Home Berita Internasional Internet Iran Mulai Hidup Kembali Usai 88 Hari Mati Total

Internet Iran Mulai Hidup Kembali Usai 88 Hari Mati Total

Sumbawanews.com,- Warga Iran mulai kembali terhubung ke dunia maya setelah 88 hari tanpa akses internet yang layak—tapi kegembiraan itu terasa hambar. Di tengah kelegaan sebagian warga yang bisa lagi mengirim pesan atau membuka media sosial, banyak yang menilai pemulihan ini hanyalah ilusi: internet yang kembali bukanlah internet yang bebas.

“Saya bisa terhubung, tapi masih butuh VPN. Jangan salah paham—ini bukan kebebasan, hanya berhenti mati total,” ujar seorang pria berusia 46 tahun di Teheran, menggambarkan realitas yang dirasakan ribuan lainnya.

Pemulihan akses yang dimulai pada Selasa (26/5) itu diumumkan pemerintah sebagai langkah kebijakan Presiden Masoud Pezeshkian, yang memerintahkan otoritas teknis membuka kembali jaringan. Namun, menurut laporan NetBlocks, internet yang kembali bukanlah yang dikenal sebelum Desember 2025. Ia adalah versi yang terfilter, terkontrol, dan terbatas—istilah warga menyebutnya “filternet”.

Di platform X, seorang perempuan yang pernah turun ke jalan dalam aksi protes menulis sindiran pedas: “Semua kehebohan ini hanya untuk koneksi dasar.” Pesannya menggema di kalangan aktivis dan pengguna biasa yang kehilangan akses selama hampir tiga bulan—waktu terpanjang pemadaman internet dalam sejarah modern.

Pemadaman total dimulai setelah demonstrasi besar-besaran meledak akibat krisis ekonomi: inflasi melonjak, rial anjlok, dan kepercayaan terhadap pemerintah runtuh. Ketika protes berubah menjadi tuntutan sistemik, pemerintah merespons dengan memutus jaringan. Puncaknya datang di Februari, saat serangan militer AS dan Israel memicu kepanikan—dan internet nyaris benar-benar mati.

Kini, meski sinyal kembali, sensor tetap berjalan. WhatsApp tetap terblokir kecuali dengan alat khusus. Instagram dan Twitter hanya bisa diakses lewat VPN. Dan di balik layar, Dewan Tertinggi untuk Ruang Siber—badan yang dibentuk langsung oleh Ayatollah Ali Khamenei pada 2012 dan diisi oleh tokoh militer, intelijen, dan keagamaan—masih mengendalikan setiap aliran data.

Kesenjangan akses pun makin nyata. Sebagian kecil warga, biasanya dari kalangan menengah ke atas, memakai perangkat Starlink ilegal yang diselundupkan dari luar negeri. Yang lain mengandalkan layanan VPN berbayar—mahal, tidak stabil, dan rentan diblokir. Sementara mayoritas penduduk, terutama di daerah pinggiran, tetap terjebak dalam koneksi yang lambat, putus-putus, dan tak bisa diandalkan.

Namun, di tengah keterbatasan, ada tanda-tanda kecil ketahanan. Di Teheran, Isfahan, dan Shiraz, warga mulai mengunggah swafoto di Instagram untuk pertama kalinya sejak Desember. Foto-foto itu tak selalu berisi protes. Ada yang hanya menampilkan secangkir kopi, pemandangan jendela, atau senyum anak-anak. Tapi bagi mereka, setiap unggahan adalah pernyataan: kami masih ada. Kami tidak diam. Kami ingin dilihat.

Pemulihan internet ini bukan akhir dari pembatasan. Ia adalah kompromi—sebuah napas pendek di tengah tekanan yang masih berlangsung. Dan bagi banyak warga Iran, yang paling penting bukanlah apakah internet kembali, tapi apakah mereka masih punya keberanian untuk menggunakannya.

Previous articleManusia dan Robot Berdansa dalam Peragaan Busana Pertama di Dunia
Next articleITB Tegaskan Kasus Fraud Riset Bersifat Individu
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.