Sepasang Sandal Bakiak

Sepasang Sandal Bakiak

SHARE

Dade suka melamun sendiri semenjak sepasang sandal bakiak-nya hilang di pelataran masjid. Seusai sholat akan terpandang dia berdiri di pagar pintu masjid. Matanya  tak pernah lepas gerak kaki jamaah yang keluar-masuk masjid. Melepas sandal atau sepatunya. Ku rasa pikirannya menerawang kemana-mana, terbukti ketika beberapa jama’ah yang mengenalnya berusaha menyapa. Dade seperti kebingungan, beberapa saat baru sadar lalu membalas sapaan tadi.
“Kenapa dengan kamu, De” Suatu kali seorang jama’ah yang kelihatan beraut tua penasaran dengan sikapnya akhir-akhir ini. Lalu mencoba mengajukan tanya saat lampu masjid sudah dimatikan dan pintu utama dalam masjid sudah dikunci olehnya.
“Eh……maaf pak. maaf…aku akan pulang” kelihatan Dade tergopoh-gopoh turun dari beranda menuju pelataran.
“Tunggu dulu. Aku ingin mengajukan tanya ke kamu. Boleh nggak” sahut jamaah tua itu sambil tangannya berusaha menarik kembali tangan Dade.
“Ga pa-pa. Maaf….Aku mencari sepasang sandal bakiak-ku” jawab Dade sambil menarik tangannya dari pegangan jamaah tua. Lalu sedera ngeloyor kabur.
 “Oh karena mencari bakiak yang hilang masalahnya…” sahut jamaah itu agak kencang suaranya tapi terasa tak seberapa diperhatikan oleh Dade. Dade terus ngeluyur dan membiarkan orang  itu penasaran. Jamaah itu ternyata salah satu pengurus masjid hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya sambil memendang punggung Dade yang berjalan cepat pulang ke rumah.
 
********
Empat puluh hari yang lalu ketika pagi menginjak siang,  Dade pulang setelah seminggu dia menjadi relawan korban gunung berapi. Dade membawa oleh-oleh sepasang sandal bakiak yang diambil dari dalam tas ranselnya lalu digeletakkan di teras rumah. Sandal bakiak terbikin dari kayu  tebal tampak kotor dengan pekat debu kuning kecoklatan menyelimuti. Sempat ibunya yang menyambut kehadirannya memberi komentar tentang sandal bakiak itu. Tapi Dade pura-pura tak menghiraukan, dia langsung membawa bakiak itu ke kamar mandi. Dia bersihkan bakiak itu dari kotoran yang menyelimuti. Sampai tuntas bersih hingga kelihatan rupa aslinya. Warna coklat tua dengan tulisan tanda kapital “D” bercat potih di ujung atas permukaan bakiak. Tak ada tali karet pengikat di atas bakiak, hanya secuill bekas tali karet di sepasang sandal bakiak itu.
“Bakiak ini ku temukan di antara reruntuhan bangunan rumah yang tertimpa lahar gunung berapi” jelas Dade menerangkan kepada ibunya saat dia bersantai di beranda sambil menjemur sandal bakiak-nya di teras.
“Terus…” lanjut ibunya yang sepertinya penasaran ingin cerita anaknya tentang gunung berapi yang telah meletus seminggu itu.
“Aku dan teman-teman  menelusuri daerah kurban gunung berapi saat sudah reda ledakannya. Menemukan sebuah reruntuhan sebuah rumah. Di dalamnya ternyata ada dua orang meninggal dalam keadaan mengenakan sarung dan kerudung. Sungguh mengenaskan” terang Dade dengan mata yang berkaca-kaca, menjelaskan detil pengalamannya sebagai relawan.
“Rupanya ada sepasang bakiak di balik reruntuhan. Bakiak yang masih utuh kayunya, Bu. Meski ikatan tali karetnya sudah putus. Tiba-tiba perasaanku mengatakan harus mengambil sepasang bakiak itu. Terus aku membawanya sambil meminti izin pada yang punya dalam hati”
“Ya sudah kalau gitu. Kamu jaga saja bakiak itu” kata ibu dan segera beranjak menuju ke dalam rumah.
Sejak itu sepasang bakiak selalu menemani langkah Dade, setelah seorang tukang sol sepatu dia panggil untuk membetulakan tali karetnya. Tak lupa Dade selalu membersihkannya tiap pagi atau saat malam. Namun keanehan saat-saat pertama Dade memakainya untuk dibawa jalan-jalan sekitar kompleks perumahannya, tanpa di duga dia seperti kembali menuju ke daerah tempat dia menemukan sepasang bakiak itu. Daerah korban gunung berapi.
Pada mulanya dia seperti kembali ke daerah korban gunung berapi  itu dengan gambaran rupa kerangka sebuah rumah dan rupa mayat yang mengenaskan. Begitu nyata seoerti yang dia lihat saat itu, seakan Dade hadir dan berada di tempat itu bukan di rumahnya sekarang. Tiada seorang pun yang tahu apa yang terjadi dengan Dade, bahkan ibunya yang sedang berkebun di halaman rumah. Wajah Dade  pucat, kaku seperti melihat hantu yang menakutkan. Matanya menatap kosong dan nafas terirama tak karuan seakan Dade ingin berontak menyadarkan diri dengan keringat dingin menderas wajahnya. Rupanya Dade harus mengikuti alur yang membawa dirinya ke tempat yang misterius.
Pikiran Dade seakan berhenti dari waktu saat itu, Dade dibawa pergi pada sebuah ruang dan waktu yang belum dia kunjungi. Dade setelah melihat kerangka rumah dan sepasang mayat korban bencana, tiba-tiba dalam sekejab sepasang mayat itu hidup dengan berumah yang lengkap dan utuh.Ke-dua pasang mayat itu tak tampak mengenaskan lagi. Mereka hidup, segar dan bergerak menjalankan tugas masing-masing. Seorang wanita tua berkerudung sedang memasak di dapur. Sedang satunya lelaki tua berpeci dan bersarung tampak berbincang dengan seorang lelaki muda dengan berpakaian kerja di meja makan.
Tak lama terdengar suara bakiak berjalan dari dapur. Seorang wanita tua itu membawakan dua piring berisi lauk menuju ke meja. Sesudah diletakkan di meja makan, dia kembali ke dapur dengan diiring suara bakiak. Ke dua orang lelaki pun bersiap-siap mengambil piring dan nasi yang sebelumnya sudah terhidang. Tak lama suara bakiak keluar lagi dari dapur mambawa semangkok sayur, lalu duduk di salah satu kursi. Mereka makan bersama.
Setelah selesai acara makan bersama, lelaki muda itu menuju kamarnya dan membawa sebuah tas. Dia pamit kepada wanita dan lelaki tua itu. Sebuah cincin perak dari jari tangan lelaki tua diserahkan kepada lelaki muda sambil mengucapkan beberapa kata. Ah…leleki muda itu menangis lalu bersimpuh dan mencium tangan kedua orang tuanya. Dia pergi ke luar rumah dengan tujuan entah. Namun setelah itu sebuah detaran hebat menerjang dan terasa hingga badan Dade berguncang keras dalam posisi berdiri. Tak lama hawa panas menusuk. Menusuk hingga Dade ingin berteriak. Berteriak kepanasan, ingin melepaskan bakiak itu dari kakinya.Tapi bakiak itu tak mau terlepas dari kakinya.
 
Antara sadar atau tidak, Dade gelagepan saat sebuah guyuran air menyiram badannya dari rambut sampai ke bawah.
“Dade sadar De. Kamu kesuruoan apa setan apa? Sadar nak !!!!” Suara yang cukup ia kenal dalam kesadarannya uang berangsur pulih. Suaranya ibunya.
“Ibu…kok Dade diguyur air ???” tanya Dade dengan sedikit keheranannya atas apa yang terjadi.
“Kamu dari tadi berdiri kaku tegang tak bicara hanya melotot saja itu matamu. Tiba-tiba kamu teriak “Panas..Panas..”kayak orang keseurupan”
“Masak sih Bu” tanya Dade sambil menggerak-gerakkan dan melemaskan badannya. Tapi rupanya Dade setengah mengerti apa yang telah terjadi barusan.
“Ada apa Dade. Kesurupan jin merapi ya kamu??? tanya ibunya setengah memaksa sambil menggoncang-gincangkan badan Dade.
“Ah. Gak papa kok Bu” segera Dade menuju ke dalam rumah dengam kaki masih memakai bakiak itu.
Perubahan mendadak setelah pengalaman batun itu. Tetangga-tetangga di kompleks dan teman-teman kampusnya juga merasakan perubahan itu. Wajah Dade seakan lebih bersih tak berjerawat lagi seperti sebelumnya dari seperti biasanya dan Dade menjadi orang yang dermawan. Barangkali efek Dade memakai bakiak itu. Bahkan ketika ibunya mencoba memakai bakiak itu, ibunya merasa beberapa penyakit kambuhan yang menempel di badannya berangsur menghilang. Penyakit rematik dan encok.
Sesuatu keajaiban dirasakan setelah memakai bakiak itu. Tapi berkali-kali Dade mewanti-wanti ibunya agar tak menyebarkan keajaiban bakiak ini ke para tetangga. Dade takut bakiak dicuri orang diam-diam lalu dijual buat kepentingan ekonomi semata. Dade mengerti ia mendapat ‘amanat’ agar menjaga bakiak itu. Dade tak main-main dalam menjaga sepasang bakiak itu, tiap kali mau tidur bakiak di simpan di kolong tempat tidurnya. Bahkan tiap kali Dade pergi ke masjid, Dade merantai dan mengunci bakiak-nya ke pagar besi masjid itu. Kadang Dade  memasukkan Bakiak dalam tas plastik, diletakan disampingnya ketika dia bersembahyang. Tentu saja tindakannya mengundang beribu tanya penasaran, bahkan komentar yang meledek tindakan anehnya dari tetangga dan teman se-kompleks.
Naas. Setelah empat puluh hari sesudah Dade menemukan dan memakai sepasang Bakiak dengan selamat. Bakiak menghilang. Tepatnya menghilang saat Dade melaksanakan sholat Jumat. Barangkali Dade teledor dengan tak merantai bakiaknya atau dikantongi dalam tas plastik dan dibawa ketika dia memasuki masjid. Dade berteriak histeris saat diketahui bakiaknya tak ada di pelataran masjid. Dia menanyakan satu persatu pada tiap jamaah yang mau pulang dan masih berada dalam masjid. Bahkan Dade menyuruh pengurus masjid mengumumkan berita tentang bakiak dia yang hilang. Dade menyesal, menyesal karena kelalaiannya. Dia menangis sesenggukan di beranda masjid. Segan dia pulang, dia terus menunggu di beranda dekat jalan keluar masuk masjid hanya sekedar mencari bakiak dan siapa yang memakai bakiaknya.
 
**********
Seorang lelaki muda masih memekai seragam kerja duduk di sebelah samping kiri Dade yang duduk mendengarkan khutbah jumat. Lelaki itu tersenyum kepada Dade dan menyodorkan tangan untuk bersalaman. Dade terhenyak beberapa saat. Tapi dia harus menampakkan senyum dan membalas mengulurkan tangan bersalaman. Dalam benak Dade ada beribu pertanyaan tentang lelaki itu. Serasa telah mengenal lelaki itu sebelumnya.
Khutbah jumat seakan tak dihiraukan, beribu tanya yenyang kehadiran lelaki muda menghadir. Sesekli dia mencuri pandang menoleh ke lelaki di sampingnya dan berkenalan dengannya. Tapi dia tahan. Dade mununggu khutbah jumawt itu selesai dengan sejumlah galau menggelayut. Dade seakan tak ingin jauh dari lelaki itu bahkan ketika sembahyang dimulai, Dade menempel terus lelaki itu. Entah lelaki itu menyimpan magnet apa membuat khusyu Dade teraduk-aduk.
Dade terus menempel pada lelaki itu setelah melaksanakan sembahyang jumat. Dia tak mau kehilangan lelaki itu, dia pun mengikuti leleki itu keluar dari ruangan masjid. Dade ingin berkenalan dengannya. Leleki itu sepertinya terburu-buru. Barangkali dia cepat-cepat mau berangkat kerja. Tak menyadari bila Dade mengikutinya hingga keluar dari masjid.
Nah. Ini dia jawaban galau Dade. Sepasang bakiak milik Dade ternyata dipakai lelaki itu. Dade meneriaki lelaki itu. Teriakan Dade bikin gaduh jamaah yang usai sembahyang jumat.
“Mas. Itu bakiak milikku. kembalikan!!!” seru Dade setengah marah pada lelaki itu.
Lelaki itu memandang Dade juga dengan tatapan heran. Lelaki itu merasa bakiak ini miliknya. Lelaki itu setengah kesal mendatangi Dade.
“Ada apa Mas. Bakiak ini juga milikku. Lihat ada nama “D” di ujung bakiak itu. Itu nama ibuku Dewi. Ini ktp ibuku dan ini photo dia memakai sepasang bakiak” lelaki muda itu setengah marah menunjukkanktp ibunya dan  foto ibu dan bapaknya dari dalam dompet ke Dade.
Dade melihat ada sebuah cincin perak di jari tangan lelaki itu sewaktu menyerahkan foto usang otu. Cincin perak. Dade ingat. Dade mengerti. Sekejab de javu. Membuat Dade agak sedikit terguncang. Pucat dan tegang teraut di wajah. Seakan dia melihat kembali peristiwa yang terkubur hiduo kembali
“Bakiak itu bukan milikku. Pemilik asli meminta kembali. Bakiak itu bukan milikku” Dade berseru kencang sambil berancang-ancang mengambil langkah seribu. Sementara orang-orang melongo. Penasaran.
“Bakiak itu bukan milikku. Bukan milikku…” Dade berseru sambil berlari kencang. Berlari menjauh dari masjid dan kerumunan.
 

Bekasi, 21-11-2010
Fitrah Anugerah. Lahir di Surabaya, 28 Oktober 1974. Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, FIB, Universitas Airlangga Surabaya. Pernah berkesenian di Teater Gapus Unair, dan Bengkel Muda surabaya. Puisinya dimuat di harian Surabaya Post, Sinar Harapan, Bekasi News, oase kompas serta Blog. Aktif di Kedaiilalang. Sekarang bekerja di Bekasi, di perusahaan ekspedisi dan bertempat tinggal di Jl. Patuha Raya No.01 Blok 21, Perum Wika, Bekasi Selatan. No HP. 021 94571950. Alamat e-mail : fitrahanugrah@yahoo.com dan fitrahanugrah@ymail.com
 

SHARE
Admin Sumbawanews