Sastra dan Perubahan Sosial

Sastra dan Perubahan Sosial

SHARE

 

Sastra dan Perubahan Sosial[1] 

 

Amiq Ahyad[2]

 

 

Pendahuluan

Beberapa waktu yang lalu saya dihubungi Heri Latief untuk mengadakan bedah buku Antologi Puisi “Bima Membara” di rumah pak Mintardjo, sekaligus meminta saya untuk menjadi “dokter bedah”. Dua hal yang harus saya akui dengan jujur asing bagi saya. Bima, sebagai kawasan geografis, adalah asing bagi saya. Puisi, sastra sebagai disiplin ilmu pengetahuan juga harus saya akui juga asing bagi saya yang secara akademis dididik dalam disiplin sejarah. Oleh sebab itu pada kesempatan ini saya akan membahas dari sisi disiplin sejarah yang saya akrabi sejak lama. Sedapat mungkin saya akan membatasi untuk membedahnya dari sisi sastra yang tidak saya akrabi. Meskipun demikian Bima bagi saya bukan kawasan yang tidak pernah saya ketahui

 

Perkenalan saya dengan Bima sebagai kawasan geografis ketika saya mengikuti Simposium Masyarakat Naskah Nusantara, Manassa pada tahun 2007 di Bima. Kesan saya tidak jauh berbeda ketika saya menelusuri Pulau Madura. Panas berdebu, tetapi tentu saja kesan itu hanya luarnya, sebab tanah Bima pada khususnya dan Nusa Tenggara Barat[3] pada umumnya menyimpan kekayaan di perut buminya. Isi perut bumi inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusuhan sosial, tepatnya di Pantai Sape Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, NTB.

 

Antologi Puisi “Bima Membara”

“Bima Membara” adalah buku kecil dan tipis. Buku kecil ini merupakan kumpulan 32 puisi yang ditulis 32 penulis yang berbeda. Saya kira tidak semua penulis pernah berinteraksi secara fisik dengan intim, seperti halnya saya dengan bumi Bima. Tetapi informasi tentang Bima di era teknologi komunikasi seperti sekarang ini, tidak hanya di dominasi oleh mereka yang tinggal di Bima. Mereka yang secara geografis tidak pernah berinteraksi dengan Bima mampu dengan mudah mengakses informasi tentang Bima sekehendak mereka. Internet memungkinkan untuk itu semua.

 

Dari ketiga puluh dua kontributor, empat orang di antaranya bermukim di Belanda. Mereka adalah Ratih Miryanti, yang akrab dengan nama pena Mira, Asahan, dan Heri Latief. Mira menulis ”Malam Kudus Berdarah (Haibun) (halaman 54-55), Asahan menulis ”Emas dan Tanah Air” (halaman 61), Zeta Rosa menulis ”Negeriku di Serambi Bima” (halaman 24-25), sedangkan Heri Latief menulis ”Emas Berdarah Rakyat” (halaman 63). Sedangkan kedua puluh delapan kontributor lainnya tinggal di Indonesia. Dari penulis yang berasal dari Indonesia, ternyata tidak ada satupun yang tinggal  di Nusa Tenggara Barat.

Satu satunya ”orang Bima” dalam antologi ini adalah Arif Hidayat, yang memberi kata pengantar. Arif Hidayat adalah pemilik akun facebook arif hidayat, pemilik kantor berita online www.sumbawanews.com. Dia harus saya beri tanda kutip pada kata orang Bima, sebab meskipun lahir di bima dan memiliki interaksi dengan Sumbawa yang intensif dengan membuka kantor berita khusus tentang Sumbawa, ia menghabiskan sebagian besar umurnya di Bandung, dan akhirnya menetap di Bekasi.  

 

Atau dengan ungkapan lain bahwa antologi ini merupakan ungkapan solidaritas orang orang yang peduli dengan Bima. Bima bagi mereka merupakan bagian dari kesadaran kemanusiaan mereka yang terusik oleh kekuasaan dan keserakahan pemilik kapital. Kesadan kolektif para kontributor pada antologi ini dibentuk oleh kemudahan akses informasi terhadap kekerasan yang terjadi di Pantai Sepa, Kecamatan Lambu, Bima. Jarak geografis bukan menjadi persoalan laagi diera teknologi informasi dan komuniksi. Pada detik yang sama, mereka yang tinggal di Belanda seperti tiga orang yang saya sebutkan diatas bisa memiliki informasi yang sama dengan mereka yang berada di Indonesia dengan fasilitas pesan singkat, Short Message Service (SMS), Blackberry Message (BBM),miling list atau dengan berselancar di dunia maya melalui yahoo atau google. Bahkan tidak jarang mereka yang memiliki akses ke dunia teknologi informasi memiliki informasi yang lebih lengkap ketimbang mereka yang secara geografis tidak berjarak. Difinisi ”kesadaran” tidak lagi dipengaruhi oleh faktor geografis dimana seseorang itu tinggal, tetapi oleh relasi antara seseorang dengan ruang eksternal (external space) lewat situs situs elektronik yang dalat diakses secara mudah saat  ini[4]

 

Pada bagian ini saya akan mencoba melihat bagaimana tiga orang kontributor yang saya kenal secara pribadi, dan bermukim di luar negeri dalam menuliskan bait bait puisinya. Mereka adalah Mira, Asahan dan Heri Latief. Akan lihat apakah jarak geografis memiliki pengaruh pada detail peristiwa, simbol yang dipergunakan dalam mengekspresikan puisi yang mereka tulis.

 

Pertama kesempatan saya akan menjelaskan bagaimana penyair Indonesia menggambarkan bagaimana peristiwa Bima tersebut berlangsung.

 

Mira menulis[5]

Eksploitasi

Area tambang mas

Lahan tercemar

 

Tragedi Bima

Air limbah kubangan

Berlumur darah

 

Asahan menulis[6]

Di negeri ini emas lebih penting dari air

Karena emas menjadi uang

Air cuma melahirkan kehidupan

Di negeri ini tembakan peluru

Lebih penting dari suara protes

Karena peluru mematikan manusia

Protes suara yang tidak sedap

 

Sedangkan Heri Latief menulis[7]

Demi tambang emas rakyat bersimbah darah

Terkutuklah rezim pembantai rakyat

 

Ketiga penyair Indonesia yang tinggal di Belanda memiliki kesadaran geografis yang sama, bahwa peristiwa di Kecamatan Lambu adalah konflik kepentingan pemanfaatan lahan. Antara eksplorasi tambang emas di satu sisi, dan kepentingan masyarakat di sisi yang lain. P.T. Sumber Mineral Nusantara (PTSMN) yang akan melakukan eksplorasi tambang emas di satu sisi, dan masyarakat Lambu yang tergantung pada Bendungan Diwu Moro untuk persediaan air bagi lahan pertanian mereka. Eksplorasi yang hendak dilakukan PTSMN, di mata penduduk akan mengabatkan kebutuhan air bagi lahan pertanian mereka akan terancam. Konflik kedua belah pihak kemudian melibatkan aparat keamanan yang menggunakan kekuatan ”peluru”untuk meredam protes masyarakat Bima. Akhirnya terjadi bentrok antara aparat keamanan dengan penduduk Kecamatan Lambu pada tanggal 10 Pebruari 2012.

 

Kekerasan aparat digambarkan dengan ungkapan berbeda. Mira menulisnya dengan ”Lahan tercemar…..berlumpur darah”, Asahan menulis dengan sebuah perbandingan  ”Di negeri ini tembakan peluru ….Lebih penting dari suara protes” sedangkan Heri Latief menulis dengan ” Demi tambang emas rakyat bersimbah darah”. Tetapi ketiga penulis memiliki kesadaran yang sama, bahwa pada peristiwa di pantai Sepa, Kecamatan Lambu, Bima, terdapat kekerasan aparat terhadap masyarakat.

 

Bagi ketiga penulis konflik yang disebabkan oleh konflik pengelolaan lahan adalah menjadi penyebabnya. Nampak dengan jelas bahwa keberpihakan mereka kepada para masyarakat Bima. Di mata mereka bertiga, pemicunya adalah investor tambang emas yang dikhawatirkan masyarakat akan mengganggu supplai air bagi lahan pertanian. Ketiganya jelas berpihak pada para petani yang memang tidak memiliki kekuatan dan negara dalam hal ini abai melindungi rakyatnya yang justru merupakan kewajiban konstitusionalnya.

 

Bagi masyarakat Bima yang memiliki kawasan geografis tandus, kebutuhan akan air menjadi faktor yang amaat penting. Bagi mereka, air adalah kehidupan yang melestarikan peradabannya. Bisa jadi bagi masyarakan Bima nilai air jauh lebih berharga ketimbang emas bagi investor tambang. Bukankah ”nilai” itu tidak bisa diukur dengan nominal kapital? Bukankah ”nilai” itu jauh berbeda dengan ”harga”? Bagi masyarakat Bima air adalah kehormatan yang harus dibela meskipun harus dibayar dengan darah.

 

Antologi puisi BM, dalam pandangan saya merupakan sebuah text yang harus difahami dengan konteks peristiwa sejarah yang melingkupinya. Apa yang ditulis kontributor tidak hanya karya kontemplatif yang tidak memiliki konteks, tetapi merepakan ekspresi dari interaksi mereka dengan realitas sosial. Kalau diibaratkan dengan sebuah karya hukum Islam, maka antologi puisi BM ini ibarat kumpulan fatwa. Konteks budaya, dalam hal ini orientasi ideologis, kesamaan kesadaran menjadi faktor yang mengikat para kontributor lintas benua dan menjadi pemicu bagi penerbitan buku ini. Keberpihakan para kontributor antologi ini tenta saja tidak bisa diartikan bahwa mereka tidak menyukai Indonesia. Sebab bagi ketiga kontributor tersebut Indonesia masih memiliki masa depan yang lebih baik apa bila semua elemen masyarakat Indonesia peduli bagi perbaikan Tanah Air Indonesia.

 

Buku antologi puisi BM bukanlah karya tulis pertama yang memotret perubahan sosial untuk menjadi sebuah karya sastra. Karya Pramudya Ananta Toer, Koentjaraningrat, Kutowijoyo, Ahmad Thohari, umpamanya bisa dianggap sebagai salah satu contoh dari sekian banyak karya sastra yang mengambil tema sosial yang terjadi di masyarakat sebagai insprirasi bagi proses kreatif. Meskpun demikian, tentu saja karya sastra  berbeda dengan karya sejarah yang secara detil menggambarkan proses terjadinya sebuah peristiwa. Simbol yang dipergunakan dalam sebuah karya sastra merupakan keniscayaan. Inilah yang menjadi pembeda antara sebuah karya sastra dengan sebuah karya sejarah.

Oegstgeest, 28 April 2012

 

 

[1] Disampaikan pada Bedah Buku “Bima Membara” pada tanggal 28 April 2012 jam 13:00-16:00 di Korenbloemlaan 59 2343 VB Oegstgeest, the Netherlands.

 

[2] Mahasiswa Universitas Leiden, the Netherlands

 

[3] Secara geografis Bima terletak di ujung propinsi Nusa Tenggara Barat

 

[4] Edward Soya, “History, Geography, Modernity” dalam Simon During (ed.,) , The Cultural Studies Reader, London and New York: Routledge, 1993, hal. 118.

 

[5] Bima Membara (selanjutnya hanya akan disebut BM), hal. 54

 

[6] BM, hal. 61

 

[7] BM, hal. 63

 
 
 
SHARE
Admin Sumbawanews