Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Home Serba serbi
Joke, Puisi, Motivasi, Statisk berita ( Berisi berita, opini dll  terbanyak dibaca ), Hyperlink

Apresiasi Atas Kreasi Puisi Penyair Lekra

Apresiasi Atas Kreasi Puisi Penyair LekraSekitar Prahara Budak Budaya (5)
Oleh: A.Kohar Ibrahim

SAYA kira memang iya, bahwasanya apresiasi seni dan sastra tak lepas dari kepentingan dalam segala ragam dan format atau skalanya.  Kepentingan orang perseorangan, sepasangan, golongan atau kelompokan, faksi, gundukan, kawanan atau klik . Kepentingan itu bisa saja macam kepentingan rasa kepuasan, kepentingan ideologi, politik dan ekonomi ataupun gabungan dari padanya. Seringkali kepentingan demi selera, demi sesuap nasi atau sepotong roti yang bisa berdimensi posisi atau kedudukan atau yang UUD (ujung ujungnya duit) ! Begitulah yang hakiki, disamping embel-embel atau busah-busahnya.

Ketika kaum Manikebuis mengapresiasi hasil karya seni, khususnya seni sastra, lebih khusus lagi puisi-puisi karya penyair Lekra, nadanya adalah kental sekali ber-panglima-kan politik bos mereka, yakni kaum militer kanan yang anti-komunis. Dengan angkuh dan gegabah menilai hasil karya orang-orang Lekra itu rendah. Cuma “seribu slogan nol puisi”. Sikap arogan karena merasa kaum elit pengibar panji “l’art pour l’art” terhadap pengibar panji “seni untuk rakyat” yang bersemboyankan “politik adalah panglima”. Semboyan yang dimulut dikecam habis-habisan oleh kaum Manikebuis tetapi dalam perbuatan dilakukannya juga – dulu bahkan sampai detik ini. Sikap arogan dan kemunafikan itu berkesinambungan – lebih-lebih lagi semasa jaya-jayanya rezim paranoia OrBa.

Demikian aku terkesankan, dalam katian sebuah sajak Mawie Ananta Jonie “Kunanti Bumi Memerah Darah”. Oleh Hasan Aspahani sajak itu diapresiasi sebagai bukti “Begitulah tema dan gaya umumnya sajak-sajak penyair Lekra/PKI dan LKM/PNI  yang terbit di lembar kebudayaan surat kabar kelompok itu, Harian Rakyat dan Bintang Timur (Lampiran Kebudayaan Lentera).”

Sungguh disayangkan cara Hasan dalam mengapresiasi hasil kreasi berupa sajak-sajak penyair Lekra (bahkan juga LKN – bukannya “LKM” seperti tulisnya) kentara hanya ikut-ikutan nada kaum Manikebuis senior macam GM, Ikra dan Taufik Ismail. Saya bilang demikian lantaran tak yakin Hasan telah menyimak banyak sajak-sajak para penyair Lekra periode 1950-1965 yang tersiar bukan hanya di koran-koran seperti yang disebutkan itu, melainkan juga koran-koran lainnya di Pusat maupun di daerah; juga di majalah-majalah, terutama sekali majalah Sastra dan Seni Zaman Baru.

Bisalah dimaklumi, kalaupun Hasan akan bilang bahwa gara-gara politik budaya OrBa paranoia, dia tak berkesempatan dengan mudah melacak-simak hasil kreasi sastrawan dan penyair Lekra yang dibrangus sang penguasa. Maka dari itu hanya bisa mengikuti nada irama kaum Manikebuis senior saja, seperti sebuah buku yang disitir Ikra dan yang dengan bangga ditekuninya itu. Tetapi, baru-baru ini, kiranya bisa disimak dalam terbitan berupa buku Trilogi Lekra Tak Membakar Buku. Dalam kumpulan puisinya berjudul Gugur Merah yang berisi beratus-ratus sajak karya 111 penyair. Bukan tak mungkin, setelah menyimaknya, Hasan bisa dengan jitu dalam menggunakan daya apresiasinya.

Sementara itu, dalam kaitan ini, sebagai pelengkap, saya turunkan seberkas puisi dari 3 penyair Lekra: Rivai Apin, S. Rukiah dan Agam Wispi.

*

E l e g i

Oleh: Rivai Apin

Apa yang bisa kami rasakan, tapi tak usah kami ucapkan
Apa yang bisa kami pikirkan, tapi tak usah kami katakan
Janganlah kau bersedih – dan mari kami lanjutkan
Kami bawa ini kebenaran ke bintangnya dan ke buminya.

Kami pun tahu, karena ada satu kata dari kau yang kami simpan
Satu pandang dari tanah retak menggersang,
Lalu sedu menyesak dada,
Ah, kenangan padamu kan terus memburu,
-    menakutkan seperti bayang di pondok
seloyongan, bila pelita telah dipasang.
Tapi penuh kasih seperti Bapak yang
mengulurkan tangan
Dan kau kembali, seperti di hari-hari dulu
ketika kau dan ini bumi mendegupkan hidiup.

Kami tak kan lupakan kau, ketika memburu dan ketika lari
-    karena apa yang kami buru dan apa yang kami lari
untuk itu mau serahkan nyawamu
Dan kami yang menimbang jasamu
Pun tahu, seperti kau pun tahu, bahwa tak ada
Dewa atau Tuhan lain yang berharga untuk
dihidupi selain itu

Berhembus pun topan di padang tandus ini
Tapi tampak kami yang tertanam di padang
gersang, di mana kau dalam terkubur
Melanjutkan nyala, dan kami yang tegak
berdiri di sini ialah api.
Kita tahankan hidup di ini malam, yang akan melahirkan siang.

Kita adalah anak-anak dari satu Bapa
Kita adalah anak-anak dari satu Ibu
Dan mati bagi kita hanyalah soal waktu
Tapi kita semua mempertahankan satu Tuhan.

Adik yang akan datang, Kakak yang telah pergi
Kita angkutlah ini tanah-tanah yang retak,
ini tanah-tanah yang gersang,
Keberatan beban, kesakitan bahu memikul, dan
kepahitan hati akan kekalahan
Akan menyaratkan cinta pada kepercayaan
yang kita peluk.

(Majalah Siasat, 9 Januari 1949; Majalah Kreasi N° 24 1995)

*


Kenangan Gelita

Oleh: S. Rukiah

          (buat Eska di Kaki Gunung)

I

Malam ini aku mau lagi bercerita,
dan bila cerita ini satu-satu kutulis dengan jariku
buatmu cuma jadi satu cerita kegelitaan
ketika malam kosong berpisahan dengan bulan

Seperti juga kita di hari kini
di mana batas sampai tepi langit di jauhan
di mana segala anak-anak manusia
terima satu perintah jangan melanggar ini batas
di sini kita berpisah
antara dinding penjara dan pegunungan

Aku lihat di celah besi-besi kaku tak bercerita ini
engkau diburu macam hantu pelarian
jauh ke sana di antara daunan kering yang berjatuhan
di mana teriakan suara makin kecil hilang-hilang
sedang aku di balik terali dingin
tergolek mau bermimpi malam kenangan.


II

Biar sekali ini aku tak ada melihat laut
kapal-kapal juga semua sudah berlayar
angin lari dan bintang tidur satu-satu
tapi aku tak kepergian suaramu
meski malam selalu warnanya hitam
sebab lantai dingin dan tembok putih ini
sekali-sekali ia mau memberikan jalan
buat angin pagi dari suara pegunungan.

Dan bila angin itu bisa kembali sebelum mati
akan kupinta satu pena kuno yang runcing
serta tinta merah yang selalu basah tak kering-kering
dan biarlah aku akan bikin satu cerita panjang-panjang
atau menulis sajak yang banyak
meskipun dikatakan: ini bukannya cerita Tuhan !


III

Tapi pernahkah melintas di tempatmu
malam kenangan di malam gelita pegunungan ?

Pabila ada juga padamu
di antara rintik-rintik hujan senja
atau bunga-bunga hutan yang berserakan
tak kan kuhabiskan kenangan ini
biarlah akan kususun cerita ini dari malam ke malam lagi
tak peduli aku jadi gadis tua di balik penjara
karena sekali kenangan ini akan berakhir
kita bertemu di antara meja dan bunga merah
sambil minum air yang bergula manis-manis.

Kita mulai bercerita dangkal-dangkal tak tahu bentuk
dan aku akan ketawa dan ketawa !
hingga berakhir dengan cerita kenangan gelita ini
ketika malam kosong berpisahan dengan bulan.


IV

Tapi bila dalam satu pagi
bulan ini masih tampak seperti gambar sabit emas
atau bintang-bintang seperti bunga tanjung kecil-kecil
inilah mungkin waktunya aku buka cerita panjang
atau aku bacakan sajak penjara yang dulu
dan pengalaman hidup yang panjang penuh dengan luka-luka.

Cuma di sini
Masih ada yang mau aku katakan:
Engkau memang diburu, tapi bukan pelarian
aku memang di penjara, tapi bukan manusia kurungan.
Kita bukan orang pelarian yang
masing-masing tidak punya satu dunia.

Tapi Eska !
Kenanglah sekali cerita kenangan ini
bila engkau telah cape menginjak batu-batu pegunungan
atau telah benci mendengar cerita darah
atau cerita maut, dan cerita busukan manusia
engkau akan tulis di satu buku harian:
kita dua manusia yang cinta kepada cinta !

(Majalah Zaman Baru 25-26 1958; Majalah Kreasi N° 40 1999)

*


Sajak-sajak oleh: Agam Wispi


Perahu Pinisi Tak Boleh Merapat

begitu cepat matahari tenggelam
kilau emasnya tinggallah tembaga
begitu cepat sarat muatan
perahu pinisi, daratan bagimu hanyalah duka

Makassar, 2 April 1964.

*

Menjelang Mendarat

pulau-pulau jamrut cemerlang
memanggil dengan suara lantang berdentang
hasrat kuat akan kemerdekaan
dan berkelilingan kilau danau dengan laut terbentang
jam berapa pesawat melambai Menado ?
anakku, di atas awan kuingat kau

Makassar-Menado, 4 April 1964.

*

Menyusur Tondano

jip melambung berguncang-guncang
hadap-hadapan bukit, danau dan hutan
tenang kereta-kuda berderak memintas sawah
kusirnya petani muda yang ketawa dan gadis bersutera merah

menyusur danau jip berguncang-gucang
Tondano tak berteriak, bagai rumah tua yang ditinggalkan
dan kulik elang menjauh hilang
tapi petani itu mukanya riang mentertawakan:
jalan jelek ! sabarlah, kita baru habis perang

*

Tinoor

para lelaki sudah pergi
atau mati
yang kembali ketinggalan hati
di tanah seberang di kota ramai
pulangnya tak berarti

kami yang meromok tinggal di sini
tak lagi bisa bersedih
dulu dari jaman kompeni
para lelaki sudah pergi
atau mati

maka minumlah saguer, abang
selagi singgah di sini dan gunung akan didaki
pandanglah lembah menjemput lautan
sebelum Menado ditinggalkan, mari bersenang
mari bersenang – walau dilupakan

Tondano, 8 April 1964.

*

Pertemuan Di Danau

danau putih
sajakpun putih
di Toba tenggelam sepenggal kasih

sampan telungkup
aku berenang megap-megap
ke tepi
tapi menang apalah arti
kalau indah hanya seperti buih

asap mesiu mengantarku ke danau Manindjau
dan kenangan melayah ke duniaku yang hijau
sungguh, danau tiada lagi putih seremaja dahulu
dan kebahagiaan hanya tergenggam bagi yang tahu

jip mendaki dan menyusur danau Sentani
Kota Baru meraih jauh, kami berlari-lari
betapapun becermin rimbun daun dan akar berjuntai
kemenangan yang remaja, padamu juga hari-tua melambai

sampai aku di danau paling utara
Tondano, dukamu tak bisa kulupa
para lelaki tak pulang, entah mengapa aku terkenang
pahlawan kebahagiaan mati di tanah buangan: Ali Archam

dan di sini, diantar perjuangan yang sedih
danau Batur, kubu dari lahar dan abu menyembur
para turis kagum berpura sedih
tapi rakyat itu dengan tangannya yang perkasa
jalan bergandengan dan bernyanyi
meski mengantar mayat ke kubur

Kintamani, 26 April 1964.

*
Catatan:
Sajak-sajak Agam Wispi – Perahu Penisi, Menjelang Mendarat, Mercusuar Tondano, Tinoor dan Pertemuan Di Danau --  dipetik dari majalah Zaman Baru N° 7 1964; dimuat ulang  majalah Kreasi N°  9 Th 1991.
Majalah Kreasi terbitan Stichting Budaya Amsterdam, ISSN-0923-4934. Editor: A.Kohar Ibrahim, mantan redaktur majalah Zaman Baru (1963-1965) di bawah pimpinan Rivai Apin dan S. Anantaguna.
Ilustrasi: Komposisi Eksekusi II – karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim, cat akril di atas kanvas. ***
 

Percikan Budaya : Selang Seling Bersilang Saling Berkaitan

Percikan Budaya : Selang Seling Bersilang Saling BerkaitanOleh : A.Kohar Ibrahim

Upaya Memaknai Hidup Kehidupan

APSAS 13 Maret 2009. Kalini aku upayakan menyaji percikan sapa-menyapa di ruang milis Apsas belakangan ini – yang aku anggap layak dicatat ingat. Layaknya juga bukan bagi kami semata, melainkan bagi umum yang berkenan menyimaknya.

Pasalnya ? Lantaran sedikit banyaknya, baik tersurat maupun tersirat, adalah muatan perihal hidup kehidupan – paling tidak menyangkut pandangan hidup. Pandangan atau wawasan dalam cakap-cakap yang selang seling malah bersilang namun saling berkaitan pula adanya. Suatu pertanda adanya keaneka-ragaman makhluk yang disebut manusia yang sekalipun sesama umat manusia, kepala sama berbulu namun benaknya berbeda-beda. Sekalipun keberbedaan itu bisa terdampingi kebersamaan tertentu --  selaras situasi dan kondisinya yang tersediakan. Misalnya, berbeda dengan pandangan sebagian orang, namun sebagian yang lain ada kesamaan denga orang macam Albert Camus. Seorang intelektual sekaligus sastrawan dan filosofis yang secara bebas merdeka mengutarakan tentang ke-absurd-an hidup kzhisupan di alam dunia ini.

Camus, dengan eksistensialismenya itu merasa telah membebas-merdekakan diri dari pandangan yang dianggap membelenggunya. Semata-mata demi lebih nyata untuk upaya kiprah mengubah kondisi hidup kehidupan umat manusia yang amat memprihatinkan adanya ; kebebas-merdekaannya untuk mekawan ketidak-adilan. Pandangan yang kental solidaritas kemanusiaan itu ada yang menganggapnya sebagai suatu kemenangan atas « nihilisme » yang ditentangnya.

Camus, seperti halnya kebanyakan kaum seniman atau sastrawan, nampaknya tergolong kaum individualistis. Namun dalam kenyataannya tidak mutlak demikian. Baik disimak dari pandangan maupun aktivitas-kreativitasnya sebagai sesosok manusia. Sosok manusia bermasyarakat. Namun dia memiliki haknya yang azasi untuk mengekspresikan diri secara afirmatip maupun mempertanyakan makna hidup kehidupan di atas bola bumi yang bundar ini. Sebagaimana pula berhaknya seniman macam Paul Gauguin mengajukan pertanyaan dengan komposisi lukisannya yang menggugah-gugat lagi menggemparkan : « D’où venons nous ? Que sommes-nous ? Où allons-nous ? »

« Dari manakah (asal) kita ? Apa-siapakah kita ? Mau kemanakah kita ? » Demikian pertanyaan sekaligus judul lukisan monumental yang dikomposisi Gauguin dalam usia 43 tahun di Martinika, pada tahun 1891. Komposisi dengan warna-warni yang melukiskan tiga masa hidup kehidupan manusia – masa awal muda, dewasa dan lansia – itu, lama kemudian menjadi pajangan prestisius Musium Senirupa Boston Amerika.

Tak urung, baik opini berupa pandangan Camus maupun Gauguin senantiasa mampu menggugah-gugat alam pikiran manusia dari dulu hingga dewasa ini. Pasalnya berkenaan sekali dengan salah satu pandangan manusia yang mendasar. Pandangan yang tercermin dari segala macam lagak lagu manusia manusia yang manusiawi maupun yang bersifat kebinatangan atau kesetanan – seperti yang diungkapkan penyair Baudelaire dalam puisinya berjudul : Au Lecteur atau Kepada Pembaca. Semata-mata untuk mengingatkan musuh yang paling berbahaya dalam hidup kehidupan itu tak lain berupa : kebosanan atau kejenuh-jengkelan.

Dengan ini – dengan adanya semacam rangkai selang seling silang saling kait berkaitan dalam cakap-cakap Apsas – aku kenakan uraianku di atas terutama sekali pada pernyataan sastrawan, kritikus Hudan Hidayat yang, sepertinya tak mau peduli lagi pada sesamanya. Pernyataan  atau pengakuan yang aku tapik ; menganggapnya sebagai nyap-nyapan orang lagi kebanyakan minum Calsberg atau Duvel.

Akhirul kalam, naskah « percikan budaya » ini, sebaiknya disimak selaras urutan yang dibubuhi nomor dari (I) – paling ujung halaman ini. Maka, kepada pembaca yang berkenan saya ucapkan banyak terima kasih. ***

(A.Kohar Ibrahim)


*

(V)
Hudan Hidayat :


Apsas, 11 Maret 2009.
bung kohar lebay ini memang dunia. seperti kata sajak buldrey yang anda kutip ini: pembaca munafik, yang sebenarnya kata yang tepat bukan munafik tapi pembaca yang terpecah jiwanya.

dari apakah jiwa itu sampai terpecah? tidak dari apa apa kecuali dari kedalaman jiwanya sendiri. seperti yang berulang ulang dilengkingkan oleh para pemahat kata di sepenjuru dunia.

alam adalah kuil kuil di mana tiang tiangnya hidup, kata larik baudelaire.
mendendangkan omongan omongan kacau
manusia lewat di sana menyeberang hutan dunia
yang menatapnya dengan pandang mesra

seperti bung sendiri yang nyeberang hutan terowongan maut mu itu. tapi di sana ada kaca bening juga. kaca lalu lalang orang.

"tapi kali ini jejak langkahku terasa lebih ringan dengan lantaran hatiku girang seketika menampak dan langsung memasuki ruang beranda berbentuk separuh lingkaran. ruang yang mungil, berdinding jendela kaca bersih layaknya tembus pandang jelas jemelas suasana seputar di luar.

pilih hidup atau mati!

aku mau hidup!"

sering aku bertanya tanya dengan diriku sendiri:

apakah lagi beda antara sastra dunia dengan sastra semisal yang bung buat itu: sitoyen saint jean. nyaris tak ada. semuanya bertemu seolah garis tangan kita: kadang putus kadang bersambung. kadang hidup di novel kecil bung itu kadang hidup di puisi buldrey.

nyatanya hutan lambang atau pilar dunia dalam puisi yang dilambangkan atau melambangkan atau meremas dunia ke dalam puisi selebaran 10 jari untuk kalimat atau larik itu, hidup juga di dalam novel kecil terowongan maut mu itu.

"bagai gema yang memanjang di kejauhan bergalau," kata larik pemabuk dari perancis itu - sang simbolik.

atau kata bung:

"di kedua belah pelupuk mataku, lukisan kenyataan dan impian beruntun silih berganti, kadang menggugah rasa senang kadang pula rasa gundah resah datang begitu mencengkam, malah merejam..."

begitulah dunia ini seolah selang seling puisi dan prosa. dalam prosa ada watak puisi seperti dalam puisi tercium bau prosa.

itulah kenyataan hidup dalam dunia kata tapi itulah kenyataan hidup dalam dunia realita juga.

semua bergerak berjalan bolak balik.

kulihat kualitas puitis yang bisa dirujukkan pada asosiasi puisi pada penutup novel bung yang berkertas tipis tapi berjiwa besar itu - seolah jiwa dari novel novel dunia atau puisi papan atas yang telah kukutip tadi.

lihatlah kata kata yang telah bung tuliskan ini:

sang pepohonan besar kecil deret berderet teratur rapih dengan warna hijau kehijauan yang ragam nuansanya. begitu pula tanaman pohon bunga bunganya, mulai mempertandakan kesegar bugaran putik putik yang kian hari kian merekah cantik.

tidak kah itu bisa kita sebut sebagai bait dari puisi? bait yang sama tapi dengan nada dasar muram dalam puisi "alam" charles itu, yang sejajar benar lariknya dengan yang bung tulis:

luas bagai malam dan bagai benderang
bau bauan, warna warna dan bunyi bunyian saling
bersahutan

tapi toh rimbaud naik kuda di musim dingin dan berkata:

kita naik kuda merah jambu
dengan bantal bantal biru

seolah lah optimis sajak itu. sebelum larik berakhir dan benda mengerikan itu datang:

kita perlu waktu untuk menemukan itu binatang gila
yang mengembara jauh sekali.

kita memang telah jauh mengembara bung kohar. menembus hidup menembus mati. kita dari situasi dan diri kita sendiri. situasi yang menghenyakkan, kata iwan simatupang.

"berapa kali aku mesti gemerincingkan loncengku?"

oh lonceng itu tidak pernah istirahat menggemerincing. icih.

aku tak tahu apa yang ada di kedalaman hatiku. mungkin serupa energi penyanyi rock yang membuka bajunya membuka celananya dan memperlihatkan burungnya di hadapan panggung. ia tenggak ia tenggak ia melompat dengan suara parau dari paraunya kehidupan.

tidak aku tetap di sini sampai mati. memegang loncengku yang bergemerincing. mungkin aku dari tokoh telegram itu melompat dari dunia tanda di sana untuk menyelinap ke dalam diriku. memainkan permainan iseng dari setelah tak berdaya.

apalah daya kita ini
kaki terantai tangan terantai
dikutuk sampai mati

datanglah neraka datanglah neraka datanglah neraka hay! kutiup surga.

ai bung kohar hehe

aku kangen

hudan


*


(IV)
A.Kohar Ibrahim :

Hadapi Musuh Kebosanan Secara Jantan
 
Hudan Yb,
Berulangkali aku simak ekspresimu "tak mau bantu bantu kawan lagi". Sesekali aku gemas, sesekali aku malah marah, sesekali pula aku mesem tawa. Ah, macam macam saja dikau ini, lanjut ujar kataku dalam hati. Seraya maklum: sesekali wajar wajar saja berkeluh kesah atas situasi dan kondisi hidup kehidupan, sekali pun sebatas dunia kesusastraan yang digeluti. Tapi, aku peras keras "ungkapan" perasaanmu itu menjadi sepatah kata saja, sebagai ekspresi: kebosanan. atau: kejenuhan. Dan itu pertanda nyata dikau memang manusia yang manusiawi. Sorang manusia yang syak-jibun kali membela bela, membantu bantu, tapi dampak manifestasi aksinya tak atau belum lagi seperti yang diharapkan. Lebih-lebih lagi malah mendapat kecaman? Maka dalam kekecewaan dan terkaman kejenuh-bosanan, dikau "muntahkan" kata-kata: "tak mau bantu bantu kawan lagi".

Aku garisbawahi: Perasaan seperti itu wajar timbul, Hudan. Tiap orang bisa begitu. Seperti aku juga. Kita. Sesama manusia. Manusia yang menurut ungkapan Utuy Tatang Sontani, tak lain hanyalah seonggok daging dengan tulang belulang dalam jaringan otot-urat terbungkus kulit tipis. Iya, begitulah : Sosok tubuh yang selagi hidup melakukan perjuangan hidup-mati dalam aneka-ragam bentuk manifestasi aksi sebagai kelanjutan perasaan dan pikiran yang dimiliki masing-masing.

Tetapi, dalam keadaan apa dan bagaimanapun juga, sebagai sosok manusia kita tak bisa lari terpisah menyediri dalam artian sebenarnya. Kita tak bisa lari dari realita hidup kehidupan sosok manusia lainnya yang disebut masyarakat, Hudan. Masyarakat atau umat manusia yang sekian milyar banyaknya, Hudan. Sekian milyar sosok manusia dengan tanggungan perjuangan hidup-mati-nya masing-masing, Hudan. Dalam mana termasuk tanggungan ragam-macam perasaan, seperti rasa yang merupakan ancaman yang paling gawat berupa kejenuh-bosanan itu. Seperti yang secara plastis puitis diungkapkan oleh penyair Baudelaire dalam sajaknya berjudul "Au Lecteur" (Kepada Pembaca).

Tetapi juga, dalam kaitannya dengan dirimu, terus terang saja aku tidak yakin dikau akan konsisten dan konsekwen dengan ungkapanmu yang "tak mau bantu bantu kawan lagi". Sungguh! Aku anggap itu hanya ucap Hudan yang lagi nyap-nyap saja. Sepertinya barusan mereguk tribotol Calsberg atau Duvel...!

Aku yakin: Hudan adalah Hudan Hidayat sosok manusia yang aku juluki sebagai salah satu Pendekar Kesusastraan Indonesia.
 
(A.Kohar Ibrahim)
 
Semar 2009
 
Btw:
Sebagai pelengkap, kulampirkan sajak Baudelaire yang kumaksudkan di atas itu, yang kuterjemahkan dari bahasa aslinya: Prancis.
 
Kepada Pembaca
  Kedunguan, kesalahan, dosa dan kekikiran,
Menghuni jiwa kita dan menggeluti raga kita,
Dan menjadikannya santapan penyesalan halus kita,
Seperti pengemis memberi makan kaum terhina mereka.
Dosa-dosa kita pembandel, ketobatan kita pengecut ;
Kita bayar sendiri dengan mahalnya pengakuan kita,
Dan kita pulang dengan girang di lorong berlumpur
Percaya dengan tangis pura-pura bisa menghapus dosa.
Di telinga keburukan adalah Setan Trismegis
Yang melobang lama lama jiwa senang kita,
Dan logam adi kemauan kita
Dan semua diuapkan oleh ahli kimia ini.
Adalah iblis pemegang talikendali kita!
Pada benda-benda menjijikkan kita temukan daya tarik ;
Tiap hari tiap tapak kita turun ke Neraka,
Tanpa takut melalui kegelapan bau busuk.
Demikian serupa sorang miskin senggama dan makan
Payudara korban dari pelacur tua,
Kita mau sambil lalu kenikmatan selingkuh
Yang kita peras sekeras-kerasnya bak jeruk rapuh.
Berdesakan, berkerumunan, bak sejuta ulat-jahat,
Dalam otak kita gentayangan gerombolan Iblis,
Dan, saat kita menarik nafas, Kematian di ruang jantung,
Turunlah, sungai siluman, dengan gerutu menulikan.
Jika perkosaan, racun, belati, kebakaran,
Belum lagi dihias oleh gambaran mereka yang menyenangkan
Kain setramin biasa nasib kita yang menyedihkan
Hal itu karena jiwa kita, aduhai! Tak cukup tangguh.
Tetapi di antara para serigala, macan tutul, anjing buruan,
Monyet, kalajengking, gagak, ular,
Raksasa melengking-lengking , berteriak-teriak,  merangkak,
Dalam kandang memalukan sifat-sifat buruk kita,
Ada satu yang lebih jelek, lebih jahat, lebih kejam-keji !
Meski ia tak mendorong tindakan kasar pun tidak teriak keras,
Ia hanya menjadikan tanah debu
Dan dengan sekali penguapan kan menelan dunia ;
Itulah Kejenuh-jengkelan ! – mata menanggung tangisan terpaksa,
Ia mimpikan panggung tiang-gantungan sembari hisap houka.
Dikau mengenalnya, pembaca, raksasa peka ini,
-- Pembaca munafik, -- se sama ku, -- saudara ku!
  (Charles Baudelaire : Au Lecteur)
*


(III)
Hudan Hidayat :

Objet: [*Apresiasi- Sastra*] Re: tak mau bantu bantu kawan lagi
À: Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com
Date: Mercredi 11 Mars 2009, 8h18
cpunai, cpuni, cpu cermin di hati. apalah gitu. kusimak ombak kecil kecil kau dan neon neon. seolah ia hendak mematikan terangnya dan kau hendak memutar terus saklarnya.

kusimak yang belum sampai kau simak: sumpah dila si gadis remaja. seolah kulihat ada alur tipis, dari jembatan genting di atas genting. kau dan neon berjalan di sana: ah dia dorong kamu ke tepi tapi kulihat dilla si remaja mengungkit kau kembali aha, kulihat kohar ibrahim seolah bermain mata. apa yang dilihatnya?

waktu yang mendekat serupa tanah yang menampakkan diri. jangan dulu, kata kohar. aku sapa dia dan kubarut kakinya. belum waktunya, kataku. mungkin ia mau datang padaku. mungkin ia mau datang padamu. mungkin ia mau datang pada kita.

aku melihat lubang kata kata yang pecah di tanganmu, neon neon hendak menampalnya tapi dia tak menampalnya: dia sendiri pun sibuk membebahi lubang pecah di kakinya. ia hentakkan kakinya tapi lubang itu malah bocor seperti separuh langit afrizal malna.

cpunai sang dila gadis remaja yang bersinar lampu neon neon dari wajah kohar. aku pegangi tubuh kalian dan knop lampu kutekan sampai mati tapi lihatlah sinarnya hidup kembali.

kalian tahu bahwa kita tak tahu seperti aku tahu bahwa kalian tak tahu.

mari menari bersama tuhan
bersama setan

mari menari bersama tuhan
bersama hudan

aduh cpuni duri di hati

hudan

*


(II)
C.Punai :

--- In Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com, "c.punai" wrote:

aduh duh tuan nampak hampa
memang orang-orang tak mengerti kita
mahunya kita di bawah telunjuk mereka.

aduh duh tuan janganlah kecewa
ada yang bersama kita
dalam suka dan duka
yang bertahta di dalam jiwa.

aduh duh tuan janganlah hamba dan kecewa
bikin luka,
kita terluka mereka tambah suka dan gembira.

aduh duh tuan yang bijaksana
bahagia bukan dimereka
yang tak pernah mahu mengarti kita.

aduh duh tuan mari terus cipta kata-kata
dikata-kata bisa dijumpa sejahtera
yang bisa menenang minda dan jiwa.

aduh aduh tuan
kadang sendiri menang lebih berarti
memurni dan mengharmoni hati.

aduh duh tuan
apa arti berbasa-basi
kalau tiada jujur di hati.

aduh duh tuan
ini rap untuk tuan yang sedang patah hati
melodinya kena tuan cipta sendiri.
hihihi....

salam kenal tuan,
cpunai
dari brunei

*


Hudan Hidayat :

-- In Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com, "hudanhidayat"  wrote:
aku jadi ingat sama kawanku bobby fiser. dia jenius catur yang lalu menolak bertanding lagi. terus puluhan tahun kemudian kubaca lagi tentang dia: seorang jenius catur mati kesepian di usia tuanya. ditusuk oleh orang tak dikenal dan sang jenius ini saat ditusuk dalam keadaan miskin, terlunta, putus asa, dan dalam keadaan mabuk.

indah sekali pilihanmu kawanku. memang begitulah seharusnya hidup: tak perlu berkawan sama orang. hidup sendiri saja.
 
tapi mengapa kamu mati ditusuk?
 
nasib ya.

ah nasib.

*

(I)
Hudan Hidayat :

--- In Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com, "hudanhidayat"  wrote:
mulai hari ini aku tak mau buat esai atau bantu bantu kawan yang kukenal lagi. capek. lelah. ujung ujungnya juga kita yang kena salah. baik dikatakan mau tidak dikatakan. tapi kan kita kadang tahu maksud orang yang marah pada kita. jadi mendingan nulis semau kita sajalah. apalagi menulis tentang orang yang belum pernah kenal pada kita.

tetap aja walau kita baik kepada orang kita yang kena salah kalau laku kita kebetulan tak pas sama keinginan orang.

mulai sekarang sungguh sumpah aku gak mau lagi hadir di acara budaya apa pun kecuali aku sendiri yang memang mau datang.

hidup sendiri sunyi sendiri seperti yang selama ini kujalini sudah keren abis kok.

secara aku yang paling malas ribet perasaan ini inilah yang paling asyik untukku: sendiri, sunyi, kalau aku pun kelak mati, biarlah aku mati sendiri. aku tak butuh kawan atau teman untuk mati. biar aja mayatku tak usah dikubur tak apa, karena aku harus fair juga telah jadi orang yang egois.

keren juga kan kita mati dan tubuh kita membusuk langsung bersatu dengan bumi. lagi pula untuk apa dikubur kubur. kita hidup sendiri tak butuh orang lain. orang lain pun tak butuh kita.

oh indahnya hidup sunyi sendiri.

aku tak mabuk nulis ini. sepenuhnya sadar. tapi hatiku sudah terlalu banyak memendam perasaanku sendiri.

ah kamu itu hudan hehe

hudan hidayat

***

Daftar Caleg DPRD Kab. Sumbawa

Daftar Caleg DPRD Kab. Sumbawa

Sumbawa, Sumbawanews.com.- Bingung dengan pilihanmu dalam pada pemilu mendatang??? Pingin tahu siapa saja yang menjadi caleg, silakan buka lampiran dibawah ini.

 


Sumber : Media Centre KPUD Sumbawa

 

Antologi Pemilu

Partai Baru empat puluhan persen penduduk negri angin timur mendadak terkumpul di sebuah maha aula ditengah kota mereka berbulat tekad akan mendirikan partai baru sebagai pilihan baru partai pemilu di dewan negeri partai golput namanya...... ----------------- puluhan juta kepala riuh rendah suara tak jelas bicara apa seseorang berkacamata tampil kedepan dengan papan tulis didadanya dengan lantang ia berkata sodara - sodara ,.... mari kita pilih ketua kita satu jam menunggu dua jam menunggu..... ................................. sepuluh jam menunggu sepi........... tak ada yang acungkan jari bahkan tak ada yang acuhkan si kacamata dengan papan tulis di dadanya semua bercakap sendiri, bergumam bernyanyi, tertawa, berdebat, berteriak semua hal dilakukan... selain.... melihat si kacamata dengan papan tulis di dadanya si kacamata ; (ahhh........bodohnya aku, kenapa juga kusuruh tunjuk jari, ini kan rakyat golput !?) ---------- di daftar hadir aula siang itu ada tertulis nama dan alasan memilih golput ada diantaranya yang sekian kali pemilu tak bisa hadir karena tak bisa tinggalkan lapak pasar yang memang sudah sepi pembeli karena semua pembeli hanya mau ke kerfor atau matahari..... raksasa pasar yang tanpa iba menginjak-injak bumi pertiwi ada juga yang sekian kali pemilu tak bisa hadir karena mengejar setoran angkot cari penumpang yang memang sudah sepi karena semua orang mudah dapat kridit motor bebek atau kalah dengan busway yang dingin ada juga yang sekian kali pemilu tak bisa datang karena jarak dari ia tinggal ke tps bisa seharian berjalan bahkan dipeta negeri nama desanya tak pernah dijumpai ada juga yang muak kepada siapa saja yang memimpin negeri ini entah itu s-b-j, m-g-w-t, s-h-t, g-w-t, g-s-d, b-j-g, b-g-g c-l-b, g-t-l, b-m-w sama saja tak ada beda hasilnya juga sama, di mata mereka kami hanya angka yang disodori pas photo sebesar baliho hanya angka dimeja politik mereka....... bahkan angka kami diperebutkan untuk menambah perolehan tanpa seijin kami ------ lalu si kacamata dengan papan tulis didadanya bertanya, lalu apa tujuan kalian mendirikan partai ini ? mereka menjawab serentak : "Kami hanya tak ingin terkena fatwa dan masuk neraka" "Kami hanya akan memilih partai ini untuk sebuah negeri yang hadir ketika kami bermimpi............" Maka lahirlah partai baru dengan bendera warna putih bersih tanpa ketua tanpa bendahara -to be conclused- Bangkitlah Negeriku dan Semoga Harapan Itu Bukan Sia-Sia (sebuah puisi skeptis atau .....realita ??) aku berharap jangan lagi dijarah gunung emas irian jaya oleh amerika hingga kita hanya dapat sisa lubang kosong menganga dan sampah merkuri berbahaya aku berharap jangan lagi minyak lepas pantai dikuras juga oleh amerika hingga kita hanya dapat tong kosong tak bersisa aku berharap undang undang anti pornografi tidak ompong seperti saat ini hingga kita terperanjat tentang kabar pagi buku esde bergambar bikini aku berharap indonesia bukan negara sinetron, yang memasang sandingkan artis di kursi kursi wakil rakyat atau kepala daerah tanpa melihat kapabilitas, dan bukankah selama ini mereka hanya bisa menangis dan berteriak teriak overacting di tivi ? aku berharap slogan partai dan janji surga tak hanya berhenti di speaker speaker ribuan watt saat kampanye, manis sesaat dibuang kemudian dan jika pesta itu dimulai jangan ada lagi goyang cabul penarik massa atau memuja simbol layaknya dewa atau berteriak golonganya paling benar atau raungan motor membuang buang bensin sia sia kotori udara atau nyawa yang melayang percuma aku berharap siapapun yang tampil, tampillah seperti gadis jelita, cantik jasmani ruhani bersih luar dalam tanpa harus mati matian promosi laksana magnet penuh pesona. aku berharap pada wakil rakyat terhormat tak ada lagi hikayat tabu dan korupsi bermunculan di media dan gedung dewan berubah menjadi tempat terhormat yang khusyu membicarakan rakyat (villa mutiara 2101) puisiiniditulisdirumahsaya-bukandikantorsaatkerja dengankomputermurahrakitanpakwidadi NYALEG Spanduk besar ukuran baliho seperempatnya bagian adalah gambar wajahmu Nama dan bajumu kau alim alimkan gelar kau intelek intelekkan senyum kau manis maniskan Seolah berkata pilih aku pilih aku Janji dan semboyan pun kau tuliskan semudah menjumlah angka angka hitungan teka Angin bertiup Spanduk berkibar Ada tulisan yang sangat kecil, bahkan tak kasat mata... Tulisan tentang niat dirimu.... saya berjanji tidak akan korupsi atau yang terbanyak saya hanya korupsi barang sedikit seratus atau limaratus rebu tak ada yang marah... atau yang paling memalukan dan juga banyak... selamat berjumpa di acara kapeka, karena saya adalah tersangka utama ha ha ha sumber:eko.prasetya@sanyo-sei.co.id (eko- selamat memilih atau dipilih)

Terakhir Diupdate ( Jumat, 13 Februari 2009 22:25 )

SITOYEN SAINT-JEAN : ANTARA HIDUP DAN MATI

SITOYEN SAINT-JEAN : ANTARA HIDUP DAN MATI

SITOYEN SAINT-JEAN : ANTARA HIDUP DAN MATI

Novel :
A.Kohar Ibrahim

Dari Penerbit : Novel Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati ini berkisahkan seorang anak manusia, salah seorang putera kelahiran Jakarta 1942 yang mencintai tanah tumpah darahnya, bangsanya, kebudayaannya dan tentu saja Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Namun setelah keberangkatannya pada 27 September 1965 ke Tiongkok kemudian terjadi Tragedi Nasional 1965, anak tunggal pasangan Ibrahim & Maemunah yang memiliki cita-cita dan ragam impian ini terpaksa menjadi salah seorang yang oleh mantan Presiden R.I. Gus Dur sebagai « kaum kelayaban » di Mancanegara alias kaum eksilan.

Bagaimanakah jejak langkah dan warna-warni jalur jelujur kehidupan anak bangsa yang lahir dan dibesarkan serta kiprah dalam perjuangan hidup sampai usia 23 tahun tapi lantas harus terpaksa jadi pengelana buana selama lebih dari empat dasa warsa ? Bagaimana dia menjaga cita dan cinta serta impiannya sejak masa bocah ? Bagaimanakah dia menjawab pertanyaan dan memaknai Hidup dan Kehidupan bahkan Kematian ?

Kiranya pembaca bisalah memahaminya dengan menyimak novel pendek ini – sebuah karya prosa yang tergolong bergaya realisme romantis malah biografis – dari awal sampai akhirnya.

Selanjutnya...
Halaman 10 dari 21

Editorial

Illegal Mining Tetap Berlangsung
11/07/2010 | Indra Jaya
article thumbnail

Sumbawa, Sumbawanews.com.- Meskipun Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah mengeluarkan peringatan keras akan menindak tegas pelaku illegal mining di O;lat Labaoang Kecamatan Lape, tetapi peringatan itu t [ ... ]


Editorial Lainnya

Iklan Baris

Shout Box

Archives Pesan
30/07sayapa rungan
29/07akihiroketika tentara jepang kalah pada perang dunia II..jepang di wajibkan menyerahkan seluruh harta rampasan perang kpd sekutu di hawaii... 3 kapal perang jepang yang membawa harta rampasan berupa emas, permata dan kekayaan kerajaan2 di asia tenggara hilang dlm perjalanan menuju hawaii... di sinyalir ketiga kapal itu sengaja di tenggelamkan di pantai selatan sumbawa.. seluruh harta di masukkan kedalam gua di tengah hutan sumbawa..seluruh pasukan dan harta tersebut di bom bersama2 dlm gua tersebut... foto satelite nasa menunjukkan ada gundukan logam mulia di daerah dodo..itulah mengapa newmont berkeras memperluas wilayah tambangnya ke daerah tersebut... krn di belakang newmont ada raksasa keuangan jepang bernama sumitomo..yg berniat mencari harta tersebut..
29/07jackharta karun itu di kuasai ghoib... begitu pula emas..dia kan muncul di suatu daerah tertentu.... kemudia pada saatnya nanti dia akan hilang lg.... jd mumpung lg muncul..ya serbuuuuuuuuuuuu
29/07isdjsiayas
29/073321boddddddddo
29/073321:)
29/07hendrotak sabar ingin melihat sumbawa lebih maju dari daerah lain
29/07oriebuktikan!
29/07bosangsekali AN-NUR tetap AN-NUR menang!!!
29/07dewi gi mna cara qta cara masukin baesiswa ke pt.newmont
29/07MukhlisNonda ade nonda pang tana Samawa
29/07MukhlisRoa gama balong tana samawa pang tin-tin amgkang mudi....Amin...
28/07SryOlat cabe adlh calon lokasi penambangan. tp sayang Bupati sudah meneken bln 4 kmrn tanpa pengetahuan Rakyat. Apakah Anda msh mw bilang LANJUTKAN......?
28/07ivanmau sampai kapan lingkungan kita tercemar?karna penambangan ilegal di olat labaong... apa tidak mikir dampak apa yang akan kita rasakan?
28/07lipensemoga masyarakat yang melakukan penambangan ilegal di olat labaong diberi kesadaran oleh tuhan.... janganlah anda merusak kelestarian alam dengan kesenangan jangka pendek

RSS Feed

feed-image Feed Entries