnya dengan pihak keamanan yang selalu siaga untuk mengantisipasi terjadinya hal – hal yang tidak dinginkan.
Setiap pintu masuk ke arena yang telah disediakan panitia, pengunjung maupun peserta barampok ini terlebih dahulu diperiksa oleh petugas kemanan. Dalam arena pertarungan ini baik pengunjung maupun peserta dilarang membawa senjata tajam.
Tidak hanya pada pintu masuk, didalam arena juga aparat kemanan sibuk mengatur penonton dan juga peserta karena dengan antusias mengikuti budaya yang jarang sekali dilakukan ini. Biasanya budaya barampok dilakukan setelah musim panen padi,karena salah satu kelengkapan dalam barampok (tinju tradisional,red) ini menggunakan jerami (batang padi,red).
Jerami ini digenggam oleh peserta yang untuk ngumang (berteriak sambil mengacungkan genggamannya) dalam mencari lawan. Mereka keluar Ngumang dari berbagai kelompok usia. Dalam barampok kali ini selain kaum muda juga tidak ketinggalan para jago – jago barampok tahun 80 an.
Merasa sepadan dan cocok dari yang Ngumang maupun yang menerima tantangan pihak juri sebelumnya mencatat kedua nama yang akan bertarung. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam menentukan juara.
Wasit atau juri hanya memberikan waktu satu ronde dalam artian sekali adu saja. Saat mulai para jagoan ini memasang kuda – kuda, kedua jagoan ini mendapat teriakan kagum dari penonton yang memberikan semangat. Lebih – lebih saat genggaman petarung ini mendarat telak pada lawannya,teriakan histeris kadang terdengar dari penonton kaum hawa (perempuan).
Bagi petarung yang mengalami luka atau cidera tidak membuatnya untuk menjadi dendam terhadap lawan tarungnya. Seusai bertarung kedua jagoan ini langsung saling berangkulan pertandakan tidak ada dendam dan sebagai bentuk dari persahabatan atau persaudaraannya. Sedangkan peserta yang cidera atau terluka saat bertanding pihak panitia telah menyediakan khusus tenaga medis yang akan merawatnya.
Banyaknya masyarakat yang hadir membuat jajaran kepolisian yang dipimpin langsung Kapolresnya AKBP Hadi Gunawan, kewalahan untuk mengatur penonton, sehingga setiap akan mulai bertarung para peserta yang telah disetujui wasit atau panitia, pihak keamanan harus mendorong paksa untuk mundur penonton, sebab arena yang dibutuhkan harus luas, dan hal itu lebih pada penjagaan keamanan pertandingan yang digelar.
Dari beberapa peserta sangat menyayangkan pelaksanaan barampok kali ini hanya berlangsung hingga pukul 13;00 wita, sehingga banyak peserta yang tidak sempat mengambil bagian dalam budaya ini. Biasanya kegiatan barampok ini dilaksanakan hingga sore hari.
Ketua pelaksana Deniwan Putra menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya menghidupkan kembali atau melestarikan budaya barampok yang sudah hampir punah dan bahkan dilupakan. "Kita ingin kebudayaan barampok itu dipertahankan, sebab hanya budaya itu yang dimiliki masyarakat Samawa yang nyaris tidak dimiliki masyarakat lain, "ucap Deni.
Terkait kekecewaan masyarakat baik yang menjadi peserta maupun penonton lantaran jadwalnya tidak sampai sore lantaran izin pelaksanaan hanya sampai pukul 13.00. “Kita tidak ingin melanggar izin yang diberikan pihak kepolisian, apalagi massa yang ada dilokasi cukup banyak, jadi untuk mengantisipasi adanya gejolak, panitia tidak berani melanjutkan acara sesuai keinginan masyarakat, “lanjut Deni.
Dipenghujung acara panitia langsung mengumumkan juara dalam barampok tersebut, Usman alias Bom asal kampung Sebok yang dengan pukulannya yang cepat dan akurat sehingga mampu menjatuhkan lawanya dinobatan sebagai jawara, sedangkan Junaidin warga Sampir menjadi juara II, disusul Angga dari Seteluk, Ahe dari Brang Rea, Acung Sampir dan Andi dari Sermong.
Setelah acara pembagian hadiah para penonton dan peserta membubarkan diri dari arena untuk kembali kerumah atau melanjutkan kesibukan lainnya masing – masing. Yang jelas dibenak para peserta dan penonton berharap kegiatan ini akan tetap dilestarikan. (***)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
















turut berduka cita yang mendalam,semo...
Semoga amal ibadah beliau diterima di...
Sekelumit masalah pembangunan di KSB ...
Semoga Amal Ibadah Beliau diterima AL...
jika dialog sudah nggak bisa lagi, me...