Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Home Berita Utama Inilah Isi Email Prita Mulyasari Yang Saat Ini Ditahan di LP Wanita Tangerang

Inilah Isi Email Prita Mulyasari Yang Saat Ini Ditahan di LP Wanita Tangerang

E-mail Cetak PDF
Indeks Artikel
Inilah Isi Email Prita Mulyasari Yang Saat Ini Ditahan di LP Wanita Tangerang
email hal.2
Semua Halaman

Sumbawanews.com.- Kasus Prita Mulyasari yang sedang menghangat belakangan ini patut menjadi perhatian bersama disaat kemajuan teknologi bisa menyapa siapa saja. Bermula dari surat pembaca dan email yang tersebar diberbagai millis, kini Prita Mulyasari  ditahan  sejak 13 Mei 2009 di LP Wanita Tangerang, Banten dan harus menghadapi persidangan pidana. Dia dijerat Pasal 27 Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Prita digugat oleh RS Omni karena dia mengeluh tentang pelayanan RS itu lewat email.

Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca detik pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif


Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.  Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Silakan lanjutkan kehalaman berikutnya



Komentar
Buat Baru Cari RSS
+/-
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch::(:shock:
:X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s:!::?::idea::arrow:
 
Silahkan Masukkan Kode Anti spam.
rheee   |222.124.150.xxx |11-06-2009 18:04:10
saya juga sangat prihatin atas derita yang di alami jangan mentang2 rumah sakit internasional maunya senak saja mendiaknosis pasien demi mengejar keuntungan untuk perusahaann ato sebaliknya. lebih oleh pemerintah rumah sakit yang seperti itu di tutup saja sebelum berdampak pada masyarakat yang lebih banyak lagi...... maju terus ibu Prita kami semua mendukung anda......... setidaknya menjdi bahan pertimbangan bagi kita msayarakat agar lebih berhati-hati pdawaktu memeriksakan diri kerumah sakit...... KAMI MENDUKUNG MU
nnnnn.  - erghhhhhhhhhh   |125.160.110.xxx |11-06-2009 18:23:58
xxxxx  - Huummppfff...   |125.160.250.xxx |12-06-2009 22:10:29
Hukum adalah lembah Hitam!!!!!
bondan....   |125.165.136.xxx |13-06-2009 11:48:30
bagus lah semua ini terkuak ke publik,jadi jadi pelajaran buat semua orang bahwa NGA SEMUA RUMAH SAKIT BESAR PUNYA KUALITAS YANG BESAR PULA.
pikir lagi deh,sekarang banyak RUMAH SAKIT MATREALISTIS yang penting UANG kualitas NO.100,

MBAK PRITA jangan takut maju terus yaaaaaaaaa
adjie   |125.164.252.xxx |13-06-2009 18:58:18
memang bangsat rumah sakit omni tu. dokternya anjing semua, monyet semua... q doain semoga keluarganya dokter2 yg menangani bu prita akan sama mengalaminya..... ini doanya orang banyak!!! nanti kalau tetap seperti itu, kita hancurkan aja rumah sakitnya bareng2, biar mampus tu dokter!!!!! puki ayam dokter H.
hasnita  - sabar ibu prita...   |202.70.61.xxx |14-06-2009 21:51:33
sabar ya bu prita,,,insya Allah anda akan menang dunia dan akhirat...tetep semangat. salut buat bu prita.
VirGinia   |192.172.226.xxx |15-06-2009 10:19:53

"serapih-rapihnya bangkai di simpan, baunya akan tercium juga",
peribahasa itu sepertinya tepat untuk kejadian ini jika memang itu yang sebenarnya.
saya harap kejadian ini tidak terulang buat yang laennya.
Harusnya diniatkan dari awal kalo yang namanya rumah sakit jangan dijadikan bisnis. Inilah akibatnya. jadikanlah rumah sakit ini sebagai suatu niatan sosial tanpa mengunduh profit.
Cukup 1 RS yg seperti ini, Semoga Pasien dan RS lain mengambil pelajaran dari semua ini.
Ferry Leonardi  - SE   |202.152.195.xxx |15-06-2009 10:39:11
salam perjuangan untuk kak prita, kami smua mendukung mu, sampai kapan pun kebenaran tetap kebenaran, ng akan berubah menjadi kebohongan. ayo kita smua tegakkan kebenaran di negeri tercinta ini.

sakit anda kami rasakan,,,,,
Denni  - benar benar deh...???   |122.200.6.xxx |15-06-2009 16:27:44
Berjuang trus Ibu Prita.... semoga kesehatannya kembali lagi seperti semula.

saya juga pernah mengalami hampir sama kasusnya seperti kasusnya Ibu Prita, tepatnya Ibu saya yang di rawat dan saya yang menjaga Ibu saya selama di RS.

Sebelum Ibu saya masuk RS masih bisa berjalan, mandi sendiri dan makan sendir, pokonya ngapa ngapin masih bisa sendiri.

Tapi setelah dibawa ke RS, Ibu saya di periksa dan menjalani rawat inap. 1 hari pertama masih perawatannya masih normal baru hari berikutnya mulai ga benar.

Dr yang menangani Ibu saya susah banget untuk ditemuin, dan kalo kita menanyakan penyakit yang di derita Ibu saya kepada perawatnya. Mereka bilang tidak tau dan yang tau penyakit ibu saya itu cuman Dr nya saja.

Setiap saya tanya perawatnya mereka sealu bilang tidak tau mas tanya Dr nya aja ntar .... pada hal untuk bertemu Dr nya saja tidak bisa.

Kalo Dr nya tiap pagi mau memeriksa pasien, semua orang yang menjaga saudaranya yang sakit di RS itu disuruh keluar dan pintunya di tutup, jadi yang ada di dalam ruangan tiu cuman Dr sama perawatnya saja.

Habis meriksa pasien satu ruangan pindah ke ruangan lain lagi, jadi tidak ada sama sekali kesempatan kita untuk menanyakan penyakit yang di derita Ibu saya, dan kalau ditaya ruangannya perawatnya cmn bilang ga bisa ditemuin.

Sampai Ibu saya di pindah ruangan khusus dan di oksigen karena kaya sesak nafas gitu saya masih menanyakan penyakit Ibu saya kepada perawatnya, tetep aja jawabannya tidak tau.

Sampai pada hari terakhir saya mencegat Dr nya di jalan mau keruangan, saya tanyakan apa penyakit yang diderita Ibu saya, Dr nya menjawab dengan jutek bahwa Ibu saya menderita penyakit paru paru dan jantung, trus saya ko kondisi Ibu saya bukannya tambah baik ko tambah parah aja, Dr nya menjawab bahwa Ibu saya semnjak masuk sudah menderita paru paru dan jantung.

Tapi pada awal kedatangan kami ke RS itu mereka tidak menjelaskan penyakit Ibu saya dan langsung menyarankan supaya Ibu saya langsung rawat inap gitu.

Dan sampai pada akhirnya Ibu saya meniggal di RS tersebut, Dr yang menangani Ibu saya tidak ada di tempat dan saya teriakin perawatnya, Dr jaganya juga tidak ada kata perawatnya.

Pada saat itu saya sangat emosi kepada RS itu, saya mau memukul perawat perawatnya karena mereka bilang Dr di RS itu lagi tidak ada, inilah RS paling bobrok menurut saya. Masa pada satu waktu tidak ada sama sekali Dr yang stanby.

mudah mudahan untuk kedepannya RS itu tidak melakukan hal seperti itu lagi kepada pasien pasien yang lainnya, karena kalo kita dateng ke RS bukannya untuk menambah sakit dan menambah bingung. Tapi kalau kita datang ke RS itu kita mendapatnya parawatan yang sewajarnya sehingga pasien yang di rawat mendapat kesembuhan dari penyakit yang di deritanya.

mudah mudahan kalimat saya tidak ada yang salah ya, soalnya saya takut kalau ada kalimat saya yang salah di penjarain lagi, heheehhehe
Denni  - benar benar dehh ....   |122.200.6.xxx |15-06-2009 16:30:05
Berjuang trus Ibu Prita.... semoga kesehatannya kembali lagi seperti semula.

saya juga pernah mengalami hampir sama kasusnya seperti kasusnya Ibu Prita, tepatnya Ibu saya yang di rawat dan saya yang menjaga Ibu saya selama di RS.

Sebelum Ibu saya masuk RS masih bisa berjalan, mandi sendiri dan makan sendir, pokonya ngapa ngapin masih bisa sendiri.

Tapi setelah dibawa ke RS, Ibu saya di periksa dan menjalani rawat inap. 1 hari pertama masih perawatannya masih normal baru hari berikutnya mulai ga benar.

Dr yang menangani Ibu saya susah banget untuk ditemuin, dan kalo kita menanyakan penyakit yang di derita Ibu saya kepada perawatnya. Mereka bilang tidak tau dan yang tau penyakit ibu saya itu cuman Dr nya saja.

Setiap saya tanya perawatnya mereka sealu bilang tidak tau mas tanya Dr nya aja ntar .... pada hal untuk bertemu Dr nya saja tidak bisa.

Kalo Dr nya tiap pagi mau memeriksa pasien, semua orang yang menjaga saudaranya yang sakit di RS itu disuruh keluar dan pintunya di tutup, jadi yang ada di dalam ruangan tiu cuman Dr sama perawatnya saja.

Habis meriksa pasien satu ruangan pindah ke ruangan lain lagi, jadi tidak ada sama sekali kesempatan kita untuk menanyakan penyakit yang di derita Ibu saya, dan kalau ditaya ruangannya perawatnya cmn bilang ga bisa ditemuin.

Sampai Ibu saya di pindah ruangan khusus dan di oksigen karena kaya sesak nafas gitu saya masih menanyakan penyakit Ibu saya kepada perawatnya, tetep aja jawabannya tidak tau.

Sampai pada hari terakhir saya mencegat Dr nya di jalan mau keruangan, saya tanyakan apa penyakit yang diderita Ibu saya, Dr nya menjawab dengan jutek bahwa Ibu saya menderita penyakit paru paru dan jantung, trus saya ko kondisi Ibu saya bukannya tambah baik ko tambah parah aja, Dr nya menjawab bahwa Ibu saya semnjak masuk sudah menderita paru paru dan jantung.

Tapi pada awal kedatangan kami ke RS itu mereka tidak menjelaskan penyakit Ibu saya dan langsung menyarankan supaya Ibu saya langsung rawat inap gitu.

Dan sampai pada akhirnya Ibu saya meniggal di RS tersebut, Dr yang menangani Ibu saya tidak ada di tempat dan saya teriakin perawatnya, Dr jaganya juga tidak ada kata perawatnya.

Pada saat itu saya sangat emosi kepada RS itu, saya mau memukul perawat perawatnya karena mereka bilang Dr di RS itu lagi tidak ada, inilah RS paling bobrok menurut saya. Masa pada satu waktu tidak ada sama sekali Dr yang stanby.

mudah mudahan untuk kedepannya RS itu tidak melakukan hal seperti itu lagi kepada pasien pasien yang lainnya, karena kalo kita dateng ke RS bukannya untuk menambah sakit dan menambah bingung. Tapi kalau kita datang ke RS itu kita mendapatnya parawatan yang sewajarnya sehingga pasien yang di rawat mendapat kesembuhan dari penyakit yang di deritanya.

mudah mudahan kalimat saya tidak ada yang salah ya, soalnya saya takut kalau ada kalimat saya yang salah di penjarain lagi, heheehhehe
jeztry  - Mengerikan..!     |64.255.180.xxx |15-06-2009 16:42:30
Pembeli adalah raja. Bu Prita termasuk pembeli jasa dari RS itu. Kita tau khan penjual wajib hukumnya untuk menginformasikan spesifikasi barang, yg didalam kasus bu Prita disebut jasa. Kalau RS yang terkait yang menurut saya dan teman2 semuanya tidak mau terbuka akan suatu informasi yang diperlukan untuk referensi ke RS lain, tutup zha RS itu...
moegi   |222.124.138.xxx |16-06-2009 07:28:16

jangan rumah sakitnya yang dibenci tapi, oknum yang berbuat yang harus bertanggung jawab.
apa perlu mungkin dokter2X tersebut diwawancara khusus ditelevisi ya...???
ujang   |202.70.55.xxx |16-06-2009 18:10:01
hak psien menurut uu adalah mendapatkan penjelasan yang lengkap tentang kondisi dan tindakan apa yang akan dilakukan oleh dokter. saya ngeri klu hal seperti itu sampai pengadilan. saatnya kebenaran yang akan terungkap.
herry  - Indonesia     |125.208.155.xxx |17-06-2009 15:32:34
Saya sangat prihatin dengan apa yang Anda alami, namun saya yakin Anda tidak sendiri yang mengalami hal tersebut.
Semoga Allah SWT dapat memberikan petunjuk pada orang-orang yang berbuat demikian....ya Prita.
ratih  - hmmmm   |121.100.16.xxx |18-06-2009 16:47:06
kita seharusnya berterimakasih kepada BU PRITA, karena tulisan dia inilah , kita jadi tahu bahwa ember2 international dan lain2 bukan jaminan rumah sakit tersebut profesional.

dan rumah sakit OMNI seharusnya mau menerima kritik, dan mau bersikap terbuka. bukannya malah mempidanakan.... gila bener nih rumah sakit...
emang dapat uang dari mana , kalo tidak dari pasien sendiri... udah diTUTUP aja !!!
sayuti  - dasar !!!!!   |125.162.117.xxx |19-06-2009 09:25:11
memalukan !!!!!

dasar ngga profesional

KILL
tutik  - sungguh terlalu!!!!   |125.163.129.xxx |20-06-2009 12:41:21
saya sebagai mahasiswi turut prihatin atas kejadian yang menimpa ibu prita.karena menurut saya semua tindakan keperawatan harus ada informed consent.tapi RS OMNI tidak melakukannya.jadi ini harus buat bahan pertimbangan RS OMNI.
MAKASIH.............
JIA YOU!!!!!
masyarakat  - hmmm.....   |117.103.169.xxx |23-06-2009 01:56:23
saya juga pernah mengalami pelayanan yang tidak menyenangkan di sebuah RSUD
waktu itu saya sedang menebus obat dan memastikan biaya pengangkutan jenazah (almh) ibu saya...petugas loket waktu itu cuma ada seorang...waktu saya serahkan kuitansi, si petugas itu bukannya langsung mengurus, malah nyuruh nunggu sebentar karna dia sedang nelfon,,,dari suara dan cara bicaranya, jelas itu bukan urusan kerja...tapi saya yakin dia sedang nelfon cewek.....
sungguh, seandainya saya tidak ingat ada tante saya di sebelah saya...saya ingin bilang ke petugas itu kira-kira begini "jancuk mas...ini urusan orang meninggal kok malah ditinggal santai-santai"

ini terjadi sudah lebih dari setahun yang lalu...dan cerita ini tiba-tiba menyembul dalam ingatan saya ketika membaca kasus ibu prita beberapa waktu lalu...
Dimas     |125.164.114.xxx |28-06-2009 11:34:26
OMG
maria  - pasien dan keluarga harus lebih kritis...   |110.138.192.xxx |07-11-2009 07:54:15
saya prihatin dengan kejadian yang seperti itu, namun kelurga kami pernah mengalami itu juga di RS swasta yang besar dikota kami. ayah saya diberi obat yang salah jelas salah saya yang tahu karena kebetulan saya yang jaga. saya menuntut permintaan maaf dari direktur tapi hanya staf nya yang maju, ayah saya pembengkakan pembuluh jatung tapi diberi obat syaraf 2 cc injeksi, 3 pil minum, dan 1 botol yang saya baca isinya neurotam.
puji Tuhan tidak terjadi apa2 andaikan apa2 RS seperti itu hanya bisa minta maaf dan memecat karyawanya, itu karena kesalahan prosedur bukan SALAH DOKTER. saya berdoa semoga yang dialami prita cepat selesai, jangan menyerah anda tidak salah tutut sampai OMNI ditutup.
Terakhir Diupdate ( Rabu, 03 Juni 2009 14:07 )  

Editorial

Siapa Yang Bertanggung Jawab Terhadap Illegal Mining Labaong...?
13/08/2010 | Indra Jaya
article thumbnail

Dari hari kehari bencana longsor dipusat ileegal mining Olat Labaong terus terjadi, sejalan dengan peristiwa ini puluhan korban meninggal dan luka-luka tidak dapat dihindri, tetapi aneh bin ajaib apar [ ... ]


Editorial Lainnya

Iklan Baris

Shout Box

Archives Pesan
02/09to the rheestelah tu baca isi Risalah sidang Perdana ANNUR VS KPU, yam de ya mole goro NURDIN
02/09utanbersaudarasemoga an nur cepat di lantik
02/09ikinBerhentilah menggonggong disini, karena smuanya tak berarti.
02/09buta melikeee nanta kau pe annur, maling teriak maling, mu buya bukti baju koko, no to diri lok ka beang jenset ko tau jompong ke, ma bau pilih ling tau pang jompong ana. ngaca gama balong,, bau man mo tu tomas...
02/09ocananluk tau gedo,kakenang pipis 20 rb,luk kanomda akalmupe ijar kau tukang ngelo..nantakau JM
01/09InsanSegala peristiwa
01/09InsanSegala peristiwa
01/09BillTidak perlu saling menghujat, itu bukan sifatnya orang Samawa, biarkan proses hukum berjalan dan siapun yang menang harus bisa diterima dengan lapang dada..
01/09EA UTAN Geeee nene tau annur luk ka no nene bau terima kekalahan ampa,,,tau nda ila na bae si tau nanluk na......lamen kam tu kalah man mo tu tomas...pates mo jampang swai anak nene e....lamen tu salenge tau boat nene...smata ka tau nda ila na bae si...
01/09AlJM gedo............................
01/09PUKIkawa ke ya pimpin neng de nyang2, slma 5 tahun nda perubahan2, smata mata taeng otak tu..........
31/08rerrr
31/08rerrteeeeertry
31/08xxxxxxxxxxxxxxxx
31/08mosengnengka saling hujat, dengan kalimat-kalimat ade enda tegas- tegas nan, aji no tu bedosa rua hujat tau....coba nene gita tau sidang ana kadu Nurdin ke 5 anggota KPU ana Mesra pang Jakarta ana nene pang samawa ta laga seling salenge diri nene we...sanak balong we...

Interaktif

Kamus
Cek Email
Pleno KPU Senin (23/8) menempatkan JM-Arsy Unggul sebanyak 111,961 (50.56%) dan ANNUR sebanyak 109,465 (49.44%), selisih suara antara JM-Arsy Vs ANNUR = 2,486. Total suara sah sebanyak 221,436. Selengkapnya...