“Bima Membara” Kumpulan Puisi Perlawanan

“Bima Membara” Kumpulan Puisi Perlawanan

SHARE

 

Chalik Hamid 
 
Tiba di tanganku sebuah kumpulan puisi baru dengan judul “Bima Membara” (Sebuah Kumpulan Puisi untuk Bima). Buku kumpulan puisi ini sungguh menarik, karena puisi-puisi yang terkumpul di dalamnya merupakan bentuk perlawanan para penyair Indonesia menentang ketidakadilan, keserakahan penguasa, ketamakan pemegang modal dan kekejaman aparat negara terhadap warga Bima. Setiap kezaliman dan penghisapan, setiap perkosaan dan pelanggaran HAM harus dilawan dengan segala kekuatan walau pun darah harus tertumpah di bumi kesayangan ini.
 
Para penyair itu terdiri dari tua dan muda bersatu dalam satu hati, dalam satu bentuk perjuangan, dengan pena menuding penguasa jahat. Mereka itu adalah: Jumari HS, Dinullah R, Shaka A, Selly H, S Stanley, Eka RS, Arrie B, Kit Rose, Habe A, Edy P, Kelana, Donny A, Zeta R, Bayu G, Dwi R, Selsa, Bambang P, Agus W, Wasta T, Nurdiana, Edy F, Ario S,  Alex RN, Jaksen S, T Budi S, MiRa, Saiful H, Dimas AM, Heri Latief, Asahan, Selendang S dan Darmanto N.
Masing-masing puisi memiliki kekuatannya sendiri. Dalam tulisan kali ini saya tidak akan menguak kekuatan-kekuatan itu, melainkan menyitir beberapa bagian puisi menyangkut perlawanan rakyat Bima melawan kejahatan.
 
Betapa kuat sindiran dan daya sinis Bayu Gautama dalam puisinya berjudul “Cukup Sudah”  . Ia mampu menyaring kata-kata untuk membangkitkan semangat rakyat: Ini sajak provokatif/ Menghasut rakyat agar berlawan/ Melawan penindas berkedok aparat/ Anjing-anjing berseragam penjaga korporasi.
Selanjutnya penyair itu melanjutkan dengan menunjukkan bahwa kesabaran sudah tak berguna, akibat siksa yang terus mendera : Cukup sudah !!/ Pentungan menghantam tubuh/ Meremukkan tulang kaki dan tangan/ Popor senapan menghantam kepala/ Memecahkan pelipis dan bibir/ Peluru menembus kulit/ Merobek daging dan
mengucurkan darah/.
Bayu mengakhiri puisinya dengan sebuah bait seruan berlawan : Cukup sudah/ Rakyat dihinakan lebih dari binatang/ Tak ada lagi waktu mengutuki nasib/ Bersatu, bergerak dan melawan/ Sekarang !!!
 
Seorang penulis sekaligus pengusaha, juga menyampaikan penilaiannya terhadap negara yang dipimpin oleh SBY ini. Dia adalah S.Stanley Sumampouw, kelahiran Manado. Dengan kata-kata sederhana, ia memberi judul puisinya “Negara Sakit Dipimpin Para Penjahat Tukang Kibul”. Bacalah apa kata dia: Negara ini sedang sakit,/ Terlihat dari rakyat yang bingung,/ Bangsa ini sedang bingung,/ Karena dipimpin para orang sakit./ Kenapa pemimpin kita sakit dan suka bikin bingung?/ Karena mereka suka maling dan tukang kibul,/ biar kami rakyat jadi bingung./ 
 
Penyair Stanley mengingatkan para pemimpin tukang kibul: Wahai para pemimpin yang sakit dan suka ngibul,/ Jangan sampai kami rakyat bosan kena kibul,/ amuk dan prahara akan timbul,/ senjata dan peluru pun akan tumpul./ Maju terus rakyat miskin, jangan hirau dan bingung, jatuhkan dan tumpas pemimpin kibul!!/
 
Dalam kumpulan puisi ini, dengan judul “Untuk Bima”, Eka RS memaparkan bahwa nyawa tak ada nilainya lagi : di atas tanah yang diperjuangkan/ dengan darah dan airmata/ nyawa tak berharga/ mengembang di lumbung pemodal/ memupuk emas dengan korbankorban kebiadaban/.
 
Ya, walau pun darah dan airmata, nyawa sudah tak berharga, Habe Arifin tampil dengan puisi berjudul “Untuk Petani Bima”  dimana jika berbagai kekerasan sudah merajalela, penyair harus berani menyatakan sikap: Ketika senapan bicara dan kau sudah dihujani tembakan/ Ketika sepatu lars bersuara dan kau dibungkam/ Ketika kekerasan menjadi kebiojakan dan kau ditangkap/ Ketika kekejaman menjadi tuhan dan kau disiksa/ Ketika kebiadaban menjadi agama dan kau disikat, dilibas/ Katakan: TIDAK pada mereka/ Katakan: TIDAK pada neraka/.
  
Atas semua kekejaman, kejanggalan, atas semua darah yang mengalir akibat tembakan peluru, apalagi ia dilakukan oleh aparat penguasa, dengan judul “Tanah Ini Sudah Meratap” penyair Kelana mengajukan berbagai tanya: tapi kenapa semua itu kau jawab dengan senjata/ bagaimana bisa kemudian/ kau anggap kami sebagai musuh?/ padahal mustinya kau lindungi kami/ dari para perampog yang mengharu biru kehidupan/ ataukah kau telah malik tingal/ menjadi anjing-anjing para pemodal?/ sehingga demi perampog itu/ kau pancang taringmu untuk/ merobek-robek kehidupan kami/ pun juga tanah yang cuma sejengkal/.
 
Setelah berbagai kekejaman menginjak rakyat Bima, ada yang tersungkur bersimbah darah, setelah penguasa merampas hak mereka, meluruhkan tubuh mereka, namun demikian mereka tetap menyalak dengan  menyatakan: Tidak!!! Penyair Donny Anggoro dengan puisinya berjudul “Robohkan Angkuhmu” dengan jelas menyatakan sikapnya: Kami bersatu/ robohkan angkuhmu/ yang sembunyi di selangkangan/ monyet-monyet pongah/ dipertuan jabatan.
 
Negeri ini, yang diberi nama NKRI, sudah dinyatakan merdeka selama hampir 67 tahun sejak 1945, namun masih terus dikangkangi pemodal asing. Di seluruh pelosok negeri kemelaratan masih terus menindih rakyat, yang menjadi kaya hanyalah para pejabat, para cukong dan mafia penjual negeri, para koruptor.
 
Sungguh menarik apa yang dikemukakan Zeta Rosa dalam puisinya “Negeriku di Serambi Bima” Negeriku dijajah pemodal asing?/ di sana tanah Bima berkalang limbah/ perkilangan emas makin menggarang/ tanah subur menjadi tanah kering beracun/ memusnahkan panen rakyat/ memusnahkan kehidupan rakyat/. Zeta menambahkan bahwa rakyat sudah dikekang dan hak mereka terus dirampas yang berkuasa: lihatlah, adik mati bersarang peluru/ ayah pun mati terkapar/ tak berdaya mencari kesejahteraan hidupnya/ bekerja untuk tanah sawah dan ladang/ tanah kehidupannya dirampas/ kemudian mereka mati dibrondong senapan aparat negeri yang mengantongi dolar berdarah/ dan memilih sebagai budak bayaran/
 
Di bawah kekuasaan pemerintahan SBY dengan apa yang dinamakan pemerintah “reformasi”, di mana-mana terjadi pelanggaran HAM, di mana-mana terjadi kekacauan, benterokan antar warga, tawuran dikalangan anak muda, perampasan hak warga, polisi beralih fungsi menjadi pelindung penguasa dan pengusaha. Hal itu pun dikemukakan Selsa dalam puisi “Bumiku Menangis” : kembali bumiku menangis/ Mencucurkan airmata darah/ Dengan jiwa yang terjerabut keangkara murkaan penguasa. Kembali tanahku terluka/ Tergores belati ketidakadilan/ Oleh pengumbar dan pemuja arogansi/ Yang berdiri angkuh atas nama jabatan/¦.
 
Bait puisi di atas diperkuat pula oleh Wasta Tama dengan mengatakan: O, tanah air tumpah darahku/ dimana-mana muncul mata air, air mata dan darah/ Dimana-mana terdengar jerit rintih dan pekik-erang/ Dimana-mana dipertontonkan arogansi dan kesewenang-wenangan/ Papua!/ Sumatra!/ Bima!
 
Dalam kumpulan puisi “Bima Membara”, juga kita temukan sebuah puisi berjudul “Cerita Rumput” karya Edy Firmansyah. Penyair ini menyatakan sikapnya: kami adalah rumput liar yang kau injak/ tapi kami terus tumbuh dan menyebar/ jadi padang hijau/ padang merah, padang darah./  Walau dihimpit dengan berbagai cara, dengan alat berat yang melindas, disekap dengan semen tebal sepuluh senti, rakyat tak pernah mati. Edy menekankan: untuk itulah kami tetap tumbuh tuan/ di sela-sela fondasi yang kau tanam/ berbiak di sisi-sisi gedung/ yang suram dan lembab/ yang tak bisa kau jangkau/ dengan tangan/ dan isi kepalmu yang kejam/.
 
Gaya penulisan Edy Firmansyah agak mirip dengan gaya penulisan Wiji Thukul, penyair rakyat yang dihilangkan oleh rejim militer fasis Orde Baru Suharto, terutama dengan puisinya berjudul “Bunga dan tembok” Di situ Thukul mengatakan: Seumpama bunga/ Kami adalah bunga/ Yang dirontokkan di bumi kami sendiri/¦… Jika kami bunga/ Engkau adalah tembok itu/ Tapi di tubuh tembok itu/ Telah kami tebar biji-biji/ Suatu saat kami akan tumbuh bersama/ Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
 
Sebuah pertanyaan yang hingga kini tak pernah terjawab, Indonesia yang dulu senantiasa hidup rukun, damai, gotongroyong, mengapa kini menjadi sebuah negeri sumber kekerasan. Dimana-mana terjadi perampokan, pemukulan, penembakan, pemerkosaan. Kaum minoritas menjadi sasaran kelompok agama yang menganggap diri sebagai mayoritas, menganggap paling suci dan yang lain sebagai yang sesat, lalu  mengangkat diri sebasgai algojo melakukan pembunuhan terhadap yang lain. Jumari HS dalam puisinya “Bima” mengajukan tanya :Kenapa setiap pertikaian harus berujung kematian/ Apakah negeri ini negeri penjagal?/ Pertanyaan itu terlontar dari rumput-rumput dan ilalang di benakku/ Airmatanya yang berlinangan masih membayang Mesuji, Aceh, Poso/ Bahkan Papua../
 
Empat nama penyair yang terdapat dalam kumpulan ini, berdomisili di luar negeri. Mereka itu adalah Asahan, Mi Ra, Heri Latif dan Nurdiana. Tiga nama pertama hidup di negeri Belanda, sedangkan seorang lagi berdiam di Tiongkok. Meskipun mereka berada di negeri orang, jauh dari tanah air tercinta, namun demikian mereka terus memantau perkembangan Indonesia. Mereka mengikuti persekongkolan para pengemudi pemerintahan RI dengan AS dan Arab Saudi, mereka melihat para koruptor mengeruk uang negara/rakyat dan persekongkolannya dengan mafia hukum, mereka mengikuti tsunami melanda, banjir merajalela, gunung meletus, sekolah bertumbangan, pesawat jatuh, keretapi anjlog, kapal laut tenggelam, jalan raya menjadi kubangan dan berbagai kehancuran lainnya melanda negeri ini. Mereka melihat dengan mata dan hati bagaimana seorang presiden membohongi rakyatnya, melihat bagaimana negeri ini sudah terjual kepada modal asing dan rakyat  diperah melebihi jaman penjajahan. Dan terakhir para penyair ini melihat bagaimana rakyat ditembaki dan Bima berlumur darah, bagaimana peluru dimuntahkan oleh tangan-tangan jahil aparat bayaran.
 
Asahan dalam puisinya berjudul “Emas dan Tanah Air”, mengatakan : Di negeri ini polisi lebih penting dari petani/ Polisi punya penjara/ Petani tak punya tanah/ Bedil dan cel pengaman negeri/ Petani cuma hamba tak berharga. Dalam bait selanjutnya penyair itu menyatakan sikap warga Bima dengan keteguhan hati: Tapi orang Bima berani bilang:/ Persetan dengan tambang emas rampokan kalian/ Bumi dan air ini milik kami/ Stop itu peluru dan mesiu/ Atau kita berpisah berbagi bumi.
 
Seorang penyair wanita MiRa dalam sebuah puisinya berjudul  “Malam Kudus Berdarah”, (haibun) antara lain mengatakan : Menguak tabir/ Di Pelabuhan Sape/ Luka Berdarah/, Moncong senjata/  Sang penguasa zalim/ Rakyat berontak. Penyair ini mengakhiri puisinya dengan sebuah bait ajakan : Makna Merdeka/ Bebas dari tirani/ diperjuangkan. Sedangkan penyair Heri Latif dalam puisinya berjudul “Emas Berdarah Rakyat”, menggambarkan situasi berdarah di Bima : kejamnya pemerintah menembaki rakyat/ buat apa kita punya hak asasi manusia/ rakyat merayap di jurang perbedaan sosial/ pemodal merajalela merampas hak rakyat/ rakyat diusir paksa dari tanah pusaka/. Puisi ini di tutup dengan sebuah seruan : demi tambang emas rakyat bersimbah darah/ terkutuklah rezim pembantai rakyat/ seruan buat semua yang anti penindasan/ stop pembantaian rakyat indonesia !/ kobarkan bima membara rakyat melawan !/.
 
Seorang lagi penyair yang hidup di luar negeri, tapi bukan di Eropa melainkan di Tiongkok. Penyair itu bernama Nurdiana. Setelah menunjukkan betapa rukun dan damai kehidupan rakyat Bima, kemudian diganggu oleh penguasa zalim dan menembaki rakyat di Sape, ia menunjukkan keyakinan: Hangat darah tumpah ke tanah/ Membara Bima dari hangat darah,/ Peluru mampu mencabut nyawa,/ Nyawa melayang tiada hilang,/ Akan menggugah kebangkitan,/ Perlawanan berlanjut panjang,/ BIMA bukanlah kara sebatang,/ Juang berkembang sampai menang.
 
Seperti saya katakan di atas, masing-masing puisi yang termuat dalam kumpulan “Bima Membara” memiliki kekuatannya sendiri-sendiri. Tentu tidak semua bisa dikutip dan dihadirkan dalam ruangan ini. Disamping itu harus kita akui ada beberapa puisi yang kurang menyentuh masalah Bima. Semoga para pembaca bisa memiliki buku bernilai perlawanan ini. Penerbitan sebuah buku bagaikan meninggalkan sebuah warisan bagi generasi mendatang, menjadi bahan pelajaran dalam perjuangan masa depan. Betapa pun kecilnya sumbangan itu, ia akan merupakan bagian dalam sejarah yang besar. Semoga penerbitan-penerbitan seperti ini akan terus berkembang.
 
Buku “Bima Membara”, diterbitkan oleh Halaman Moeka Buplishing dengan kordinator Leonowens SP, editor : Heri Latief, Mira Kusuma, Arif Hidayat dan Jumari HS. Layouter : Catur S dan desain  Cover : Irman Permana. Kata pengantar ditulis oleh Arif Hidayat dan sebuah citat: Leonowns SP. Warna buku kecil ini sangat menarik: kombinasi hitam, merah, kuning dan coklat.
 
Amsterdam, 20 Mei 2012.
 
*Biodata penulis Chalik Hamid:
Lahir 16 Mei 1938 di kota Kisaran, Asahan, Sumatra Utara, Sejak di SMP, menulis puisi, dan karyanya dipublikasi di majalah Taman Siswa, Lembaga harian, di Jalan Baru, Harian Harapan, Waspada, Indonesia Baru, Gotong Gotong, Harian Patriot dan Cerdas di Medan. Juga karyanya di publikasi di Jakarta seperti Bintang Timur dan Harian Rakyat.
1961-1964 ketua cabang Medan Lekra (Liga Kebudayaan Rakyat) dan salah satu presidium di Lekra Sumatra Utara. 1965 – 1969 Mahasiswa Jurnalisme di Universitas Tirana (Romania)
Sumber: http://www.thejakartapost.com/news/2009/01/05/chalik-hamid-poetic-love-country-lives.html
 
 
 
SHARE
Admin Sumbawanews