SHARE

Sumbawanews.com.- Empat mahasiswa program studi ilmu komputer dan satu mahasiswa program studi geofisika UGM menciptakan aplikasi Quick Disaster dan Realive yang saat ini menjadi salah satu produk yang dikembangkan oleh Google. Mereka adalah Daniel Oscar Baskoro (manajer proyek), Zamahsyari (pemrogram), Bahrunnur (pemrogram), Sabrina Woro Anggraini (copy writer), dan Maulana Rizki Aditama (analis data).

Kisah ini berawal saat Oscar diundang untuk menghadiri workshop Google Map di Amerika Serikat pada pertengahan November 2013. Sepulang dari workshop tersebut, Daniel mendapatkan undangan kembali untuk mengikuti program Explorer Glass. Di sana, developer terpilih yang memiliki wewenang untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai Google Glass.

Tantangan selanjutnya yang dirasakan Oscar dan tim yang adalah kurangnya sumber referensi ketika menemukan masalah di Google Glass, karena memang pengembang untuk Google Glass masih sangat sedikit di Indonesia. Sehingga ketika ada bug, tim-nya harus menyelesaikannya sendiri.

Tapi dengan kerja keras, Quick Disaster tercipta dan langsung mendapat trofi pada acara penghargaan Understanding Risk Forum di ExCel, London. Selain itu aplikasi ini juga memenangkan kompetisi aplikasi yang digelar Bank Dunia, Code For Resilience, di London, Inggris, 30 Juni 2014.

Dengan Quick Disaster, pemakai Google Glass akan dipandu untuk menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Untuk mengaktifkannya, pemakai cukup mengucapkan, Okay Glass. Pengguna Google Glass disajikan informasi mulai riwayat bencana di suatu daerah hingga solusi agar tidak menjadi korban.

Setelah sukses dengan Quick Disaster, Oscar dkk menelurkan aplikasi serupa, Realive. Aplikasi ini dikembangkan di Android Wear, perangkat rilisan Google berbentuk jam tangan. Android Wear bisa dihubungkan dengan telepon genggam.

Dengan memakai Realive, pertolongan bisa dilakukan dengan cepat karena informasi langsung ditujukan kepada petugas di sekitar lokasi kecelakaan dengan menggunakan perangkat pakai.

Realive meraih predikat Best Public Safety App dalam kompetisi aplikasi yang dihelat AT&T dan IBM di jantung industri teknologi dunia, Sillicon Valley.

Semua aplikasi yang dibuat Oscar dkk tidak diperjualbelikan. Mereka tidak mau mengambil untung lantaran hanya ingin mengabdi kepada masyarakat. Kendati demikian, hak paten tetap ada pada mereka.

Di tengah masyarakat yang ‘mendewakan’ uang, Oscar dkk justru mengabdikan ilmunya untuk keselamatan warga negara. Hal ini tentunya patut dicontoh dan dibanggakan.(CBI/sn01)

SHARE
Admin Sumbawanews