Mantan Sekjen Kemendagri Beberkan Modus Operandi Kasus Korupsi E KTP

Mantan Sekjen Kemendagri Beberkan Modus Operandi Kasus Korupsi E KTP

SHARE
Mantan Sekjen Kemendagri Diah Anggraeni

Jakarta, Sumbawanews.com. – Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraeni membeberkan sejumlah keterangan yang berkaitan dengan modus operandi terjadinya dugaan korupsi pada proyek KTP Elektronik. Penjelasan Diah itu terungkap dalam sidang sidang kasus korupsi proyek e-KTP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (16/3/2017) kemarin.

Mantan Sekjen Kemendagri Diah Angraini
Mantan Sekjen Kemendagri Diah Anggraeni

ebagaimana diketahui, dalam dakwaan Irman dan Sugiharto yang dibacakan Jaksa, Diah Anggraini menerima uang 2,7 juta dolar AS (setara Rp 24,5 miliar) dan Rp 22,5 juta.

Diah berterus terang mengaku dirinya menerima aliran dana 500 ribu dolar AS atau setara Rp 4,5 miliar dari terdakwa Irman dan pengusaha Andi Narogong. Uang itu diberikan secara bertahap pada 2013.  Irman terlebih dahulu memberi uang 300 ribu dolar AS, menyusul Andi yang memberikan uang 200 ribu dolar. Uang 300 ribu dolar AS yang diantar sendiri oleh Irman diterima Diah Anggraeni di rumahnya. Sementara dari Andi, uang itu diterima Diah di kantor Kementerian Dalam Negeri.

Saat pemberian dari Irman, Diah menerima. Ia juga tidak ingin mengetahui dari masa asal uang yang diberikan Irman.

“Saya tidak punya pemikiran negatif terhadap Pak Irman, Yang Mulia,” kata Diah Anggraeni menjawab Majelis Hakim.

Diah mengaku, pemberian dari Andi tak berselang lama dengan waktu pemberian uang dari Irman.

“Andi Agustinus datang kepada kami dan memberikan uang. Saya tanyakan ini uang e-KTP ya? Menurut dia bukan. Saya waktu itu belum terpikir. (Kemudian saya bilang) nggak usah, namun ditingaal begitu saja di meja kami,” tutur Diah Anggraeni.

Diah kemudian menghubungi Irman terkait pemberian dari Andi itu. Diah mengaku ingin mengembalikan uang itu kepada Andi. Kepada Diah, Irman mengingatkan bahwa jika ingin mengembalikan uang itu maka sama dengan bunuh diri.

“Pak Irman kok banyak sekali? Ada dari Pak Irman, ada dari Pak Andi. Saya mau kembalikan ini. Kata beliau, kalau dikembalikan berarti ibu bunuh diri,” ucap Diah.

Setelah disergah dengan jawaban Irman itu, Diah memutuskan untuk tidak mengembalikan uang itu kepada Andi dan Irman. Diah mengaku hanya menyimpan uang sebanyak itu selama hampir setahun. Namun, saat ia diperiksa penyidik, uang itu diserahkan kepada KPK.

Majelis hakim lalu menyampaikan pertanyaan kepada Diah mengapa baru ada keinginan mengembalikan uang kepada Irman setelah seminggu menerimanya.

“Saya waktu itu sibuk, kebetulan banyak kegiatan setelah (penerimaan) kedua dari Andi. Lho kok ini terus-terusan dari Pak Irman dan dari Pak Andi,” kata Diah.

Hakim juga menanyakan alasan Diah tidak bertanya kepada Irman dan Andi saat menerima uang yang sangat besar tersebut.

“Kami tidak berpikir sampai ke sana. Saya mohon maaf. Saya pikir Pak Irman memikirkan kami dari rezeki beliau,” jawab Diah.

Selain soal aliran uang dari Andi dan Irman, Diah juga menjelaskan terkait adanya pesan rahasia Ketua DPR RI Setya Novanto. Pesan itu ditujukan kepada Irman melalui Diah Anggriani. Novanto minta Diah agar mengingatkan Irman untuk mengaku tidak mengenal dirinya.

“Kebetulan kami baris mau salaman dengan Ketua BPK. Beliau di belakang saya, itu Irman sampaikan bahwa dia tidak kenal sama saya,” ucap Diah.

Pesan itu tidak pernah disampaikan Diah kepada Irman secara langsung. Pasalnya, Diah tak lagi menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kemendagri. Diah kemudian menitpkan pesan tersebut kepada Arif Fakrulloh, Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Ketua DPR RI Setya Novanto disebut-sebut pernah memanggil beberapa pihak untuk membahas proyek KTP Elektronik. Pertemuan itu digelar di Hotel Gran Melia Kuningan, Jakarta. Pertemuan itu juga menghadirkan Andi Narogong, seorang pengusaha.

Dalam pertemuan itu, hadir pula beberapa pihak, antara lain eks Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, politisi PDI Perjuangan Olly Dondokambey dan politisi Golkar Melchias Markus Mekeng juga Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraini.

Diah mengaku dirinya pergi ke Hotel Gran Melia atas undangan pengusaha Andi Narogong. Namun ia tidak mengetahui siapa yang mengundang Setya Novanto dalam pertemuan itu.

“Saya tidak tahu (inisiatornya). Waktu di Hotel Melia, kami itu kalau ada acara Pak Irman selalu libatkan kami. Dengan Pak Setya Novanto, Pak Irman, Sugiharto, dan Andi Agustinus,” kata Diah di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (16/3/2017).

Dalam pertemuan itu, Diah menjelaskan, Setya Novanto berpesan agar menjaga pelaksanaan proyek E-KTP.

“Kami disampaikan di Depdagri (Kementerian Dalam Negeri) ada program e-KTP yang juga program strategi nasional. ‘Ayo kita jaga sama-sama’. Hanya itu,” tutur Diah.(Erwin S)

 

 

SHARE