Roman : Benteng (I)

Roman : Benteng (I)

SHARE

BAGIAN 1

 

Maafkan aku

Aku  sadar ini akan sangat menyakitkan

Tapi inilah takdir dan aku  tak dapat menolaknya.

Aku  telah menerima lamaran seorang lelaki, dan rencananya dua bulan lagi kami menikah.

Bukan, bukan karena kamu   tidak pantas menjadi pendamping hidupku. Sekali lagi bukan ! Kamu tahu bagaimana besarnya cintaku. Bahkan kamu tentu ingat pula bagaimana seringnya aku bicara tentang pernikahan, mengajak kamu membayang- bayangkan asyiknya kita membangun keluarga , dengan anak- anak kita yang lucu .

Masalahnya, oh, saat ini aku  tidak sanggup  mengungkapkannya. Biarlah besok lusa kuterangkan.

Aku  tidak bisa berharap banyak kamu akan percaya pada apa yang akan kusampaikan, tidak bisa pula bisa meyakinkan  diriku sendiri bahwa aku akan tahan  melihat kau kecewa.

Tapi masih ada keyakinanku  bahwa kamu  tidak akan selamanya  membenci aku setelah tahu aku pun sangat tersiksa.

Sekali lagi, maafkan aku.

Doaku , selalu.

Nur

 

“Munafik !”

Dugg !

Habis memaki, tinju Yar menghantam dinding kamar. Wajah pemuda itu merah padam. Kemarahan, kekecewaan, kepedihan menumbuk- numbuki batinya.

“Jalang ! Penghianat !” Umpatnya  sangar.

Bias kuning pucat matahari senja yang menerobos jendela di hadapan lelaki empat puluhan itu makin mempertegas rona mukanya yang menegang.

Dugg ! Sekali lagi kepalannya menubruk keras dinding tembok  itu.

“Yar, suara apa itu ?!”

Yar menoleh ke pintu yang segera terbuka dan menampakkan emaknya yang menatap dengan tanda tanya.

“Surat dari perempuan lagi ? Kecewakan kamu lagi ?” Meluncur pertanyaan dari bibir perempuan tua itu. Tapi di telinga Yar bukan pertanyaan yang mendarat. Si Emak mengejeknya !

“Emak keluar saja.” Sahut Yar, datar.

Kertas surat yang ia genggam kini diremas- remasnya. Sesaat kemudian sebentuk gumpalan melayang  ke genangan bekas hujan di  halaman samping.

Emak terkekeh. Sinis.

“Kalau bapakmu masih hidup, dia akan akan kecewa sekali melihat turunannya banci.”

“Emak keluar saja.” Balas Yar agak keras.

“Memalukan. Tiap ada masalah dengan perempuan selalu mengurung diri, selalu meninju- ninju tembok  kamar, selalu meratapi nasib …”

“Tolong Emak biarkan saya sendiri !” Sentak Yar lebih  keras, menegaskan ketidaksenangannya pada kalimat- kalimat  yang dilontarkan emaknya.

“Lalu kau maki  tiap perempuan yang mengecewakan itu. Kau salahkan Sumi, Zubaedah, Nur ! Kau pikir tak ada kesalahan pada dirimu sendiri. Kau itu terlena dengan kebesaran diri sendiri, lalu kau angkuh, lalu  seenaknya menghukum orang lain  yang tanpa kau sadari memunculkan kebencian orang- orang padamu.

Tidak ada orang tua yang akan membiarkan anak gadisnya tersisih dari masyarakat karena menjadikan kamu suami !   ”

Tangan Yar gemetar. Mengepal.

“Kau tinjulah dirimu sendiri ! Tinju keangkuhanmu!”

Tajam mata Yar menyorot emaknya. Tapi perempuan itu berbalik dan meninggalkan pintu kamar.

Yar menghempaskan tubuh kurus pendeknya ke dipan. Tapi sebentar, ia bangkit dan berdiri lagi, membuka lemari, mengambil tas besar, memasukkan beberapa potong pakaian, buku- buku, setumpuk kertas, balpoin, laptop dan topi.

Pandangannya terhenti sejenak pada tulisan bordir di kening topi itu. AKHYAR. Di bawahnya, KOMUNITAS SATRAWAN  KIRI.

Selanjutnya dengan langkah bergegas ia tinggalkan rumah.

 

*

            Dering keras hp di atas dipan di samping Yar memecah keheningan kamar rumah panggung kecil itu, keheningan malam bukit tempat berdiri.

            Yar menjangkaunya tanpa melepaskan tatapan ke layar laptop yang sudah dua jam lebih ia hadapi di lantai.

            “Tunggu saja aku di situ !” Serunya gusar begitu hp ia genggam dan dispeaker. Tanpa salam terlebih dahulu.

            “Sorry, Bos. Tinggal Mas Yar yang belum datang sampai saat ini.” Sahut lawan bicaranya. “Sudah kuat indikasi pemkab menyisihkan  anak- anak komunitas dari daftar utusan Lomba Sastra  Kayu Tanam. Teman- teman pengurus sepakat akan mengambil sikap keras. ”

            Yar diam. Sinar lampu balon menyorot bibirnya yang menyunggingkan senyum sinis.

            “Tahu ndak ? Opini bahwa kita kiri sekiri- kirinya sudah dikembangkan betul oleh petinggi- petinggi daerah yang sok cemas itu. Orang- orang  pemerintahan, keamanan, kebudayaan dan elit- elit LSM mulai saling angguk.”

            Yar masih dengan diamnya, dengan sinisnya.

            “Gimana ini ? Tinggalkan kota kecamatan sehari dua hari, datang  ke kota kabupaten, biar kita bisa bahas masalah ini !” Desak suara di seberang.

            Yar justeru matikan hp dan meletakkannya kembali di dipan.

            Alat komunikasi itu berdering lagi. Berulang- ulang. Yar tidak peduli, sampai berhenti sendiri.

            Lolong anjing dari arah hutan belakang rumah dan ting tong jam di dinding hampir bersamaan mengisi sepi. Pukul tiga lebih.

            Yar bangkit, membuka jendela. Udara dingin segera menyergap tubuhnya.

Pandangan Yar melayang ke angkasa. Kosong, beradu  gelap citra langit. Pelan- pelan gerimis menegas dalam kabut. Tempias disapu angin musim penghujan yang menderas. Tempias ke wajah wajah pemuda itu. Guruh dalam batinnya.

Digeleng- gelengkan kepalanya, mencoba  mengusir kehampaan yang memuncak.  Tapi seperti sudah- sudah, kehampaan itu tetap tinggal dan mendera batinnya.  Ujungnya ia cuma bisa mendesah.

            Yar merasa jiwa dan tubuhnya begitu  lemah sejak menerima surat putus dari Nur, empat hari lalu.

            Gadis itu, yang begitu ia yakini kesetiaannya,  pada akhirnya menambah pula daftar  kekalahan buatnya. Kekalahan dalam  meraih cinta sungguh- sungguh, kekalahan dalam perjuangannya menunjukkan diri sebagai lelaki yang  dianggap oleh perempuan, dari saat ia bukan  apa- apa di mata orang hingga setelah ia menjadi penyair dan wartawan ternama. 

            “Semua sama munafiknya.” Sentak hati Yar.

Semuanya  menilai hubungan sebatas enaknya di pikiran dan perasaan mereka sendiri….

Aku dinilai  angkuh ? Apa definisi angkuh itu ? Tampilan kesombongan, ketidakramahan, ketidakakraban,  ketidakpedulian pada pikiran, perasaan dan keinginan  orang lain, berdasar kebesaran  diri, keakuan, egosentrisme ?  Baik, aku iyakan saja.  Aku yang hari ini telah menjadi penyair ternama dan wartawan  disegani,  melangkah dengan muka tegak lurus ke depan di tengah- tengah alam kota kecamatan ini dan manusia- manusianya,  membanggakan  bayang- bayang diriku sendiri yang menguasai penjuru. Kenapa tidak ? Bukankah wajah- wajar saja aku ingin menunjukkan kegemilangan diri  kepada kecamatan ini  dan manusia- manusianya yang dulu merendahkan aku dan keluargaku?

Kebesaranku, keangkuhanku telah membuat aku  menghukum orang seenakku sendiri ? Orang- orang membenci aku ?  Ya, ya, aku sadari itu. Aku sadari  kebencian orang-orang sok berkuasa kecamatan, pejabat –pejabat kecamatan, pejabat- pejabat kabupaten  yang terus- terusan dan akan  selalu aku tikam dengan belati sajak dan beritaku. Bukankah itu yang seharusnya kulakukan ?  Inilah perlawananku, perlawanan yang mestinya juga dilakukan penyair lain, wartawan lain , orang- orang lain dengan apa yang ada pada mereka,  terhadap  suasana – suasana busuk negeri ini, terhadap siapa pun, apakah itu warga biasa yang menekan warga lain karena kelebihan pada dirinya  maupun pejabat- pejabat yang memunculkan kebusukan dengan tingkah pola mereka yang keranjingan bermain  di balik aturan, perda, undang- undang ! Tak terasakah oleh Emak, betapa lembaga- lembaga pemerintah telah menjadi kandang serigala,  yang pernah  juga memburu  beliau dan  Bapak di ladangnya hingga harus berkali- kali berpindah, membuka kembali lahan baru di atas kenangan menyakitkan ladang lamanya yang siap panen tapi diratakan eskavator  kontraktor pertambakan ?   Rasa keadilan orang- orang tak berdaya, orang- orang miskin, pedagang kaki lima, kaum buruh, para petani kecil yang dicabik- cabik dalam ketidakberdayaan  dengan kekuatan cakar serta aturan rimba yang dibuat- buat  dalam lembaga itu ! Hei, inilah  semangat pemberontakan,   yang memang kubiarkan berkembang, agar mereka, orang- orang yang kulawan itu sadar bahwa di tengah rimba yang mereka cipta telah muncul kupu- kupu mutan, yang kecil,  yang dipandang tak berdaya, namun berurat daging  baja, dengan sayap- sayap yang dapat menjelma pedang- pedang  tajam,  yang mampu mengiris  hati sombong  mereka dan  mencacah  jantung- jantung  keserigalaan mereka.

Duh,  tidakkah pacar- pacarku, orang tua dan keluarga mereka mengamini dan menghargai ketidakangkuhanku  terhadap mereka ! Aku penurut, lebih banyak mengalah pada mereka,  dan  mereka katakan sendiri aku lelaki yang pandai memanjakan perempuan sekaligus pintar mengambil hati orang tua dan keluarga mereka !

Mereka takut akan dijauhi orang- orang karena menjadikan aku suami, menantu  seorang pemberontak ?  Nampaknya baru namaku yang digurat angin  sebagai  mujahid di bentang padang  jihad sosial negeri ini.

Ah, keangkuhanku, siapa pun tak tahu riwayatnya, bagaimana kelahirannya, bagaimana ia   telah berjasa besar membuat aku merasa berharga di hadapan segala yang membuat aku dan keluargaku kalah di masa lalu. Termasuk di hadapan Ani, orang yang dulu pertama kali menendang aku masuk kubangan tinja !-

 

 

**

 

IDENTITAS PENULIS

 

 

Nama lengkap             : Muhammad Thamrin, SP.

Nama dalam karya      : Yin Ude

Tempat tanggal lahir   : Empang, 1 Januari 1978

Agama                         : Islam

Pekerjaan                     : Swasta

Alamat                                    : RT. 01/ 01 Desa Empang Bawa Kecamatan Empang

                                      Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia

                                      No. HP : 087863633194

                                      Email : 78empang@gmail.com

Pengalaman karya       :

  1. Puisi, cerpen, artikel seni budaya, sosial, politik termuat di media lokal Sumbawa dan media luar Sumbawa (Harian Umum Gaung Sumbawa, Lombok Post, Majalah Gema Mahasiswa Yogyakarta)
  2. Kumpulan Puisi Introduksi, 2006, penerbit Rumah Sastra Karang Tanyung Kecamatan Empang
  3. Buku Biografi Ketika Kelabu Ketika Biru, 2011, penerbit oleh Rumah Sastra Karang Tanyung Kecamatan Empang
  4. Mendirikan dan mengelola Rumah Sastra Karang Tanyung Kecamatan Empang, 2006

Mengelola Buletin Sastra Remaja Podium, 2009

 

 

SHARE
Admin Sumbawanews