Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
 
 
 
Home Berita Nasional Inilah Isi Email Prita Mulyasari Yang Saat Ini Ditahan di LP Wanita Tangerang

Inilah Isi Email Prita Mulyasari Yang Saat Ini Ditahan di LP Wanita Tangerang

E-mail Cetak PDF
Indeks Artikel
Inilah Isi Email Prita Mulyasari Yang Saat Ini Ditahan di LP Wanita Tangerang
email hal.2
Semua Halaman

Sumbawanews.com.- Kasus Prita Mulyasari yang sedang menghangat belakangan ini patut menjadi perhatian bersama disaat kemajuan teknologi bisa menyapa siapa saja. Bermula dari surat pembaca dan email yang tersebar diberbagai millis, kini Prita Mulyasari  ditahan  sejak 13 Mei 2009 di LP Wanita Tangerang, Banten dan harus menghadapi persidangan pidana. Dia dijerat Pasal 27 Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Prita digugat oleh RS Omni karena dia mengeluh tentang pelayanan RS itu lewat email.

Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca detik pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif


Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.  Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Silakan lanjutkan kehalaman berikutnya



Komentar
Buat Baru Cari RSS
+/-
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch::(:shock:
:X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s:!::?::idea::arrow:
 
Silahkan Masukkan Kode Anti spam.
Irfan Tamwifi  - Prihatin: Maunya masuk sorga masuk kandang setan   |125.164.230.xxx |03-06-2009 18:22:00
Saya prihatin dengan kejadian semacam itu. Gara2 menjaga image, managemen rumah sakit seenaknya memperlakukan pasien. Apalagi kalau sang pasien bukan orang gede.

Mungkin orang kecil memang layak jadi mainan orang kaya????????

Negeri macam apa ini??????

Saya mendukung ibu prita. dan berharap mereka yang bertindak sewenang2 diadili dan dihukum seberat2nya.
wong cilik  - turut prihatin   |202.70.55.xxx |03-06-2009 20:13:02
Saya jug apernah mengalami, persisnya anak saya.
Waktu itu hari minggu pagi, saya hanya bisa berobat ke dokter jaga di RS di kotaku. Menurut diagnosa dokter, anakku kena radang tenggorokan. diberikan antiiotik Ceffat. tapi setelah minum obat itu, panas anak saya malah naik, bahkan sampai muncul ruam - ruam merah di hampir sekujur tubuhnya, Melihat kondisi setelah 2 kali meminum obat itu malah menjadi semakin parah, saya kembali membawa anak saya ke UGD di RS yang sama pada malam harinya. Ternyata dokter jaganya sudah ganti. Oleh dokter jaga yang baru itu, anak saya sebenernya disuruh opnam. Beliau menjelaskan duduk perkaranya kl panasnya bakal naik per sekian jika tdk diberikan air sebanyak sekian...intinya sebenernya kudu diinfus supaya panasnya turun, karena anak2 pasti akan sulit disuruh minum. berbekal hasil lab, kalo anak saya hanya radang tenggorokan, saya menolak untuk opnam. Saya minta penjelasan kembali dari doketr tsb ttg penyakit anak saya, beliau mengatakan benar radang tenggorokan, tapi ruam2nya timbul karena alergi antibiotik yang sudah diberikan dokter jaga kemarin. oleh karena itu, setelah menandatangani surat keterangan menolak opnam, anak saya diberikan penurun panas lewat dubur, dan dikasih resep antibiotik yg baru dan disuruh berhenti antibitik sebelumnya. Tapi menjelang tengah malam, kondisi anak saya makin parah, timbul bengkak - bengkak di beberapa bagian. saya mulai panik. mukany abengkak, matanya bengkk...badannya merah2...akhirnya saya memaksa suami saya untuk membawa anak saya kembali ke RS untuk diopnam. Karena opnam, saya minta ganti dokter ke dokter spesialis yang biasa mengobati anak saya di RS itu juga. Ternyat dari hasil diagnosa Dokter langganan saya itu, anak saya memmang radang tenggorokan biasa...tapi kondisi alerginya yang mengharuskan dia diopnam. Sama dengan kata dokter jaga yang ke -2 . Waduh, dalam hati saya, cuma radang tenggorokan yang seharusnya bisa sembuh dalam beberapa hari terpaksa diopnam karena alergi sama antibiotik yg dikasih dokter jaga pertama. Sama semua suster, saya disalah2in katanya tidak memberitahu dokter anak saya alergi obat apa. Lha, gimana saya mau kasih tahu dokter, wong saya aja ga tau kalo anak saya alergi obat apa aja. Sejak saat itu, setiap anak saya sakit, saya selalu mengingatkan anak saya alergi CEFFAT dan sejak saat itu saya tidak pernah mau periksa ke dokter jaga yang pertama itu tadi.
sugeng  - Ikut Sedih     |202.152.172.xxx |03-06-2009 21:09:50
Bagaiman gak sedih karena mau cari kebenaran yang di tutup-tutupi pihak rumah sakit O*** sdri Prita harus mendekam di penjara. Mungkin pihak rumah sakit tidak (belum)menyadari bahwa setelah menang di pengadilan dan membawa sdri Prita ke penjara nama (besar)nya akan meredup dengan pasndangan sinis dari semua orang (apalagi komunitas milis, blogger dsb di dunia maya) akan memblacklist dengan coretan yang hitam dan gelap. Mungkin secara hukum menang dan bisa membawa si "pencemar nama baik" ke penjara namun apakah pihak manegemant RS O*** tidak berpikir efek nya klo berita ini tersebar. tentunya orang2 pada mencari berita sebenarnya tentang Prita dan menemukan cerita yang sangat panjang dan melelahkan seandainya kita (semua yang baca) berada pada posisi Prita.
Tatap semangat bu Prita.
ansori  - Jadikan Pengalaman Prita sebagai Pelajaran Berharg   |118.98.170.xxx |07-06-2009 19:48:34
Bukan hanya Bu Prita yang mengalami hal seperti ini. Pengalaman semacam ini sudah sering dialami oleh beribu bahka berjuta pasien di Indonesia. Namun lagi-lagi ketidakberdayaan mereka atau mungkin ketidaktahuan mereka akan mengadu kemana. Saya juga pernah mengalami sendiri. Anak saya demam tinggi. Kemudian saya bawa ke RSUD di kota kabupaten. Dari hasil lab, katanya anak saya menderita demam berdarah. Saya percaya saja waktu itu. Keesoka harinya dokter praktik memeriksa kondisi anak saya. Sungguh sangat mengejutkan ternyata anak saya hanya demam biasa. Bukan penjelasan dokter tersebut yang membuat saya kaget, melainkan kesimpulan petugas lab yang mengatakan bahwa anak saya terkena demam berdarah. alhasil berbagai macam obat diberikan sebelum adanya sanggahan dari Dokter tsb. yang berarti anak saya telah mengkonsumsi obat yang tidak ada relevansinya dengan penyakit yang sedang diderita. Ok! Prita, Ibu adalah pahlawan bagi seluruh pasien malpraktik di seluruh negeri tercinta ini. Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi Ibu. Amiin.
rani  - kebencian takan pernah habis bila dibalas dengan k   |202.150.64.xxx |03-06-2009 22:35:51
sedih baca kisah ibu prita, yg tegar ya bu.

ingatlah 1 hal, siapa yg berbuat jahat, dialah yg akan menerima hasil dari perbuatan jahatnya, siapa yg berbuat baik, dialah yg akan menerima hasil dari perbuatan baiknya.

dalam hidup, bukan kita atau Tuhan YME yg harus membalas perbuatan" tersebut, tapi kita sendiri yg membuat hasilnya kan kembali pada kita.
Doni  - Masukan   |125.160.98.xxx |04-06-2009 03:22:03
Turut sedih atas kasus Ibu Prita, tapi jangan patah semangat bu, kami semua mendukung ibu. Sabar ya bu.

Inti dari permasalahan menurut saya tidak adanya komunikasi antara pasien dan dokter. Mungkin dokter merasa paling pintar/tahu sehingga tidak mau ada masukan dari pihak lain. (AROGANSI).

Hali ini menunjukkan telah runtuhnya "Hak Asasi Manusia" oleh hukum dan kekuasaan.
Fuad  - Prita   |64.255.180.xxx |22-12-2009 08:37:57
Kejadian prita mestinya dapat menjadikan pelajaran bagi rumah sakit lainya,jangan karena seorang dokter tidak bisa menganalisa penyakit lalu sembarangan memberikan obat,itu namanya dukun..
anton  - Kalau begini bisa banyak yang dipenjara   |65.200.157.xxx |04-06-2009 06:21:35
Kalau kita lihat surat pembaca di Kompas tiap hari Sabtu atau Minggu , rata rata semua isinya keluhan keluhan yang substansinya sama seperti yang diungkapkan Prita di emailnya. Lalu apakah semua orang yang curhat di surat pembaca harus dipenjara??, Beginikan gaya PR model baru??, Instansi besar dan dikatakan mempunyai standar internasional harus mempunyai PR yang lebih baik dari itu, Customer service managemen yang baik, seharusnya mempunyai pola terbuka dan selalu menerima saran dan kritik yang membangun serta transparan..kita melihat ada orang orang yang tidak profesional di RS tersebut yang tidak mengerti bagaimana manajemen PR yang baik dan customer servicing yang baik..menyedihkan menyedihkan,,menyedihkan,,,buat mbak Prety sabar dulu mbak, negeri ini memang sedang sakit.
friska   |114.58.79.xxx |04-06-2009 07:21:26
Saya saran kepada semua yang berhubungan dengan RS, Dr, untuk merekam setiap pembicaraan dengan HP. Sekarang kan sudah bisa dan mudah dilakukan, kalau bisa malah direkam video sekalian...
RETTA   |125.160.101.xxx |18-12-2009 16:59:51
Saya setuju.supaya adil.
Karena kadang2 yang terjadi adalah kesalahpahaman.
Sebagai pasien, terutama dikota2 besar, sering merasa lebih tahu dari dokternya, kalau demikian..kasihan dokternya ya....
Kadang2 karena tingkat pemahaman pasien berbeda2, sehingga dia salah paham dengan keterangan yang diberikan dokter, alhasil dia akan menceritakan kepada orang lain dari pemahamannya sendiri (yang salah) dan cerita yang disampaikan pun di "edit" sendiri.
Pihak Rumah Sakit juga harusnya bertindak lebih bijaksana, karena kasus seperti ini adalah hal yang 'biasa'.apalagi kalau pasiennya bermasalah dengan keuangan, kadang2 jadi cari alasan...jadi hal ini adalah hal 'biasa'
Intinya sih...ini suatu pelajaran juga untuk tidak memberikan komentar sembarangan.....
Mitha  - Wew. .syerem   |64.255.180.xxx |04-06-2009 07:48:07
syerem na. .cm complain aj lgsg dpenjara. .yg bunuh org aj ga lgsung dpnjara
Risna     |64.255.180.xxx |04-06-2009 08:03:44
Qmy dknG bu pRta
Agung   |125.164.140.xxx |04-06-2009 08:13:36
Wah...ini yg namanya kemunduran bangsa Indonesia, sebenarnya kebebasan berpendapat sudah mulai terbuka semenjak reformasi 1998 tapi kenapa dgn kasus Prita dan RS Omni ini seakan kembali pada situasi sebelum 1998 semua pendapat yang bernada perbaikan pada kemajuan pelayanan negara malah diberangus/dibungkam
Mestinya dgn keluhan dari Prita pihak RS Omni harus introspeksi diri, berbenah bukan terus mengajukan tuntutan yang malah banyak pakar bilang jaksa salah menerapkan pasal 27 ayat (3) UU ITE.
Apakah kondisi ini yang dinamakan demokratisasi? Mana kebebasan berpendapat?
Bukankah kasus-kasus semacam ini banyak juga dimuat di kolom-kolom tertentu di banyak media/koran di Indonesia? Dan mestinya merekapun akan tiap hari dapat tuntutan serupa karena memuat berita-berita keluh kesah pembaca baik itu pada pribadi ataupun badan hukum negara atau perorangan, kan? Orang curhat dikira menghina, repot ya negara ini...makanya negara kita susah bersaing dengan negara-negara lain, disuruh maju malah mundur terus...Get wise,men!
angga darma  - lanjutkan perjuanganmu mba prita...   |114.58.49.xxx |04-06-2009 08:58:29
email yang ditulis mba prita sudah sangat sopan dan saya rasa sudah pada koridor yang sebenarnya, contoh; mba prita menyebutkan dokter "H" dengan maksud untuk tidak mencemarkan nama baik dokter tsb tp knp tim pengacara omni membalikkan fakta dengan mengatakan bahwa nama dokter tersebut ditulis jelas di email (keterangan ini didapat kemarin sore pada saat omni menggelar jumpa pers). Lanjutkan perjuanganmu mba... masih banyak org2 ditanah air ini yang masih memiliki hati nurani, kami tetap membelamu mba.....
Irma  - Saya mendukung penuh ibu Prita!!!   |202.59.163.xxx |04-06-2009 10:51:03
Saya mendukung penuh ibu Prita!! Terus maju bu! Kebenaran pasti menang ! Tuhan tidak buta, bu Prita....
Rakyat Indonesia  - Dokter Indonesia memang kurang asem..     |222.124.132.xxx |04-06-2009 11:03:25
Yang jelas rata2 dokter kita bermain di kesusahan rakyat kecil.... biaya mahal, dan bikin sakit hati..... kaya nungguin raja keluar kamar tidur..... semoga ada generasi dokter yang ikhlas berjuang karena Allah.... amiiiin...
Andre  - Bismillahirrohmanirrohim   |125.163.196.xxx |04-06-2009 11:28:11
Assalamualaikum..
Mbak prita tenang aja. Allah tidak akan menutup mata terhadap hambanya yang sabar.
Mbak Prita kalah di dunia tp menang di akhirat...
Yang penting Mbak Prita tetap ingat Allah..
seno  - semangat bu prita....     |125.163.251.xxx |04-06-2009 11:33:18
Jutaan warga Indonesia dan bahkan puluhan juta warga dunia [mungkin] jelas simpatik dengan perjuangan anda, lepas dari yang benar siapa, tp jelas itu adalah hal yang perlu di acungi jempol, bahwa anda ingin sebuah kebenaran. dan menurut saya, kerugian besar bagi O*** International Hospital, dan menurut prediksi saya, dengan menyebarnya kasus ini di media, nama baik dan kridibilitasnya akan terpuruk. Semangat bu....
oyrus  - Profesi Dokter Adalah Mulia   |117.103.175.xxx |04-06-2009 11:47:05
Sebenarnya dokter adalah sebuah profesi yang mulia, namun sebaliknya bisa tidak menjadi mulia malah akan mendapat murka jika profesi tersebut tidak di sertai dengan etika...Apakah pada ssat menuntut ilmu kedokteran tidak mendapatkan materi mengenai "etika profesi", kalau saya pikir sebenarnya semua profesi memiliki etika, hanya saja tergantung dari orang yang berprofesi tersebut memilki dan mau beretika atau tidak. Untuk mba' prita tetap semangat,mengenai email yang ada, sebenarnya sangat runtun dan sudah sangat jelas,walaupun bisa saja lawan mba' prita memutar balikkan fakta. Ini mungkin bs menjadi bahan pelajaran untuk siapa saja, "Nama baik tidak akan tercemar jika tidak ada sebabnya, sebab tercemar nama baik adalah berasal dari diri sendiri, karena tidak ada sebuah komitmen untuk menjaga nama baik"
tomi efriansyah  - Merdeka.....   |125.160.169.xxx |04-06-2009 11:47:24
Berjuang terus untuk ibu Prita.............ukapkan yang sebenarnya dan sertakan saksi dan bukti.....dan tunjukan uang bukan segalanya....tetapi kebenaran lah yang menjadi raja di dunia ini....HIDUP IBU PRITA..............
Franky  - Benar slalu yg terbaik...   |64.255.180.xxx |04-06-2009 11:48:32
kadangkala kita dperhadapkan dgn keadaan seperti ini, saya juga pernah mengalaminya... Hanya yg pasti setiap perbuatan pasti ada akibatnya. Saya percaya apa yg mereka buat akan ada balasan yg setimpal dgn perbuatan mereka. Hukum TABURTUAI berlaku buat mereka...
zarial akbar  - Amd     |61.247.3.xxx |04-06-2009 11:59:27
hukum dinegara ini dari masa kita merdeka ternyata masih bisa dijual belikan,yang berduit akan menang contoh Rs o...,saya minta agar semua orang tidak berobat lagi di Rs o.....,karena sudah jelas tidak bertanggung jawab atas pelayanan yang mereka berikan ke pasien,pasien membayar mahal hanya untuk dijadikan bahan latihan dokter praktek,nauzubilah
nnnnn  - ....   |125.162.125.xxx |04-06-2009 12:27:40

say benci dgn RS tersebut!
ganas11111111111   |125.165.105.xxx |29-09-2009 17:52:34
biaadap rmah sakit tsbt!!!!!!!!!
AJI  - BENER BUANGET   |202.91.15.xxx |16-10-2009 20:13:48
DI OCAR ACER WAE...RS. OMNI
Terakhir Diupdate ( Rabu, 03 Juni 2009 14:07 )  

Editorial

Kegagalan Paket RAHMAT: Satu Partai, Dua SK Dukungan Politik
23/02/2010 | Syahrul Salam
article thumbnail

Sumbawanews.com.- Tepat Senin (22/02), Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengumumkan hasil verifikasi terkait data pasangan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati. Sekitar [ ... ]


Editorial Lainnya

Shout Box

Archives Pesan
14/03wirman84pak andi calon yang bupati yang terhormat.kami dari penduduk maluk resetment tidak puas dengan kontrak politik yang dilakukan li lapangan sepak bola maluk .kami mohon di koreksi kembali kontrak politik tersebut,,tidak ada satupun yang menjadi saksi penandatanganan kontrak tersebut,,masyarakat resetment..kami mohon bang andi..
14/03tode miratidak bisakah pemimpin kita bersikap adil dan bijaksana????,sebab bertambah pintarnya seorang pemimpin akan bertambah juga cara pemimpin untuk melakukan penyelewengan2 terhadap masyarakat.kasihan kami rakyat kecil yang hanya bisa meratap janji palsu seorang calon,jika sudah di atas......,hanya satu kata......goodby......
14/03Erna Pakilkurangnya ilmu pengetahuan di Indonesia dan meningkatnya KKN,kalau begini terus kapan Indonesia akan maju ??????
14/03GeminiJangan heran di indonesia terjadi banyak masalah,bencana,karna ulah tangan manusia yg penuh dgn kemunafikn dan kezaliman,hrs smua sadar dan tau diri sbgai hamba Allah.
14/03ernamapinmari kita berpegang tangan untuk meningkatkan semangat belajardan mengurangi volume para TKW luar negri.semoga pemimpin kabupaten sumbawa memperhatikan hal ini
13/03wirmanKSB akan AMAN Jika Paket AmAn Yang memimpin
13/03wirman maluksaya di maluk sudah berpuluh tahun dan yang saya lihat maluk tetap saja seperti dulu...kapn perubahan itu kan datang...
12/03LA[INDA BIDOSKepada Yth: Bapak Gubernur NTB TGH Zainul Majdi, M.A, Bapak Bupati/ Wali Kota Se Pulau Sumbawa, Pimpinan DPRD Se Pulau Sumbawa, dan Seluruh LSM, Ormas, Mahasiswa di Pulau Sumbawa.
09/03emitronInfo : Iklan Baris Via SMS, Iklan Baris Kompas Via sms hub. Emitron Cs. 021 8378 5208,
09/03mamadsemoga seluruh amal, ibadah
09/03irawnkyai habat
08/03holly madisonmari kita nonton porno!!!!!
07/03salsabilasaya bagian dari warga lenangguar yg menjadi tki krna tdk adanya lapangan kerja,mdhan pmimpin muda dpt perjuangkan dodo rinti nantinya,
07/03salsabilasaya mendukung cln pemimpin muda.
07/03Komunitas BABUJUInnalillahiwainnalillahiraziun, Komunitas BABUJU mengucapkan Turut Berduka cita yang mendalam atas Meninggalnya Walikota Bima, HM. Noer A. Latif (28 Okt 1951 - 7 Maret 2010). Semoga Keluarga, Sahabat, kerabat serta masyarakat Kota Bima diberikan ketabahan dan kesabaran... Amin Ya Rabb...
 

Mainkan MP3  Ringtone Antikorupsi IKRAR
Untuk Download Klik kanan MP3 lalu Save link as

Download Ringtone MP3 Visi Misi, Klik kanan lalu save link as