Mencari Negara, Lewat Buku “Jahipuba”

Mencari Negara, Lewat Buku “Jahipuba”

SHARE

Oleh: Zainuddin

Bangsa ini berdiri atas eksistensinya beberapa kerajaan masa lalu. Didalamnya terdapat nilai luhur mengajarkan rakyat tentang tata cara, bersikap dalam perbuatan yang jauh dari nilai egoisme, menjunjung rasa kebersamaan dalam  wadah gotong  royong.

Maka berdirilah Negara Kesatuan Republik Indonesia, terkenal berbudaya, sopan santun dan melawan segala  bentuk kemunafikan. Kilas itu terjadi pada masa lalu. Kini setelah kerajaan tidak lagi berdaulat di wilayahnya (baca: negara) Indonesia seakan murka pada kepribadiannya.

Simbol masa lalu itu, kini dirajut kembali oleh sosok wanita tangguh, pantang menyerah, mengembalikan roh negara melalui deklarasinya dalam buku Jahipuba (Jalan Hidup Putri Bangsawan) Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Ayu Koes Indriyah. Berbuat, adalah sebuah kata yang selalu diucapkan dalam menyelesaikan masalah sesulit apapun.

Perjalanan hidupnya dinikmati dalam kisi-kisi waktu, menempa pribadinya dalam situasi menguasai keadaan bukan karena dia seorang bangsawan Keraton Surakarta Hadiningrat harus hidup mewah dan berkecukupan, malah sebaliknya. Situasi yang menyapanya mencicipi pahitnya kehidupan, ketika itu Indonesia merdeka, ia merasakan kehidupan yang  dirasakan orang lain, Tuhan mendekatkan diri, menyapa seorang Putri Raja dalam Kemurahan-Nya.

Di mata AM Fatwa, Keluarga  Keraton Surakarta Hadiningrat, ia diberi gelar Mempertahankan Stabilitas Negara yang menjadikan kenangan khusus baginya di  Keraton Surakarta, itu disuarakan pada Kamis  malam (22/11/2012) di Komplek Parlemen Senayan Jakarta, pada pelelangan buku Jahipuba Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Ayu Koes Indriyah.

Menpan Perindustrian, Moh Sulaiman Hidayat, melihat dari perjalan hidup GKR Ayu Koes Indriyah, menegaskan tentang keperkasaan perempuan Indonesia. Tak mudah menyerah, bahkan meski dengan kapasitasnya sebagai seorang putri bangsawan.

Sebagai putri seorang raja, dia tak ingin  menyerah meski harus hidup dalam kesederhanaan. Gusti Ayu tetap berupaya keras untuk menaklukkan segala tantangan hidup hingga kemudian bisa melakukan pencapaian seperti sekarang. (H.Djan Farid  Menteri Perumahan Rakyat).

GKR Ayu Koes Indriyah menuturkan, sebagai putri bangsawan putra seorang raja, pasti banyak yang akan memandang hidupnya akan serba mudah. Serba berkecukupan dan serba indah yang lainnya. Tapi yakinlah tidak. Salah besar jika ada yang menganggap seperti itu. Sebab justru sebaliknya ia sering berteman dengan pahit getir kehidupan.

“Bayangkan baru beberapa  tahun ayahku menjadi raja, keraton harus kehilangan segalanya. Otoritas  wilayah tak lagi ada kecuali sebatas apa yang ada di dalam tembok keraton. Tinggal ‘sakmegaring payung’, begitu istilahnya. Semua terjadi karena kondisi negara memang memaksa harus seperti itu. Sementara pada sisi lain, ayahku harus menanggung kehidupan keluarga yang cukup besar jumlahnya. Selain  itu juga masih ada begitu banyak abdi dalem yang tetap setia mengabdi untuk keroton. Dari sana aku kemudian bisa meraskan betapa berat beban yang harus ditanggung ayahku, ya ayahku yang juga seorang raja” katanya.

“Maka ketika zaman seperti tak lagi “memihak” dengan keraton, kehidupanku juga sama nasibnya dengan keidupan keraton selanjutnya. Aku hidup dalam segala keterbatasan yang ada. Keprihatinan seolah menjadi teman hidupku. Bahkan mungkin akan banyak yang tak percaya jika aku pernah tidur beralas tikar. Aku juga harus pernah menahan rasa lapar. Percaya atau tidak, itulah memang jalan hidupku”, tutur putri bangsawan yang akrab dipanggil Indriyah.

Dibalik ketulusan bertutur dalam bukunya, Putri bangsawan raja Keraton Solo, akrab disapa Indriyah, di lingkungan tempatnya mengemban amanat rakyat DPD RI  biasa disapa Gusti Ayu, mengatakan kepada media ini, Kamis malam (22/11/2012)  di Komplek Parlemen Senayan Jakarta, seusai pelelangan buku Jahipuba. Gusti Ayu mengungkapkan motivasinya mengurai kesederhanaan dalam kehidupannya.

” Kita ini punya aroma yang luar biasa, tapi yang hidup didalamnya sampai nggak bisa makan, karena keraton harus dipertahankan dan dilestarikan yang disebut negara untuk dilestarikan dan dipertahankan. Siapa yang mempertahankan sementara kita gabung dengan NKRI, kita hidup saja susah, cari uang saja susah” Gusti Ayu menggugat.

Hingga saat ini para abdi dalem yang setia mengabdikan hidupnya untuk keberlangsungan Keraton Surakarta hanya menerima upah lima puluh ribu rupiah perbulan dibanding para koruptor yang mendapatkan fasilitas negara, gaji dan tunjangan yang cukup, masih sempat mendzolimi ketulusan para abdi dalem, mempertahankan identitas negara sebagai bangsa beradab ditengah hiruk pikuk pemburu rente, mengatas namakan kepentingan rakyat diatas derita rakyatnya.

Tegaklah abdi dalem, dibalik ketulusanmu masih tersisa harapan kemulian sikap hidup sederhana, sebagaimana penghuni keraton, merasakan pedihnya hidup di negara yang katanya berdaulat statistik, saling klaim bahkan hingga generasi bangsa menjadi korban akibat nilai-nilai luhur yang diaktualisasikan di Keraton tidak lagi menjadi kerama bangsa ini.

Media ini mengutip bukti sejarah, ketika Konferensi Meja Bundar  (KMB) di Deen Haag, Belanda menyebutkan “Dengan surat ini dikabarkan, bahwa dalam perundingan KMB tetap diturut sikap dan pendirian, bahwa semendjak penyerahan piagam pengakuan pada penghabisan tahun 1945 oleh Pemerintah Republik Indonesia, maka Zelfbesturende Landeschappen Surakarta dan Mangkunegaran mempunyai kedudukan daerah istimewa menurut Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.

Pemerintah nyaris kehilangan tujuan, dibalik  ketidakpastian itu, Gusti Ayu menggaris bawahi tentang pentingnya upaya melestarikan budaya  bangsa harus betul-betul merawat dengan baik, terlepas siapapun. Tapi menurutnya keraton merupakan peninggalan budaya yang tidak bisa direkayasa.

“Artinya ini adalah peninggalan budaya leluhur kita yang ikut membentuk  Republik ini. Tentunya, semestinya pemerintah turun tangan, walaupun saat ini turun tangan tapi tidak signifikan dalam melestarikan budaya ini” kata Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI, Djoko Udjianto, berbicara sebagai kerabat Keraton Surakarta di tempat dan waktu yang  sama.

Pemerintah tidak perlu berdalih adanya perpecahan di dalam lingkungan keraton Surakarta dalam merealisasikan bantuannya, karena jika hal demikian di de facto-kan, pemerintah turut serta meligitimasi keretakan yang disuarakan.

Sesungguhnya perpecahan tidak ada kata Udjianto, karena secara urutan trah sudah ada. Berbicara budaya tidak dalam konteks networking atau kepintaran, namun berbicara trah yang berarti siapa yang berhak menduduki kemampuan sebagai raja menurut trah. Mestinya kita berfikir  bagaimana cara kita melestarikan budaya Adiluhung ini menjadi aset nasional karena bangsa apapun sopan  santun itu dari kerajaan, katanya.

Kini srikandi Indonesia, Gusti Ayu semakin prihatin melihat nasib bangsa Indonesia, dikatakan sebagai negara salah urus. Alasannya, Indonesia memiliki sumber daya alam luar biasa, kini sumber daya manusianya, namun pemerintah belum mampu mensejahterakan rakyat. Dirinya menggugat kehendak pemerintah yang berkeinginan mengambil Keraton Surakarta. “Apa ada orang yang mau menyerahkan rumahnya ke negara” gugat dia.

Pemikiran demikian harus dikikis habis karena Keraton merupakan bukti budaya dan sejarah sebagai cikal bakal NKRI dan harus dipelihara samapai akhir zaman. Kondisi saat ini telah menyeret bangsa ini pada kepentingan individu, kelompok mengatas namakan demi bangsa dan negara, dalam implementasinya tidak demikian.

Semoga jibaku GKR Ayu Koes Indriyah melalui lelang buku Jahipuba dapat sedikit memberi ketahanan bagi keberlangsungan Keraton Surakarta Hadiningrat. Srikandimu kini tumbuh dewasa dan bijak, memahami setiap denyut nadi amanat rakyatnya. Gigih dalam  berjuang, tegas dalam bersikap, konsekuen dalam bertindak. (Zainuddin)

 

SHARE
Admin Sumbawanews