R a z i a C a d a r

R a z i a C a d a r

SHARE

R a z i a  C a d a r

Kispen
Oleh
A.Kohar Ibrahim

SUARA sirene melengking bising dari segala penjuru menuju sudut simpang jalan itu. Sekitar deretan gedung rapih dan bersih warna warni merah putih biru hijau kelabu. Dia yang sedang sibuk khusuk memeriksa gentong sampah cepat terciduk . Tak sebentar pun kesempatan menoleh apa pula kabur menghindar suasana tegang di seputar Kawasan Indah itu.

Pencidukan yang dilakukan oleh Aparat Negara yang begitu cepat begitu sigap itu secara praktis sebenarnya adalah pembekukan atas seseorang. Si Dia yang bertubuh ramping dibekuk oleh tiga anggota polisi bersenjata api bertubuh tegap-tegap. Maka Dia pun tak sedetik mampu berkutik. Begitu dibekuk, lantas diborgol dan dijebloskan ke dalam mobil minibus lapis waja warna hitam. Sedangkan ransel besar milik pribadinya dirampas dan dimasukkan ke dalam mobil berlapis waja lainnya, begitu usai dilakukan pendeteksian dengan alat anti-ledakan.

Minibus hitam lapis waja yang mengangkutnya itu terbagi tiga ruang: di depan untuk sopir dan dua orang pengawal. Di tengah:  ruang lebar untuk delapan orang – semua nampaknya kaum perempuan mengenakan busana penutup tubuh dari kepala sampai kaki yang tersebut cadar. Lantas ruang kecil hanya untuk dua orang berhadap-hadapan: dia dan polisi yang barusan merenggut peci-kedok-nya yang sepintas lalu nampaknya seperti cadar pula.

“Yang satu ini istimewa,” ujar sang Polisi yang barusan merenggut kedoknya dengan nada bangga dan senang seperti akan menerima hadiah gadang. Sebangga juga menggunakan ponsel blakberi-nya, melanjutkan laporan: “Si  Dia ini ternyata… kumisan!”  Meliriknya sejenak,  lantas: “Opini Bigboss Sharmozy memang jitu: Cadar Incar! This one is really, really true : In fact she is a man, Man ! »

Polisi dengan ponsel blakberi-nya itu senyum girang nyaris tawa sembari melontar pandang yang meremehkannya, seperti bilang: “Sapa takut elu…!” Dan Si Dia yang memang ternyata lelaki muda berkumis itu pun nyaris mesem sembari mengkerutkan keningnya. Dari cerocosan obrolan laporan sang Polisi via ponsel pada rekannya yang entah dimana – di mobil mobil lapis waja lainnya ataukah di kantornya – Si Dia Kumisan itu berupaya memahami situasi. Bahwa dewasa ini, ternyata di beberapa penjuru dunia, seperti di Paris, Brussel, Amsterdam, Berlin, Kopenhagen, Moskow, Hirosima dan Nagasaki bahkan Ibukota Jayakarta, orang yang mengenakan busana burka sedang jadi incaran sekalian jadi soal yang menimbulkan kehebohan. Diincar bahkan ditangkap dan dikenakan denda seperti kejadian di Paris. Atau juga diincar ditangkap dianggap sebagai teroris. Seperti yang dialaminya sendiri ?

Begitulah. Setelah via ponsel blakberi ngobrol lapor sembari senyum nyaris tawa, sang Polisi lantas mengubah nada suara menjadi angker dalam menginterogasinya. Pasalnya, yang dipertanyakan langsung bersangkutan soal keamanan :  soal teroris. Akan tetapi, dia tenang-santai saja dalam menjawab semua pertanyaan dari A sampai Z. Dari mulai soal nama dan tanggal serta tempat kelahiran ; dari soal sekolahan sampai soal pekerjaan atau profesi yang dijalaninya. Semuanya dijawab dengan tenang bahkan kadang dengan nada olok-olok sarat gaya sinis, balik bertanya. Membikin sang interogator itu jengkel teriring ngakak sinis pula: “Hahaha…! Ngaku sekolah tinggi, sarjana lagi. Sarjana tamatan Kabul, yah? Teroris bedebah! Pengecut! Pakai cadar segala…!”

Si Dia Kumisan itu sejenak pejamkan mata, menarik nafas panjang menahan kesabaran. Betapa sakit menerima makian dari Polisi yang berprilaku seperti preman yang pongah itu sekalian ejekan yang menapik pendidikan yang pernah diterimanya hingga tamat sebagai sarjana. Oh, akankah sang Polisi itu juga berani menghinakan kaum sarjana yang cukup banyak jadi pengangguran? Para sarjana yang sambil menunggu dapat kesempatan yang baik, bekerja apa saja asal dapat rezki yang halal – seperti jadi supir angkot atau oyek,  bahkan jadi pemulung seperti dirinya sendiri. Seperti yang dilakukannya itu. Di Kawasan Indah orang-orang kaya dan wisma diplomat internasional? Sialnya, bukan hanya sial atau terpaksa melakukan kegiatan mengais tong sampah itu, tapi malah terciduk dalam razia yang dilancarkan pasukan bersenjata anti-teroris!

Ketika sampai di Markas Besar Polisi, kaum perempuan yang bercador mengisi ruangan tersendiri, sedangkan si Dia Kumisan bersama sejumlah kaum lelaki hasil tangkapan lainnya. Dan ketika kembali diinterogasi, jawaban atas semua pertanyaanpun diulanginya, malah dengan sungguh-sungguh dia minta bantuan Pengacara dari Biro Bantuan Hukum untuk menangani kasusnya.

Dan pula, ketika ditanya kenapa sebagai “pemulung” dia mengenakan kedok macam cadar, dia ngaku terus terang: Apa salahnya cari rezki asal halal. Sedangkan soal menutup tubuh hanya sepasang mata yang tampak, itu supaya tidak diketahui oleh orang-orang yang mengenal siapa dia sebenarnya.

Akhirnya, setelah menghuni Hotel Prodeo selama duapuluh empat jam, Si Dia Kumisan  itu diperbolehkan pulang ke rumah. Dengan hanya dibekali secarik kertas:  Bebas dari GTI (gerakan teroris internasional). Litsus.

Persis di depan pintu gerbang Markas Besar dia berhenti melangkah sejenak, membacakan Surat Bebas itu dihadapan Pengacara yang membantunya. Seketika ketawanya meledak. Ngakak. ***

Mai 2010.

Catatan: Naskah Razia Cadar disiar Facebook, ABE-Kreasi Multiply Site 7 Mai 2010. http://16j42.multiply.com/journal/item/515/
Biodata A.Kohar Ibrahim: http://16j42.multiply.com/links/items/120/
Kumpulan Kumpulan Tulisan: http://16j42.multiply.com/journal/item/494/

SHARE
Admin Sumbawanews