Awal tahun 2009 lalu, 12 anggota Komisi IV DPR RI meninjau Pusat Pelelangan Ikan (PPI) di Kelurahan Tanjung Kota Bima. Fasilitas itu sudah menghabiskan dana miliaran rupiah.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Bima, Ir H Syarafudin, MM, mengungkapkan hasil konsultasinya dengan Dinas PU, untuk pembenahan kawasan itu diperkiraan akan membutuhkan dana sebesar Rp3 miliar.
Diakuinya, saat ini sejumlah warga pesisir di sekitar wilayah itu menyorot fungsi PPI itu. “Pelabuhan nelayan atau pelabuhan cinta,” ujar Syarifudin di pelabuhan Bima, kemarin.
Katanya, sudah sekian tahun pelabuhan itu sejak awal dibangun sampai saat ini belum juga difungsikan. Dia menilai selama ini tempat ini hanya digunakan oleh muda-mudi untuk memadu kasih, karena didukung suasana yang gelap.
Menurutnya, bukan lagi tempat untuk mengais rejeki para nelayan, tetapi justru digunakan untuk hal-hal yang cenderung maksiat. “Kalau memang untuk pelabuhan, kok dangkal. Mana bisa dipakai berlabuh,” tuturnya.
Buruh di pelabuhan Bima, Alex, juga mengemukakan hal yang sama. Katanya, arus transportasi laut di pelabuhan Bima kian hari semakin meningkat. Jumlah kapal-kapal dagang yang bersandar semakin ramai, bahkan harus antre membongkar muatan.
Menurutnya, alangkah baiknya perahu nelayan yang memuat ikan dialihkan ke PPI. “Daripada semua harus numpuk di sini,” ujar Alek di pelabuhan Bima, kemarin.
Dia berharap kepada pemerintah agar segera memfungsikan PPI itu. Dia yakin tempat itu bahkan bisa menjadi tempat wisata sambil berbelanja ikan bagi pengunjung.
Nanti tidak hanya nelayan Bima yang berjualan ikan segar di sana, bahkan nelayan dari perairan lain akan mengeluarkan ikan lewat pelabuhan itu. “Ke depan pasti akan berdampak pada peningkatan PAD juga,” ujarnya. (BE.18)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
















turut berduka cita yang mendalam,semo...
Semoga amal ibadah beliau diterima di...
Sekelumit masalah pembangunan di KSB ...
Semoga Amal Ibadah Beliau diterima AL...
jika dialog sudah nggak bisa lagi, me...