Menyambangi Pulau “Ular” Wera Bima Yang Eksotis

Menyambangi Pulau “Ular” Wera Bima Yang Eksotis

SHARE
Ditengah cerahnya matahari, Senin (8/9/2014) sore itu, dari atas bukit yang membentengi desa Pai  dengan Desa Sangiang Kecamatan Wera Kabupaten Bima NTB terlihat sebuah pulau kecil yang luas tidak lebih dari 50 M2, nampak jelas dan sungguh indah.
Dikelilingi laut berwarna biru dan pantai pasir desa Pai berwarna hitam, pulau “ular” nampak menyendiri diantara luasnya selat Sape yang langsung berbatasan dengan pulau Komodo.
Bergeser beberapa derajat kearah barat daya, nampak kokoh tertancap Gunung Sangeang Api yang beberapa saat laut ikut memuntahkan material vulkaniknya.
Pulau “Ular” yang dihuni oleh sekelompok ular-ular jinak yang hidupnya dilaut merupakan lokasi wisata yang dapat dijangkau menggunakan perahu bermotor dari pantai Oicaba. Tidak terlalu sulit untuk memasuki gerbang pantai Oicaba, disebelah kiri jalan dipinggi desa Pai terdapat gerbang yang menandakan lokasi pantai tersebut.
Berjarak sekitar 400 meter dari pantai Oicaba, kita bisa menyewakan perahu bermotor dari nelayan setempat untuk mencapai pulau Ular ini. Sekitar 10 menit untuk menjangkaunya. Apabila air laut sudah pasang, jangan harap bisa menjangkau pulau ular karena akan tertutup air laut.
Orang Wera menyebutnya  Pulau Nisa Kapa dari bahasa Bima yang berarti pulau kapal, namun pulau “ular” demikian Orang Bima menyebutnya berjarak 77 kilometer ke arah timur dari Kota Bima melalui jalur selatan melewati Kota Kecamatan Sape. Bisa ditempuh dengan sekitar dua jam perjalanan mengendarai mobil hingga ke Pai yang terletak 35 kilometer. Apabila berangkat dari Kota Bima, tujuan terdekat dan jalannya relatif lebih baik adalah jalur selatan melalui Sape. Apabila melalui jalur utara, lebih jauh jaraknya karena waktu tempuh Bima-Wera selama dua jam dan ke Pai sekitar satu jam. Tetapi jumlah bus jalur utara lebih banyak dibanding jalur selatan.
Pulau “Ular” terbentuk dari karang yang menyebul dari dasar lautan,  ular yang ada dipulau ini mencari makanan di dalam laut dan beristirahat di atas pulau di antara celah-celah bebatuan atau bergelantungan pada tebing-tebing terjal. Hanya terdapat 2 buah pohon Jenamawa sebutan lokal untuk pohon Kamboja diatas batu karang sebagai penanda pulau ini, selebihnya rumput-rumput kering menutupi bagian atas pulau ini. Disebut pulau kapal lantaran dulu ada sebuah kapal terdampar di sana. Pulau itu sendiri, terdiri dari bukit karang setinggi sekitar 15-20 meter. Lebarnya 50an meter dan panjangnya lebih 100 meter. Di sekitar pulau itu di sisi ujung sebelah timur dan sisi barat terdapat daratan karang yang memanjang hingga 100 meter.
Dalam legenda, Pulau ular merupakan jelmaan dari kapal tua yang terdampar di perairan Wera. Ular-ular tersebut adalah jelmaan para penumpang dan ABK Kapal. Sedangkan dua pohon Kamboja yang tumbuh di kedua sisi pulau itu merupakan jelmaan dari tiang-tiang kapal portugis. Di balik keindahan pulau ini tersimpan misteri atau mitos. Orang-orang di sekitar pulau mengatakan bahwa asal-usul pulau ini berasal dari sebuah kapal Belanda tua yang ingin datang ke Bima dan orang-orang di sekitar mengutuk kapal ke sebuah pulau dan ular yang mendiami pulau ini termasuk ular imitasi yang tugasnya adalah untuk melindungi pulau.  Dua pohon kamboja yang berada di atas pulau itu dikatakan sebagai pilar kapal Belanda. Ular ini tidak dapat dibawa kemana saja. Jika ada yang membawanya keluar dari daerah itu, ular itu akan segera kembali ke komunitas mereka lagi. Dan menurut mitos pula, jika seseorang berkunjung ke pulau ini dan memiliki banyak dosa, maka akan di gigit oleh ular.
Untuk mendatangi Nisa Kapa jangan lupa mengenakan sandal jepit atau sepatu karet lainnya. Sebab, jika tidak, akan merasa sakit berjalan di atas batu karang di pinggiran pulau tersebut. Bahkan, kemungkinan luka robek kulit atau telapak kaki sebab adanya tiram.
dr. Sanusi SPOG, salah seorang asli kelahiran wera yang saat ini berdomisili di Jakarta menjelaskan, ular-ular di Pulau Ular tersebut menurut penduduk setempat merupakan jenis ular laut. Siapapun tahu bahwa ular laut termasuk ular yang sangat beracun. Dilihat dari ciri-ciri fisiknya, ular tersebut memang berbentuk seperti ular laut. ekornya pipih seperti ekor ikan, warnanya putih silver dan hitam mengkilat. Ketika dipegang tidak terasa licin sama sekali sebagaimana layaknya ular-ular di darat. Kulitnya lebih terasa kesat dan bersirip seperti ikan. Walau hidup liar, mereka sangat jinak dan ramah terhadap pengunjung.
“Ketika dipegang mereka sama sekali tidak menggigit atau melilit,” jelas Sanusi yang sama-sama enin (8/9/2014) sore itu menjelajah pulau Ular.
Reportase & Foto: Arif Hidayat
SHARE
Admin Sumbawanews