Roman: Benteng (3)

Roman: Benteng (3)

SHARE

 

BAGIAN 3

 

Yar terus  larut dalam  alun jiwanya  di ambang jendela rumah bukit itu. Belum ada niatnya untuk tidur kendati ting tong jam dinding kembali menumbuk telinganya, memberitakan pukul setengah lima dinihari. Penyakit biasanya, susah ngantuk.

Matanya menyorot ke timur. Agak jauh, berbatasan dengan sungai, ada sebuah rumah yang tingkat duanya menyembul di antara bangunan sekitarnya. Samar- samar nyala lampu.

            Darahnya  berdesir.

            Nur, gadis yang ia kutuk,   ada di salah satu kamar tingkat dua itu.

“Sedang apa perempuan jalang itu di kamarnya ?” Tanya batinnya.

 Sedang tidur ? Mimpi malam pertama yang indah ? Sedang mematut- matut diri di depan cermin, mempersiapkan wajah dan tubuhnya untuk hari pernikahan ? Atau, sedang tertawa sendiri, menertawai aku yang begitu mudah ia putuskan, begitu mudah ia kadali demi mengejar cinta seorang pemuda, teman gurunya  ?

Benar- benar munafik !  Ia tendang pendiriannya sendiri demi laki- laki itu !

            Terbentang suasana lampau dalam ingatan Yar.  Suasana ketika ia dan Nur sama- sama siswa kelas dua SMA. Nur memaksanya ikut bolos sekolah dan bersembunyi di kebun jambu samping rumah gadis itu.

            “Nanti kalau sudah waktunya, kamu mau kawin dengan perempuan macam mana, Yar ?” Tanya Nur sambil menatap lekat Yar yang sedang membersihkan telapak sepatunya yang dipenuhi lempung.

            Yang ditanya menghentikan kegiatannya. Raut wajahnya menampakkan keterkejutan menerima pertanyaan itu. Tak sekali pun ia memikirkan masa depannya dari segi itu. Pacaran pun ia tidak pernah. Tapi sejenak saja, ia yakin Nur  cuma sedang  keluar asal- asalannya untuk mengisi suasana yang memang sesaat kosong obrolan. Nur orangnya ceplas ceplos, bicaranya kadang sekenanya.

            “Aku serius !” Seru gadis itu. Mukanya menegaskan apa yang ia ucapkan.

            Yar diam, tak tahu bagaimana menjawab.

            “Kalau aku, aku mau kawin dengan lelaki aktivis,  lelaki yang punya jiwa pemberontak.”

            Dahi Yar berkerut mendengar kalimat terakhir yang meluncur dari bibir tipis temannya itu. “Jiwa pemberontak ?” Tanyanya. Tidak mengerti.

            “Ya, lelaki yang berani berontak terhadap tingkah pola dan aturan pemerintah yang busuk,   yang membuat rakyat tertekan, tertindas, jadi sapi perah.” Ucapnya kemudian, sungguh- sungguh.

Yar tertawa. Ia menganggap Nur mengada- ada.

“Kenapa ?” Sentak  Nur, tersinggung.

 “Memang ada pemuda sini yang  bisa seperti itu ?” Balas Yar masih dengan ketawanya.

            Nur diam. Dia sedikit terpojok.

            “Kalau tidak pemuda sini, pemuda dari luar, kenapa tidak ?” Jawabnya tak mau kalah.

            Yar menggeleng- geleng. “Kamu berlebihan.” Ujarnya pelan. “Tidak mudah melawan tingkah pola dan aturan pemerintah yang berkuasa. Ujung- ujungnya bukan tingkah pola dan  aturan itu yang kalah, melainkan yang melawan itu yang musnah.”

            “Pikiran begini, pikiran apatis seperti pikiran kamu ini yang menjadikan tingkah pola dan aturan buruk pemerintah  berkembang terus, mengabaikan rasa keadilan rakyat selamanya!” Sambar Nur dengan emosi yang tiba- tiba meledak.

            “Lihat sekitar kamu, lihat bagaimana pemerintah menggusur para pedagang kecil di sepanjang jalur pasar tanpa ada ganti rugi dan kejelasan pemindahan cuma karena  mau menata kota. Perhatikan bagaimana ladang- ladang  pesisir yang sudah puluhan tahun digarap rakyat, diambil alih semaunya oleh pemerintah untuk proyek besar pertambakan. SPPT tak dianggap, kesepakatan uang pembebasan dibuat menguntungkan pemerintah. Dibayarkan dengan cara berbelit- belit, diecer- ecer pula. Janji pemberdayaan tenaga kerja lokal hanya janji !” Sambungnya berapi- api.

            “He,Yar,  bukankah  salah satu ladang yang dirampok itu adalah ladang bapakmu juga? Takkah kau rasa susahnya orang tuamu kehilangan sumber penghidupan ?”

            Yar tidak menampakkan reaksi apa pun. Mukanya ditolehkan ke arah lain. Nur merasa dilecehkan.

            “Kalau kamu mau jujur, kamu akan memaki- maki polisi dan petugas kehutanan yang  menangkap Pak Hamid gara- gara  membeli tiga belas batang usuk untuk bangunan rumah,  sementara aparat itu  meloloskan enam  truk pengangkut kayu yang di dalamnya ada sisipan kayu tanpa surat, setelah masing- masing aparat diberi jatah lima ratus ribu oleh pengusaha pemilik kayu itu. Bapakku dan dua temannya dituduh mencemarkan nama baik aparat karena mengungkit persoalan ini. Bukti dan saksi tidak dianggap kuat oleh pejabat- pejabat kabupaten.” Cecarnya. “Mungkin termasuk kamu juga di antara warga kota kecamatan ini yang memperhatikan semua kebusukan itu dengan tanpa perasaan. Tapi aku tidak. Aku ingin mengajarkan diriku untuk mau  mencerca.”

            Hening sesaat. Kedua remaja itu tenggelam dalam pikirannya masing- masing.

            “Kalau kamu memberi kesempatan sedikit pada hati nurani,  kamu akan lebih banyak menemukan tingkah pola dan aturan pemerintah serta aparat- aparatnya yang akan membuat batinmu menjerit gelisah. Aku yakin kamu bisa, sebab kamu temanku yang cerdas.” Ucap Nur memecah suasana.

            “Siapa yang ajari kamu ?” Sambut Yar melunak.

            “Bapakku, setiap saat. Kamu tahu kan, beliau orang LSM ? Cuma sayang sedikit sekali warga yang mendukung beliau. Orang- orang sini mengangggap bapakku cari- cari kerjaan, ingin populer, dan sadisnya memfitnah beliau cari jalan untuk dapat jatah dari proyek pemerintah. ”

            Usai menjawab gadis itu bangkit, menepuk- nepuk pantatnya yang dilekati daunan kering. Tatapannya lekat ke muka Yar.

            “Cobalah latih diri untuk peduli pada keburukan- keburukan di sekitar. Paling tidak itu akan bikin kamu lebih bisa memberi harga pada dirimu sendiri.” Sarannya.

            Yar masih tidak berucap sepatah kata pun.

            “Dan siapa tahu kamu bisa masuk dalam daftar calon suami yang kumau.”

            “Sialan !” Seru Yar merasa diejek.

            Nur tertawa tergelak- gelak.

            “Jangan ketawa keras begitu. Tidak baik sebagai perempuan.” Sela Yar, serius.

            “Siapa peduli.” Sungut Nur.

            “Ayo ke rumah. Cepat sedikit, aku lapar.” Ajaknya seraya menarik tangan Yar.

            Yar bangun dari duduknya.

            “Banyak tanah di pantatmu.” Seru Nur. Sejurus ia tepuk- tepuk pantat temannya itu.

Yar  berusaha mengelak karena risih.

            “Alaa, pakai malu segala !”

            Yar mengambil sikap tidak peduli dan mencoba melepaskan tangannya yang digenggam gadis itu. Tapi Si gadis ingin menggoda. Ia balas mempererat pegangannnya.

            “Lepaskan. Malu dilihat orang.” Pinta Yar.

            “Ndak.” Balas Nur.

            “Lepaskan !”

            “Aku cium kamu !”

            Yar mendelik, pura- pura marah, sebab ia tahu itu cuma ancaman main- main Nur yang biasa ia terima kalau gadis itu sedang ingin menggodanya.

            “Ndak percaya kalau aku akan cium kamu ?”

            “Coba saja kalau berani !” Tantang Yar.

            Tapi kali ini Nur tidak  cuma main- main. Sebelum Yar bisa menghindar, kecupan gadis itu sudah mendarat di pipinya. Dua kali.

            Kontan saja muka Yar memerah.

            Nur tertawa, tergelak- tergelak lagi sambil menarik tangan Yar untuk meninggalkan kebun itu ….

            Yar tersentak. Terawangannya buyar oleh hp yang  berdering lagi.

            Yar balikkan badan, melangkah ke dipan. Jari telunjuknya menekan tombol pemutus panggilan.

 Ketika ia kembali berdiri di jendela, ia putuskan untuk mengusir sudah bayang- bayang Nur. Ia berusaha mengalihkan perhatian ke arah lain, pada  hamparan lampu, hamparan atap rumah  samar- samar  di bawah bukit.

            Kota kecamatan.  Kota yang luas, atau lebih tepatnya hamparan  desa luas yang telah disergap perubahan- perubahan berciri kota. Rumah dan aneka bangunan bergaya modern memadat, menjulang berselisih dengan gugusan pertokoan, deretan kantor, sebuah pusat perbelanjaan, gedung- gedung hiburan, menara- menara transmisi ponsel, pabrik- pabrik. Blok- blok jalan lengang penuh lampion warna- warni dan dipagari  papan- papan baliho raksasa.  Baliho para caleg. Di dalam rumah, di dalam bangunan- bangunan itu, sedang lelap tentunya manusia- manusia, pada penduduk yang ribuan  jiwa mengistirahatkan diri sebentar dari tingkah pola hidup seharian.

            Pikiran Yar mencoba memetakan letak rumahnya. Dapat. Sebuah rumah batu lumayan besar di tengah kota, langkah tujuh rumah ke arah utara menara ponsel berkonstruksi segi tiga, dekat kantor camat, dekat lapangan bola yang sedang diubah oleh pemerintah kecamatan menjadi taman kota.

            ”Wuih, taman kota ….” Gumamnya dengan hati melecehkan.

 Siapa yang akan menikmati keindahannya ? Siapa yang akan duduk santai dan bercengkerama melepas kepenatan ? Bukankah orang- orang lagi keasyikan berenang dalam arus transisinya dari masyarakat tradisional agraris ke masyarakat mapan  yang kapitalistis ? Bukahkah sungai kapitalisme  sedang hangat- hangatnya dan tiap jiwa nyaman di sana ? Atau, berharap bunga- bunga diciumi, teduh pepohonan dinikmati 40% warga miskin ? Mereka tak butuh hiburan. Mereka risih pula memperjelas diri mencari hiburan. Mereka perlu makan dan jaminan kesejahteraan,  jaminan minyak tanah tidak langka dan harganya stabil, jaminan BLT merata serta para ketua RT tidak seenaknya memilah milih penerima sesuai kemauan hatinya,    jaminan anak- anak sekolah dengan perasaan tak dikucilkan. Daerah ini  sudah jadi kota dimana penghidupan kian berat dalam persaingan ! Anak TK saja sudah pandai membanding- bandingkan  besarnya deposito bapaknya di bank, bahkan sampai mahalnya  harga kerudung  emaknya !

            “Emak belum tidur, paling sedang tahajud.” Terka  batin Yar saat tatapannya terhenti di atap rumahnya.

            Sejak kematian suaminya dua tahun silam perempuan itu selalu bangun larut malam untuk tahajud. Setelah itu duduk sendiri di serambi tanpa kerjaan menentu. Kadang menyulam, kadang sekedar membaca buku agama, kadang pula cuma termenung. Yar bisa menangkap bahwa pekerjaan menyulam atau membaca  itu hanya tipuan emaknya  agar terhindar dari pertanyaan kenapa lama tidur atau desakan Yar supaya jangan keseringan ‘begadang’. Yar tahu emaknya tertekan.

            “Sudah, jangan urus aku ?! Kamu urus saja dirimu sendiri !” Begitu bantahan Emak, selalu.

            Emak telah berubah menjadi tertutup dan keras.

            Yar menghela nafas, menekan aliran kepedihan yang menjalari  dadanya. Tapi kepedihan itu  justeru semakin kuat menjalar, membelit- belit perasaannya.

Yar terhempas kembali di kaki bayang- bayang masa lalu, di  muram suasana malam saat sendirian di dangau ladang, saat kehampaan menyergap jiwanya, saat ia  cuma bisa menghayal, merenungi  riwayat cintanya, hidupnya.

Ia dengan latar orang tua  yang  cuma peladang miskin   bukanlah tipe cowok idaman, cowok rebutan di tengah dunia muda mudi yang sudah semakin menguatkan sahihnya kriteria  mapan, tajir, minimal bermotor kren, sederet kriteria yang dipelajari  dari sinetron, yang diamini dari promosi iklan dan berjuta ribu tayangan televisi. Dia, walau pun tidak terang- terangan disebut para muda- mudi, layaknya  ‘jadi umpan hiu, di laut !’

Ia  tak punya peluang mendapatkan pacar.    

Dalam kemalangan yang disaksikan bulan, bintang  dan mungkin ditertawai angin ladang, ia  menemukan pelampiasan ;  menulis. Menulis kalimat- kalimat apa saja. Pokoknya kalimat yang bisa mengencerkan gumpalan- gumpalan yang menyesaki dadanya. Untuk itu  sengaja ia siapkan beberapa buah buku tulis kosong di bawah bantalnya.

Berhasil. Ada ketenangan yang ia rasakan  tiap kali menulis.

Ia  keranjingan.

Ia suka berulang- ulang membaca rangkaian- rangkaian kalimat yang ditulisnya, yang kerap ia alami  jadi berkembang indah.

Lalu kembang- kembang itu kian banyak, kian menumpuk dan memenuhi bukunya.

Lalu kembang- kembang itu kian berkembang- kembang warnanya,  dari sekedar kekecewaan,  anti Ani, anti Nur, anti perempuan, anti televisi, anti sinetron,  sampai protes pada kelahirannya,  balas dendam pada dunia, keangkuhan,  keakuan,  dan semangat hidup.

Yar terbuai.

Pelahan ia arahkan pikiran dan perasaannya  untuk mengurung kata- kata yang terangkai ke dalam satu bentuk teratur.  Bentuk sajak.

Dua tiga bulan, sejalan dengan usia tanaman tanaman sayur- sayurannya, puluhan sajak  pelampiasan mampu ia jelmakan, mampu mewakilkan secara sempurna segala apa yang  meriak, berombak dan mengguruh dalam otak dan hatinya.

Yar  temukan dirinya sedang  berada dalam suatu suasana baru, suasana puitis, suasana terpuaskan dengan puisi. Dipermainkan jiwanya oleh khayalan lahirnya beribu- ribu sajak  indah dari tangannya. 

Dia  girang, teramat sangat girang. Dikipas- kipasi  oleh  kesadaran adanya sesuatu yang  manis, yang bisa ia perbuat untuk mengisi kekosongan rasa. Ia  kian bersemangat, teramat sangat bersemangat, dicambuk- cambuki kesadaran tentang sesuatu yang  terpendam pula dalam dirinya ;  bakat,  dan bakat itu  sedang berseru tak henti mendesaknya  untuk membuka jalan muncul  lebar- lebar.

Suatu ketika Yar mulai berpikir tentang membanggakan karya dan dirinya  sebagai orang  yang hebat menulis sajak pada orang lain. Tapi pada siapa ? Bapak dan emaknya ? Teman- temannya ? Bapaknya, emaknya, teman- temannya, sekalian orang kecamatan tak ada yang bisa diharapkan untuk mau diajak berepot- repot membaca sajak, bicara tentang sajak. Paling bapak dan emaknya akan berkata, “Sajak ? Sudah berapa kali sayuranmu dipupuk  bulan ini ?” Teman- temannya dan orang- orang  akan sekedar mengangguk- angguk tidak jelas atau fatalnya mengejek, “Wah sekarang ada penyair di kota kita, ya ?” Bikin sakit hati  saja, begitu    kesimpulannya.  

Mungkin lewat koran, pikir lelaki itu. Tetapi kecemasan menyeruak pula, menanyainya tentang kelayakan.

Demikianlah akhirnya  kecemasan  itu mendorong Yar untuk mencari puisi- puisi  pembanding, mempelajari cara- cara berkarya penyair ternama. Ia  jadi tertarik membaca, membaca apa saja, majalah, koran, yang ada puisi, yang  ada ulasan sastra,  yang ada riwayat berkarya penyair dan sastrawan. Bapak dan emaknya  ngomel- ngomel ketika empat buku antologi puisi dan satu buku teknik menulis sastra ia  beli dari hasil  penjualan cabe dan terong.

 “Seorang penyair,  jika ingin karyanya menonjol dan sekaligus diterima oleh pembaca sastra, ia harus  terus menerus meningkatkan kualitas karya dengan sungguh- sungguh mendalami teknik penulisan sastra, yang diterapkan dalam latihan yang tak henti.” Kata salah seorang penyair dalam buku yang ia baca.

“Sajak yang baik dan penyair yang baik untuk jaman kini, jaman penindasan dan kesewenang- wenangan, era homo homini lupus dalam berbagai bentuk, dimana setiap manusia yang jadi korban haus pembelaan,  adalah sajak dan penyair yang bisa menjelmakan dirinya sebagai  cermin dunia dan kehidupan, tempat semua orang bisa menemukan  dirinya terutama,  orang lain dan apa saja dalam setiap keadaan di seluruh penjuru  mereka. Tempat teriakan- teriakan mereka, jeritan- jeritan mereka, tangisan- tangisan mereka, pertengkaran, peperangan, cengkerama, tawa dan  kebahagiaan mereka terefleksi secara utuh dan jujur.  Sebelum pada akhirnya, sajak dan penyair itu menyeka air mata dan darah yang meleleh  dengan empati paling tulus, sekalian maju ke depan  menghunus pedang untuk memimpin pemberontakan,  ikut menari  ketika meraup kemenangan dan merasai kelucuan mengejek pihak- pihak yang kehilangan bendera dan kursi kemaharajaan ….”  Ujar seorang penyair lagi.

Ini kalimat- kalimat nasehat yang  ia tulis  besar- besar di dinding dangau dengan arang perapian, yang membuat ia   sangat terkesan, hingga dijadikannya  tetapan belajar, berlatih dan berkarya lebih serius. Tetapan yang kemudian melarutkan Yar  dalam perhatian khusus pada keluhan petani tentang harga pupuk, penggusuran pedagang kecil untuk tujuan keindahan kota,  tengkulak yang menyita sepetak sawah karena pemiliknya tak mampu melunasi hutang,  seorang siswa SMA  ditangguhkan  keikutsertaannya dalam ulangan semester  karena bapaknya belum membayar uang komite,  gemericik air  pancuran dikitari burung- burung, bunga- bunga liar di pematang …, hal- hal lain di sekitarnya  yang menempatkan orang lain dan apa saja dalam setiap keadaan di seluruh penjuru mereka untuk masuk dalam ‘cermin’ yang ia cipta.

“Satu lagi, jangan takut karya Anda ditolak penerbit !” Pesan penyair lain.

            Yar  memberanikan diri mengirim karya ke penerbitan. Buahnya, nyaris tak pernah ditolak, sajak- sajaknya   bermunculan di berbagai koran  lokal. Yar  tak peduli kendati  tak pernah menerima imbalan, sebab ia   paham juga  dengan keadaan media lokal kabupaten yang tidak bisa bicara apa pun tentang penghargaan material bagi tulisan yang masuk. Yang penting sajak dan nama, kata batinnya  saat itu, tak ingin terpengaruh bayang- bayang uang.

            Empat  tahun berjalan, semakin sering Yar  mempublikasikan sajak- sajaknya  di berbagai media cetak. Semakin ia  yakini bahwa torehan balpoinnya  berhasil dan akan selalu  berhasil.

Lima enam  tahun kemudian namanya  mulai berkibar di majalah- majalah sastra luar daerah. Bersamaan dengan keberhasilannya menjadi pemenang dalam dua tiga lomba penulisan sastra yang diselenggarakan komunitas sastra propinsi dan nasional.

            Lima  puluh sajak terbaiknya  tentang penderitaan dan keluhan kaum tani diterbitkan dalam bentuk buku, dengan catatan khusus kritisi : sebuah buku yang menjadi wadah air mata petani yang kelaparan di lahan miliknya sendiri.

            Dua  tahun berikutnya Yar   termasuk penyumbang lima belas judul sajak dalam buku antologi bersama dengan beberapa penyair Indonesia yang bertajuk ’Pergerakan Kata- kata’. Pada tahun itu juga dia  dinobatkan sebagai salah satu Penyair Indonesia Angkatan 2000. Efeknya Yar bolak balik ke luar daerah, ke kota- kota besar dalam negeri bahkan Kuala Lumpur  dan Singapur untuk memenuhi undangan pembacaan sajak, musyawarah atau kongres sastra dan berbagai kegiatan kesusasteraan lainnya. Penulis muda itu  pun pernah dihadiahi kesempatan ikut serta dalam Lawatan Sastrawan Dunia yang bertema  Perdamaian   Barat dan Timur dalam Sastra ke berbagai negara ; Arab, Libanon, Pakistan, Inggris, Perancis,  Jerman,  Italia. Di akhir lawatan ia ikut kemah seminggu bersama di Lereng Gunung Matternhorn- Swiss, sebagai penghargaan ekstra panitia yang  mendapat tiket gratis promosi  ’Wisata  Musim Panas Gunung Matterhorn’ dari Pemerintah Swiss.-

 

 

 

*

 

 

IDENTITAS PENULIS

 

 

Nama lengkap             : Muhammad Thamrin, SP.

Nama dalam karya      : Yin Ude

Tempat tanggal lahir   : Empang, 1 Januari 1978

Agama                         : Islam

Pekerjaan                     : Swasta

Alamat                                    : RT. 01/ 01 Desa Empang Bawa Kecamatan Empang

                                      Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia

                                      No. HP : 087863633194

                                      Email : 78empang@gmail.com

Pengalaman karya       :

  1. Puisi, cerpen, artikel seni budaya, sosial, politik termuat di media lokal Sumbawa dan media luar Sumbawa (Harian Umum Gaung Sumbawa, Lombok Post, Majalah Gema Mahasiswa Yogyakarta)
  2. Kumpulan Puisi Introduksi, 2006, penerbit Rumah Sastra Karang Tanyung Kecamatan Empang
  3. Buku Biografi Ketika Kelabu Ketika Biru, 2011, penerbit oleh Rumah Sastra Karang Tanyung Kecamatan Empang
  4. Mendirikan dan mengelola Rumah Sastra Karang Tanyung Kecamatan Empang, 2006 Mengelola Buletin Sastra Remaja Podium, 2009

 

SHARE
Admin Sumbawanews