Bima, Sumbawanews.com.-
Ratusan mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa, Rabu (26/11), berunjuk rasa di jalan raya depan kampus setempat. Mereka keberatan dengan pembangunan rumah toko (Ruko) di depan kampus mereka karena menyebabkan genangan air.
Aksi itu berakhir ricuh karena terjadi pelemparan terhadap mahasiswa. Akibatnya, tiga mahasiswa dilarikan ke rumah sakit karena terkena lemparan batu dari orang yang tidak dikenal. Untung saja mahasiswa cepat kembali ke kampus untuk menghindari aksi saling lempar.
Aksi itu menyebabkan kemacetan dan polisi sibuk mengatur arus lalu-lintas. Satu regu pasukan lengkap menggunakan tameng bersiaga.
"Ini unjuk rasa damai dan kita sebagai mahasiswa hanya ingin menyampaikan beberapa pernyataan sikap agar pemerintah segera menyikapinya," ujar Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP Taman Siswa, Nasaruddin, di kampus setempat, Rabu.
Mahasiswa menuntut agar proses pembangunan dihentikan. Apalagi, bangunan itu tempat hiburan, karena dikuatirkan akan mengganggu proses belajar mengajar (KBM) STKIP Taman Siswa. "Akibat pembangunan itu menyebabkan air di depan kampus tergenang hingga setinggi lutut orang dewasa," katanya.
Ketua STKIP Taman Siswa, Drs H Sudirman Ismail, mengaku pembangunan itu menyebabkan tergenangnya air dan dikuatirkan akan meluap hingga masuk ke ruangan kuliah. "Inilah yang menyebabkan mahasiswa berunjuk rasa," katanya.
Unjuk rasa itu, katanya, langkah terakhir setelah tiga kali bersurat kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima agar memperhatikan masalah itu. Diakuinya, aksi itu sebenarnya bukan demo, tetapi ujuk perasaan terhadap pemerintah dan pemilik tanah agar jangan melanjutkan pembangunan hingga ada penyelesaian oleh pemerintah. Tetapi, tak ada tanggapan positif. "Kita ingin agar pemerintah meninjau apakah pembangunan itu mengganggu atau tidak karena menurut kami sangat meresahkan," katanya.
Dia salut terhadap pemilik tanah yang memberikan solusi agar tanah dan bangunan itu diayar oleh STKIP dan pihaknya tidak akan merugikan pemilik tanah. "Saya pikir ini solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah itu, apalagi disarankan oleh Dinas Pekerjaan Umum agar ada pendekatan kekeluargaan," katanya. (BE.13)
Suhari: Solusinya, Kembalikan Uang
Bagaimana reaksi pemilik tanah dan bangunan Ruko, Suhari? Diakuinya, sebenarnya tidak pernah berniat menghambat pendidikan, bahkan ingin membantu membangun Bima. Apalagi, desain bangunan itu untuk menjual bakso dan makanan lainnya.
Sebagian tanahnya direncanakan untuk membangun mushala. Tetapi, kalau dipersoalkan seperti ini, solusinya hanya satu yakni mengembalikan uangnya.
Untuk membeli tanah, pembangunan dan ongkos tukang, kata dia, sudah menghabiskan uang sekitar Rp290 juta. Untuk tanah delapan are lebih itu harganya sekitar Rp150 juta. "Kalau memang dipermasalahkan oleh STKIP Taman Siswa saya menghendaki agar mengembalikan uang saja. Saya membelinya dengan kontan juga dibayar dengan kontan juga," tuturnya.
Selama ini, katanya, pihak STKIP belum pernah menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Bahkan, setiap kali diundang oleh pihak desa dan kecamatan, H Sudirman tidak pernah hadir. "Karena saya anggap tidak ada masalah proses pembangunan tetap saya lanjutkan hingga muncul persoalan ini," katanya.
Camat Palibelo, Drs Syafruddin, menjelaskan, upaya kekeluargaan terus dilakukan dan jika STKIP Taman Siswa menginginkan tanah di depan kampus kosong dari bangunan lain harus mampu membayar sesuai keinginan pemiliknya. Apalagi, dibangun pada lahan sendiri dan ijin dari kepala desa sudah ada, sedangkan ijin mendirikan bangunan (IMB) dari Dinas Pekerjaan Umum sedang dalam proses.
"Rekomendasi dari kecamatan sudah ada. Intinya masalah ini akan selesai jika STKIP mau membayar. Itu saja," katanya di kantor Desa Palibelo, Rabu. (BE.13)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|

















perang ue
Iskandar, ternyata anda telah jujur d...
saking kelewat jujurnya saksi JM, akh...
Kalian tim JM ketahuan banget pemboho...
..emang tau pasti ya semuax itu..ntar...