Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
 
 
 
Home Berita Editorial Manfaatkan Kepintaran Rakyat!

Manfaatkan Kepintaran Rakyat!

E-mail Cetak PDF
Adakah yang salah dari judul diatas? Ternyata ada jika dikaitkan dengan kebijakan politisi dan birokrat yang selama ini menguasai Sumbawa.

Penulis sempat terhenyak, tatkala pemilik Koran lokal Sumbawa “Pilar” mentitipkan pesan jika ingin berkompetisi sebagai pemimpin Sumbawa maka seharusnya kita memanfaatkan kepintaran rakyat. Perbincangan ini muncul tatkala pasangan calon Bupati / wakil Bupati Ikraman – Arif ( IKRAR ) mengadakan silaturrahim dengan beberapa pemilik / pemimpin media di Sumbawa.

Usut punya usut, ternyata selama ini para politisi dan birokrat hanya memanfaatkan kebodohan rakyat untuk menjustifikasi kebijakan dan janji yang diberikan selama ini. Rakyat hanya dijadikan objek tatkala pemilu dan Pilkada tiba. Rakyat seolah-olah hanya membutuhkan uang receh Rp.20ribu sampai Rp.50ribu untuk memutuskan masa depan Sumbawa lima tahun mendatang. Politisi dan Birokrat kawakan menganggap rakyat tak lebih dari sekedar selembar  surat suara yang perlu dirayu agar memilih seseorang yang telah menjanjikan sesuatu. Bahkan fakta serangan fajar menjelang pemilihan tidak lagi menjadi rahasia umum tapi sudah menjadi persaingan diantara kandidat bertarung.

Pilkada Sumbawa tinggal enam bulan lagi, doktrin pragmatisme akan tetap menjadi senjata ampuh bagi kandidat yang mempunyai amunisi lebih. Kekuatan uang akan dipertaruhkan untuk merebut EA1 dan EA2.  Dampaknya apa ? setelah terpilih suara rakyat dianggap sudah terbeli dan impas dengan sembako atau uang recehan puluhan ribu.  Resiko kebijakan yang tidak pro rakyat dianggap lumrah karena selama masa berkuasa sang penguasa berusaha mengembalikan modal yang telah dikeluarkan saat kampanye.

Demokrasi memang melahirkan kebebasan, namun kebebasan itu justru dimanfaatkan oleh kelompok elitis untuk menjadikan rakyat sebagai object disaat Pilkada atau pemilu. Pikiran “Rakyat masih bodoh, dan cukup dengan uang duapuluh ribuan” tetap menjadi pola pikir yang tidak terkikis hingga saat ini.

Mengulas lebih jauh tentang Demokrasi yang mulanya lahir didunia barat yakni pada pemberontakan Perancis kurang lebih 150 tahun lalu. Sebelum ada pemberontrakan Perancis itu, cara pemerintahan Eropa adalah otokrasi: kekuasaan pemerintah adalah ditangan satu orang saja, yakni ditangan raja. Rakyat tak ikut bersuara, rakyat harus menurut saja. Raja mengakui dirinya sebagai wakil Tuhan didunia ini.

Salah seorang raja yang demikian pernah ditanya oleh salah seorang menterinya: “Raja, apakah staat itu? Apakah yang dinamakan staat itu?” Raja menjawab: “Staat adalah aku sendiri! L’Etat, c’est moi!”. Memang raja ini adalah seorang otokrat yang tulen!.

Di dalam cara pemerintahan otokrasi itu, raja disokong oleh dua golongan. Pertama: golongan kaum ningrat, kedua: golongan kaum penghulu agam. Kedua golongan ini menjadi bentengnya raja, bentengnya otokrasi. Gabungan ketiganya dinamakan masyarakat Feodal.

Kondisi diatas mulai berubah, tatkala muncul golongan baru yang ingin mendapat kekuasaan pemerintahan. Kelas baru ini dinamakan kelompok borjuis. Mereka mempunyai perusahaan-perusahaan dan perniagaan. Mereka mulai menuntut perubahan, bahwa kekuasaan absolute bukan berada ditangan raja.

“Welnu” kata kaum borjuis, “Kekuasaan itu harus direbut!” Tetapi buat merebut, orang harus mempunyai kekuatan, padahal kaum borjuis belum mempunyai kekuatan itu.

“Nah, kata kaum borjuis sekali lagi,” kita harus memakai kekuatan rakyat jelata!”

Dan begitulah maka rakyat jelata itu oleh kaum borjuis lalu diajak bergerak, diabui matanya bahwa pergerakannya itu ialah untuk mendatangkan “Kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan!” (Liberte, Franternite. Egalite), adalah semboyannya pergerakan borjuis memakai tenaga rakyat.

Rakyat menurut, rakyat berkelahi mati-matian! Apakah sebabnya rakyat mau diajak bergerak? Sebabnya ialah bahwa nasibnya rakyat di bawah pemerintahan otokrasi itu adalah nasib yang sengsara sekali, dan bahwa rakyat itu masih kurang sadar yang ia hanya menjadi perkakas borjuis saja.

Pergerakan menang! Raja runtuh, kaum ningrat dan penghulu agama runtuh, dan otokrasi juga runtuh. Zaman berubah dengan cara pemerintahan baru yakni “Demokrasi”. Lahirlah parlemen yang wakilnya dipilih oleh rakyat.

Dalam kancah Demokrasi, kekuatan borjuis juga mengantarkan orang-orang terpilih menjadi wakil rakyat di gedung parlemen.  Tengok saja statistic anggota DPRD Kabupaten Sumbawa yang baru saja dilantik. 72.5% pekerjaan sebelumnya adalah wiraswasta, 22.5% anggota DPRD periode sebelumnya dan 5% sebelumnya sebagai PNS.
Wajah borjuis yang akan memanfaatkan kebodohan rakyat pasti terjadi, dan ini sudah terlihat disaat Pilkada lalu. Banyak dari anggota DPRD terpilih yang memanfaatkan kebodohan rakyat dengan cara menawarkan sejumlah barang dan dana agar mereka mau memilihnya. Alhasil disaat mereka terpilih dan menentukan sikap untuk mengusung siapa calon Pemimpin Sumbawa, maka factor penentu adalah berapa besar nilai sebuah kursi yang harus dihargakan.

Hampir semua kandidat yang akan menggunakan jalur partai politik dipastikan telah menyiapkan anggaran yang cukup besar dengan nilai Milyaran. “Ada kursi ada uang” itu ungkapan petinggi partai saat ditemui penulis. Mereka tidak segan-segan mematok harga sebuah kursi, bahkan kursi tersebut ibaratnya barang yang dilelang, siapa yang berani menawar tinggi maka disitulah kursi akan bertengger.

Jika kondisi ini terus berlanjut, dipastikan rakyat tetap sebagai objek dengan posisi “memanfaatkan kebodohan rakyat.”

Nah siapa yang diuntungkan dengan kondisi ini ? rakyat…dipastikan tidak!

Bagi pasangan IKRAR, memanfaatkan kebodohan rakyat bukanlah jalan yang akan ditempuh, IKRAR bukanlah tambang uang dan materi. Maka salah satu cara terbaik untuk berkompetisi dalam Pilkada 2010 nanti adalah menggunakan jalur independen dengan cara memanfaatkan kepintaran rakyat.
Komentar
Buat Baru Cari RSS
+/-
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch::(:shock:
:X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s:!::?::idea::arrow:
 
Silahkan Masukkan Kode Anti spam.
hadi  - apa yg anda cari?   |114.59.180.xxx |21-10-2009 20:57:03
semoga pasangan IKRAR dapat memanfaatkan kepintaran rakyat bukan sebaliknya rakyat yang pintar akan memanfaatkan anda. sekarang rakyat sudah bosan dengan basa basi, baik politikus, birokrat termasuk para profesional. sebelum menjabat selalu menjadi pembela rakyat setelah itu malah membabat hak-hak rakyat.
jikalau mau memberi manfaat kepada rkyat tidak mesti harus menjadi bupati atau wakil bupati. kita bisa berkarya sesuai dengan posisi kita masing-masing. rakyat tidak akan melihat jabatan apa yang kita sandang, asalkan kita bisa bermanfaat bagi mereka. lalu apa yg anda cari untuk maju sebagai kandidat???
reman alas  - gk bakalan bisa di jawab....!     |94.96.189.xxx |04-11-2009 18:50:03
seribu orang yg hidup di dunia...blom tentu ada satupun yg mo berkorban tuk orang lain...mereka punya ego masing2ingin hidup tenang dan nyaman...dan di saat ini...mereka mencalonkan diri menjadiseorang pemimpin yg akan merubah dan membangun tana samawa dan akan peduli kpd rakyat kecil..kata2 itu... sudah menjadi hiasan telinga rakyat tana samawa....dan sy sngt setuju skali dgn pertanyaan saudara hadi....dan pertanyaan itu gk bakalan bisa di jawab....! dan klo mereka para2 kandidat ingin menjadi pahlawan rakyat ato sang pembela rakyat knp pertanyaan itu harus di cuekin...knp gk di jawab...apakah para kandidat punya niat tuk memanfaatkan kebodohan rakyat,,,?maaf ble lamen sala karante tauu...reman alas,,,!
mon indra  - ikrar itu apa?   |125.167.182.xxx |17-11-2009 13:00:13
pertanyaan ikrar itu apa dan bagaimana merupakan suatu hal yang melekat didalam masyarakat di sumbawa, memang jika dilihat dari penguasaan media masa orang jelas tau tentang ikrar, tp kebanyakan masyarakat awam sumbawa belum tau tentang ikrar, jd apa pun pesan yang akan disampaikan ikrar haruslah tercitra atas keinginan masyarakat sumbawa dalam suatu bahasa tau samawa. bila ikrar mau serius tentang ikrar yang sudah dibuat, mari susun strategi dengan belajar tentang pendalaman dasar dari jiwa tau samawa
Terakhir Diupdate ( Kamis, 19 November 2009 22:48 )  

Editorial

Kegagalan Paket RAHMAT: Satu Partai, Dua SK Dukungan Politik
23/02/2010 | Syahrul Salam
article thumbnail

Sumbawanews.com.- Tepat Senin (22/02), Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengumumkan hasil verifikasi terkait data pasangan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati. Sekitar [ ... ]


Editorial Lainnya

Shout Box

Archives Pesan
09/03emitronInfo : Iklan Baris Via SMS, Iklan Baris Kompas Via sms hub. Emitron Cs. 021 8378 5208,
09/03mamadsemoga seluruh amal, ibadah
09/03irawnkyai habat
08/03holly madisonmari kita nonton porno!!!!!
07/03salsabilasaya bagian dari warga lenangguar yg menjadi tki krna tdk adanya lapangan kerja,mdhan pmimpin muda dpt perjuangkan dodo rinti nantinya,
07/03salsabilasaya mendukung cln pemimpin muda.
07/03Komunitas BABUJUInnalillahiwainnalillahiraziun, Komunitas BABUJU mengucapkan Turut Berduka cita yang mendalam atas Meninggalnya Walikota Bima, HM. Noer A. Latif (28 Okt 1951 - 7 Maret 2010). Semoga Keluarga, Sahabat, kerabat serta masyarakat Kota Bima diberikan ketabahan dan kesabaran... Amin Ya Rabb...
06/03sunandaraku bahwa islam adalah agama yang di ridhai allah??????
06/03Q_wimmungkinkah perubahan terjadi di suatu wilayah, apabila pemimpinnya tidak mengerti dengan keadaan ruang atau bahkan tidak mengindahkan aspirasi masyarakatnya
05/03lliii
03/03joe
03/03joe
02/03harymencari..
02/03mamadjadikan pulau sumbawa sebagai percontohan bagi daerah2 yang lain
02/03mamadbila ingin sukses dalam meniti kehidupan awali dengan kejujuran
 

Mainkan MP3  Ringtone Antikorupsi IKRAR
Untuk Download Klik kanan MP3 lalu Save link as

Download Ringtone MP3 Visi Misi, Klik kanan lalu save link as