SELAMAT DATANG MEA

SELAMAT DATANG MEA

SHARE

Oleh: Damrah Bimasal

Ada yang menarik dan beda dengan menyambut tahun baru kali ini, hal ini yang mendorong saya untuk memainkan jari-jari di atas keyboard notebook. Tanggal 1 Januari 2016 mulai diberlakukan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN/ ASEAN Economic Community) dan menjadi perbincangan hangat di kota-kota besar dari berbagai kalangan baik melalui media, ruang-ruang diskusi, seminar maupun melalui tulisan/opini. Kehadiran MEA tentu memliki dasar dan tujuan yang jelas menurut mereka para elit dan yang sudah disepakati oleh para pemimpin ASEAN pada Konferensi KTT tahun 1997 di Kuala Lumpur dan Indonesia adalah salah satu inisiator pembentukan MEA.

Pembentukan MEA ini bertujuan untuk meningkatkan stabilitas perekonomian dikawasan ASEAN dan dapat mengatasi persoalan dibidang ekonomi antar negara ASEAN. pertumbuhan perekonomian suatu negara menjadi hal yang urgent karena salah satu indikator kemajuan negara adalah dengan pertumbuhan ekonomi yang baik. Pertumbuhan ekonomi dapat dipengaruhi oleh faktor sumber daya manusia, potensi alam, teknologi dan informasi serta dukungan modal. Dari beberapa faktor tersebut, sumber daya manusia menjadi faktor utama untuk diberdayakan supaya mampu bersaing dengan negara lain baik dalam bidang usaha barang dan jasa/ketenagakerjaan. Melalui MEA negara-negara yang ada dikawasan ASEAN bebas mengimpor barang, jasa atau tenaga kerja, pengedaran NARKOBA semakin bebas dan mudah tanpa ada sekat, semuanya bebas keluar masuk di Indonesia begitupun sebaliknya Indonesia bebas mengekspor barang dan jasa ke negara-negara di kawasan ASEAN.

Apakah kita sudah siap menghadapi persaingan bebas ini? Apakah barang dan Jasa kita menjadi produk yang unggul untuk di eksport? Apakah kita rela bangsa Asing bebas memasarkan barang dan jasanya ke Indonesia dengan harga yang murah yang akhirnya mematikan sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) pribumi dan investor Asing semakin memonopoli pangsa pasar pribumi? apakah kita rela bangsa Asing berbondong-bondong ke Indonesia untuk menjadi tenaga kerja terdidik dan terampil yang akhirnya menyingkirkan tenaga kerja Indonesia yang kurang terdidik dan terampil yang menyebabkan pengangguran di mana-mana? Apakah kita rela bangsa Asing bangun rumah disamping rumah kita? Apakah kita rela kekayaan darat dan laut kita dikelola oleh bangsa Asing? Tentu saja TIDAK!

Kehadiran MEA ini seakan menjadi Monster yang sangat menakutkan terutama bagi masyarakat Indonesia pinggiran yang masih jauh tertinggal dari akses transportasi, informasi, komunikasi, pembangunan infrastruktur yang kurang memadai. Panitia Khusus (Pansus) MEA yang bertugas melakukan sosialisasi, mereka juga tidak maksimal menjalankan tugasnya di daerah-daerah. Buktinya di daerah saya tidak begitu gencar diperbincangkan dan yang tahu hanya kalangan-kalangan elit/intelek itupun tidak menjadi topik yang hangat padahal MEA adalah monster yang sangat menakutkan dan sudah masuk dalam rumah kita. Untuk menjawab tantangan ini kita harus membekali diri dengan kapasitas intelektual, kemampuan komunikasi, keterampilan, memiliki karakter dan daya saing supaya kita tidak menjadi penonton dan budak bagi bangsa Asing di negeri kita sendiri dan pemerintah harus kerja extra dalam menghadapi MEA.

Indonesia sungguh menjadi magnet bagi negara Asing karena Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah baik di darat maupun di laut yang tidak banyak dimiliki oleh negara lain khususnya negara dikawasan ASEAN. Jangan heran kalau bangsa Asing bisa berbahasa Indonesia, mereka sudah menyiapkan diri dan mereka tahu bahwa Indonesia menjadi pusat pergadangan bebas di kawasan ASEAN. Salah satu langkah mereka untuk masuk ke indonesia adalah dengan menguasai bahasa Indonesia karena mereka tahu bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia tidak bisa menggunakan bahasa Ingris dan sebaliknya merekapun tidak semuanya bisa menggunakan bahasa Ingris jadi kita tidak usah minder kalau tidak bisa berbahasa Ingris yang paling penting kita menguasai dan mencintai bahasa Indonesia.

Pengalaman saya waktu mengikuti studi komparasi kepemudaan di Thailand pada tahun 2014, mereka menyambut kami dengan menggunakan bahasa Indonesia dan mereka fasih pengucapannya sayapun merasa bangga disambut dengan bahasa Indonesia di negeri orang tetapi saya penasaran dari mana mereka belajar bahasa Indonesia dan alasan mereka belajar bahasa Indonesia. Sayapun menyempatkan diri bertanya kepada para pelayan hotel dan mall sampai ke pelayan pasar tradisional karena penasaran. Rupanya mereka ada yang kursus dan ada yang belajar otodidak dari orang Indonesia yang berkunjung dan shopping di Thailand dan mereka tahu Indonesia akan menjadi pusat perdagangan bebas di kawasan ASEAN ”. Saya dkk beserta pembimbing menyempatkan diri berkunjung ke Pataya karena penasaran juga, Pataya ini adalah tempat hiburan/pertunjukan bagi para pelaku trans gender (waria) dari berbagai negara. Dari sekian banyak pertunjukan yang ditampilkan ada yang mengejutkan kami yang membuat kami bersorak gembira, mereka mempertunjukan Rumah Gadang, Pakaian Adat Sumatera dan salah satu tarian tradisional Indonesia yang diiringi lagu melayu lagunya Siti Nurhaliza. Kita dapat melihat bahwa mereka betul-betul menyiapkan diri meghadapi MEA.

Oleh karena itu, jika kita merasa cinta kepada negeri dan tanah air ini maka kita siapkan senjata dengan meningkatkan kapasitas intelektual dan keterampilan/skill agar mampu bersaing dan tetap mempertahankan jiwa nasionalisme dan karakter bangsa yaitu bangsa yang ber-Pancasila. MEA YES, PRODUK ASING NO!

Penulis: Aktivis HMI dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

SHARE