Puasa 17-an

Puasa 17-an

SHARE

altHingar bingar peringatan hari kemerdekaan RI yang biasanya dirayakan dengan berbagai lomba dalam dua tahun terakhir cukup sepi dan tidak terdengar gaungnya. Dua tahun berturut-turut peringatan kemerdekaan RI bertepan dengan masuknya bulan suci Ramadhan bagi umat muslim.

Pada peringatan HUT RI tahun 2010 lalu, tanggal 17 Agustus bertepatan dengan hari pertama masuknya bulan Suci Ramadhan, sedangkan pada tahun 2011, tanggal 17 Agustus memasuki pertengahan bulan Ramadhan.

Menelusuri kilas balik 66 tahun kemerdekaan RI, Bulan Ramadhan sebenarnya merupakan tonggak penting saat proklamasi dikumandangkan. Sejarah telah mencatat  proklamasi 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1364 H, hari Jumat Legi Jam 10.00 Wib. Naskah proklamasinya dibacakan oleh Bung Karno didampingi Bung Hatta, dengan ditandai berkibarnya bendera Merah Putih.

Pemilihan tanggal 17 sebenarnya tidaklah serta merta begitu saja. Salah seorang wartawan dari Vietnam Cindy Adam, mengatakan, Bung Karno memilih tanggal 17 karena lebih dipengaruhi oleh kewajiban salat yang dijalankannya setiap hari sebanyak 17 rakaat.

Selain itu, proklamasi terjadi pada bulan Ramadhan yang dalam tradisi Islam ada suatu momentum penting, yakni pada 17 Ramadan Alquran diturunkan dari lauh mahfudz ke atas langit dunia. Sedangkan secara pribadi hari Jumat Legi bagi Bung Karno merupakan hari yang membahagiakannya.

Dalam Kalender Jawa, hari Jumat legi merupakan hari keramat di kalangan suku Jawa. Untuk wilayah Surabaya bisa dibuktikan ketika malam atau hari Jumat Legi, peziarah di makam Sunan Ampel dan wali-wali lainnya, akan lebih banyak dibandingkan dengan hari-hari lainnya.

Pemilihan angka 17 bukanlah secara tiba-tiba, tapi sudah direncanakan di Saigon, tepatnya tanggal 10 Agustus 1945. Alasannya, Bung Karno yakin bahwa angka 17 merupakan angka keramat atau angka yang mulia.

66 tahun telah berlalu, peringatan hari kemerdekaan yang bertapatan dengan bulan suci Ramadhan juga ikut berpuasa. Bukan saja semangat masyarakatnya yang ikut terkena puasa, namun juga gaung peringatan proklamasi yang di lansir oleh media cetak, elektronik dan TV juga ikut-ikut berpuasa,

Bulan Ramadhan ini sebenarnya dapat dijadikan tonggak kebangkitan bangsa Indonesia yang mayoritas Islam, namun apa daya momentum proklamasi tenggelam dengan kehadiran tokoh politik yang menjadi buronan KPK yang tak lain Nazaruddin.

Sedih memang, frekuensi tayang HUT RI ke-66 tenggelam dengan sosok sang Nazar, semua ikut berpuasa tak terkecuali Nazaruddin yang juga puasa bicara.

Semoga HUT RI ke-66 kali masih bisa menjiwai, meskipun termakan hawa puasa.

SHARE
Admin Sumbawanews