Si Liyan dalam Pariwisata Massal

Si Liyan dalam Pariwisata Massal

SHARE

Dunia pariwisata di Indonesia semakin menggeliat, setidaknya dalam kurun waktu satu dekade terakhir.Meskipun bukan merupakan gaya baru, tapi pariwisata saat ini terlihat menemukan polanya dalam bentuk yang lebih mapan.Betapa tidak? Setiap pemerintah daerah saat ini memberikan perhatian khusus bagi rencana pembangunan wilayahnya pada bidang pariwisata.Segala potensi wisata terus digali dan ditonjolkan demi menarik wisatawan datang berkunjung.Tak hanya itu, pembangunan pariwisata kerap ditandai dengan slogan-slogan yang menarik dan menunjukkan pesona suatu daerah.Ambil contoh Jogja, yangterkenal dengan “Jogja Never Ending Asia”, dan sekarang sudah berganti dengan “Jogja Istimewa”.Bali, yang selalu membangun kesan hommy dan menyenangkan dengan slogan“Everyday is Sunday in Bali”, sehingga setiap orang merasa nyaman dan betah berlama-lama disana.Bahkan, Bali sering dipanjangkan dengan istilah “Banyak Libur”.

Tak ketinggalan pula, Nusa Tenggara Barat, melebarkan sayapnya dengan slogan “Pesona Lombok Sumbawa”. Apabila menyitir dari website Dinas Pariwisata Pemprov NTB, Pesona Lombok Sumbawa adalah komitmen pariwisata Nusa Tenggara Barat kepada dunia yang sekaligus mempertegas posisi tawar kita dalam persaingan internasional. Memang tak dapat dimungkiri bahwa Lombok Sumbawa memiliki beragam kultur, budaya, dan potensi wisata, dari kota hingga pelosok, menjadi surga pilihan yang tak kalah menariknya di Indonesia.Berbagai upaya pengembangan pariwisata pun telah diarahkan sebagai tren untuk mendatangkan wisatawan domestik dan internasional.Setiap titik di Pulau Lombok dan Sumbawa mulai ditata.Tak hanya itu, agen travel, paket wisata, mulai bejibun, ditambah dengan aktifnya berbagai komunitas kreatif dan budaya.Ruang visual dan digital pun kian lama kian dibanjiri dengan pengabadian spot wisata melalui foto, film, video, atau status di media sosial.

Lalu, selaiknya seperti apakah berwisata atau kegiatan pariwisata? Berwisata bukan hanya gaya hidup, tapi ada dorongan kuat untuk memandang dengan mata kepala sendiri apa yang selama ini hanya diantisipasi dalam lamunan dan fantasi, yaitu kenikmatan dari jenis yang berbeda atas rutinitas sehari-hari. Dalam industri pariwisata modern, ritus gaya baru lebih dikenal dengan konsep pariwisata massal. Namun, dimensi yang diperhatikan dalam pariwisata massal yang sedang berkembang adalah “waktu” yang berujung pada lamanya wisatawan yang datang, dan kesiapan manusia yang menyambut kedatangan wisatawan.

 

Namun, kita tak dapat memungkiri bahwa selalu ada kesenjangan antara harapan dan kenyataan.Produk atau kebijakan pemerintah tentang pariwisata selalu menyisakan tanyatentang masyarakat lokal yang ada di sekitarnya. Selalu ada pandangan bahwa hanya kelas-kelas tertentu yang bisa menikmati keindahan yang purna atas pengembangan wisata khususnya alam.Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya pantai dan villa yang dibangun secara privat oleh wisatawan.Ataupun ramainya kalangan kelas tertentu dari berbagai wilayah di dunia berkunjung untuk menggelar event tertentu.Diakui atau tidak, hal ini berpotensi menyebabkan adanya jarak dan jenjang antara masyarakat lokal dengan “pendatang” yang berusaha memenuhi fantasinya atas objek tertentu.

Akan tren kesenjangan ini, saya teringat tulisan Manneke Budiman, “Datang, Pandang, Menang (is) Tafsir Lintas Budaya (1999) di majalah Kalam. Di majalah tersebut, dia mengutip John Urry (1991), yang memberikan penjelasan tentang sinergitas peran wisatawan bersama-sama dengan agen wisata, yang merekayasa suatu kehidupan dan pertunjukan artifisial namun otentik. Strategi ini sengaja diterapkan untuk memenuhi apa yang telah diantisipasi oleh para pengunjung dalam fantasi masing-masing bahkan lama sebelum mereka berangkat ke tanah tujuan. Dengan demikian, para turis itu diberi persis seperti yang mereka kehendaki, dan pertemuan antara imajinasi dan “realitas” pun terwujud. Mereka pulang dengan mendapatkan pengukuhan atas realita imajiner yang dibangun oleh brosur-brosur wisata, promosi wisata di benak mereka. Di lain pihak, masyarakat setempat yang menjadi objek pandangan mata para wisatawan itu secara “sadar” merelakan dirinya terkonstruksi dengan gaya dan model tertentu oleh para agen wisata untuk memenuhi kebutuhan para turis akan kenikmatan dan kebutuhan mereka sendiri akan kelangsungan hidup. Hanya saja, hubungan ini sering tidak bersifat setara, dan masyarakat lokal lebih sering berada dalam posisi tak punya pilihan.

Bentuk ekstrem dari ketidaksetaraan dan adanya perelaan atas konstruksi ini akhirnya menjelma menjadi hal yang semu.Hal ini bisa kita amati dari ilustrasi Matthew Kneale, seorang Novelis Inggris, dalam cerpennya berjudul “Paradise” (1995). Dalam cerpen tersebut, dia menggambarkan sebuah desa terpencil di Afrika, dengan keramahan orang lokal yang memperlakukan seorang wisatawan asing dari “Barat”, karena mereka tahu orang tersebut adalah penulis buku “travelling” yang memuat tempat-tempat di dunia yang harus dikunjungi.Mereka memberikan pelayanan yang baik sehingga orang “Barat” ini menjadi empati berlama-lama di desa tersebut.Pada akhirnya, orang tersebut berbicara pada warga tersebut untuk tidak menuliskan tentang daerah tersebut karena khawatir keasliannya hilang dengan kedatangan wisatawan.Hal inilah yang menyebabkan orang lokal kaget dan marah, karena harapannya untuk tertulis di buku pilihan wisata gagal.Cerita ini berhasil menjungkirbalikkan bentuk hubungan antara “Barat” dan “Timur”, bahwa “Timur” tidaklah lugu atau mudah untuk dikonstruksikan.

 

Keramahan semu dan kesenjangan yang dialami menyebabkan masyarakat lokal kemudian menjelma menjadi si liyan (the other).Padahal dalam konsep Pariwisata massal, masyarakat lokal seharusnya bisa menikmati bentuk wisata alam yang bernilai edukatif dan sarat perjumpaan budaya.Setidaknya ada 2 hal yang sedari dulu menjadi kegelisahan sekaligus tantangan bagi pengembangan pariwisata.Pertama, Bagaimana membangun konsep pariwisata massal agar bisa dinikmati oleh semua kalangan secara mudah dan murah, termasuk oleh masyarakat sekitar? Kedua, Bagaimana agar pariwisata massal menjadi ranah dialog lintas budaya, yang membuat masyarakat lokal tetap dengan kediriannya, tapi juga bisa berpikiran terbuka terhadap yang datang?

 

Konon, pariwisata menjadi kebutuhan dan gaya hidupuntuk menuju sebuah peradaban. Dengan berwisata, akanterjalin dialog budaya dan permenungan atas hal yang dijumpai di luar rutinitas. Hanya saja, kita perlu reflektif agar tidak menjadi banal memaknai segala bentuk pengembangan wisata yang ada terutama di daerah. Harapannya agar pariwisata tidak menjadi ranah baru atas potensi tren kesenjangan, atau menjadi si liyan (the other) dalam dunia yang kita bangun sendiri.[]

 

 

Nurhikmah

[Magister Humaniora dan Ketua Komunitas Literasi Anorawi]

 

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

 

Riwayat Diri

Nurhikmah

Sumbawa, 02 Januari 1986

Perempuan

Islam

Jln. Kamboja Kelurahan Kuang, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat

081-904-193-669

ruanghisteria@gmail.com

 

Pendidikan

2008-2013         S2 Jurusan Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2004-2008         S1 Fisipol Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

2001 – 2004       SMAN 7 Yogyakarta

 

Organisasi

BPPM (Badan Penerbitan Pers Mahasiswa) UGM Balairung

2004-2005          Staf Balairung

2005-2006          Tim Kreatif Balairung Koran

2006-2007          Pemimpin Umum

2005                                Sahabat Percepatan Peningkatan Mutu Pembelajaran (SP2MP). Bergabung dalam kegiatan Due-like dengan melakukan pelatihan kepemimpinan

 

Kegiatan Penelitian

  • Penelitian ke Thailand, dengan tema “Studi Komparatif Kepariwisataan Indonesia dan Thailand” : April 2007
  • Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik ke Gorontalo : Juli-September 2007
  • Peneliti di PSKK-UGM kerja sama dengan UNICEF, bertema “Children in Mind” Di Aceh, September-November 2009
  • Peneliti di PSKK-UGM kerja sama dengan LSM Plan Indonesia, bertema “Pernikahan Dini”, pada Januari-Maret 2011

 

Kegiatan Lainnya

  • Bergabung sebagai relawan di Komite Kemanusiaan Yogyakarta (KKY) tahun 2006, di daerah Bantul, untuk korban Gempa. Pada tahun tersebut juga melakukan kegiatan “trauma healing” bagi anak-anak korban gempa di Bantul, Yogyakarta.
  • Sekolah kritik Ideologi di Pusat Studi Pancasila UGM, tahun 2007
  • Kursus IELTS di CILACS (Center for International Language and Culture Studies) Universitas Islam Indonesia (Februari-April) tahun 2008
  • Kuliah “politik relasi komunitas-negara” di KARSA ( Lingkar Pembaruan Pedesaan dan Agararia) : November-Januari 2008
  • Bergabung di LSM Rifka Annisa sebagai relawan untuk melakukan kegiatan “trauma healing” korban Merapi pada 2010-2011

 

Pengalaman Bekerja

  • Penulis dan Redaktur di Majalah Dua Bulanan SULUH Forum Persaudaraan Umat Beriman : 2008-2012
  • Reporter pada beritajogja.com2009
  • Penulis di Majalah Flamma/IRE : 2009-2011
  • Saat ini bekerja di Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat NTB
  • Sebagai Ketua dan Pegiat Komunitas Literasi Anorawi (KLA) di Sumbawa Barat

 

 

Minat Keilmuan

Kajian Budaya, Politik dan Sejarah

 

 

 

 

SHARE
Admin Sumbawanews