Mengakhiri Polemik Internal DPD KNPI Sumbawa

Mengakhiri Polemik Internal DPD KNPI Sumbawa

SHARE

Sejak tiga pekan terakhir, kita disuguhkan oleh pemberitaan media terkait konstalasi organisasi kepemudaan di daerah kita dengan fakta adanya polemik internal DPD KNPI yang telah memecah belah sikap keberhimpunan pemuda, paling tidak di jajaran pengurus teras DPD KNPI Kabupaten Sumbawa. Tentu kejadian ini amat sangat disayangkan, kondisi yang sepatutnya untuk segera diakhiri, dikembalikan, dan disatukan kembali oleh semua pihak yang terkait didalamnya. Tujuan utamanya tidak lain adalah demi terjaminnya integritas pemuda yang saat ini dituntut harus mampu menjaga solidaritas dan soliditas diatas kepentingan bangsa maupun daerah (Sumbawa), bukan kepentingan kelompok apalagi perorangan.
KNPI dilahirkan sebagai wadah bersatunya seluruh pemuda Indonesia sekaligus wadah berhimpunnya organisasi kepemudaan di Indonesia yang secara antropologis berfungsi menjadi kawah candradimuka dalam sistem siklus kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan bangsa di semua tingkatan, termasuk di Kabupaten Sumbawa sebagai salah satu dari 10 DPD KNPI Kabupaten/Kota yang ada di NTB. Keberhimpunan OKP dalam KNPI dilandasi oleh kesamaan nilai-nilai dasar kenegaraan Indonesia yakni ideologi Pancasila yang sekaligus berfungsi sebagai perekat sosial dengan tekad persatuan dan kesatuan yang berwawasan kebangsaan, idealisme, solidaritas dan soliditas antar pemuda, cinta tanah air serta mengabdi kepada kepentingan nasional yang lebih luas.

Dalam konteks itulah, KNPI mengemban tanggung jawab dan amanat sebagai wadah berhimpun semua kaum muda bangsa yang menempatkan kepentingan dan kebutuhan pembinaan pemuda secara generatif serta kepentingan nasional Indonesia sebagai orientasi aktivitas organisasi. Keberhimpunan OKP di dalam KNPI dipertahankan dengan realita bahwa pada dasarnya OKP dengan ciri khasnya masing-masing membutuhkan adanya institusi perekat untuk mensinergiskan berbagai aktivitas kepemudaan. KNPI yang di dalamnya berhimpun kader-kader muda pilihan, sudah selayaknya dapat memberikan terobosan-terobosan nyata untuk kemajuan bangsa. Dengan kontribusi demikian, maka eksistensi KNPI akan berdaya guna sebagai satu-satunya wadah berhimpun terbaik bagi pemuda harapan bangsa.

Sebaliknya akan menjadi sesuatu yang sangat naif, bila kader-kader muda pilihan yang duduk di jajaran pengurus DPD KNPI Kabupaten Sumbawa mempertontonkan sebuah dinamika yang tidak sehat dan bahkan menjurus pada perpecahan organisasi. Bahkan jika kondisi ini lamban disikapi dan disadari oleh para pihak yang berpolemik, akan tidak menutup kemungkinan menjadi perpecahan organisasi secara lebih massif dan terstruktur ke jajaran Pengurus Kecamatan (PK) dan OKP yang memiliki legalitas formal dan yuridis organisatoris sebagai anggota DPD KNPI Kabupaten Sumbawa.

Semestinya para pihak yang berseteru harus menyadari bahwa ini adalah aib sejarah dalam perjalanan panjang KNPI di Kabupaten Sumbawa. Sebagai kejadian “kontra revolusioner” dengan cita, citra dan idealisme pemuda harapan bangsa, maka tentu semua pihak yang berkonflik semestinya menyadari untuk segera mengakhiri polemik ini secara permanen. Kondisi ini wajib dicegah berlanjut ke fase konflik yang lebih tinggi yang justru akan merugikan eksistensi pribadi masing-masing pengurus maupun eksistensi DPD KNPI Kabupaten Sumbawa secara kelembagaan.

Menilik pada personalitiy masing-masing pengurus yang hari ini berpolemik di DPD KNPI Sumbawa, pada dasarnya adalah personal-personal yang secara garis perjuangan politik organisasi adalah orang-orang yang pada awalnya satu “gerbong politik” bersama ketua DPD KNPI bung Andi Rusni. Sehingga menjadi aneh manakala hari ini terjadi keretakan yang menjurus pada perpecahan di kalangan pengurus dimana orang-orang yang selama ini saya nilai sangat solid dan loyal mengawal eksistensi KNPI di Kabupaten Sumbawa. Sebut saja Erwin, ST, Erik Widodo, Abdul Azis dll, ini adalah orang-orang yang saya tahu persis sama-sama berjuang dengan bung Andi Rusni mulai dari arena Musda KNPI tahun 2012 dan memenangkan Andi Rusni dalam kontestasi Musda tersebut.

Saya menduga ada miskomunikasi yang terjadi antara ketua DPD KNPI dengan beberapa jajaran pengurus harian yang merasa tidak puas dengan pola kepemimpinannya. Hal seperti ini sebenarnya dapat dijernihkan dan didiskusikan dengan duduk bersama dan melepas kepentingan pribadi maupun egosentris yang berlebihan. Kedua pihak semestinya menyadari bahwa plus minus kinerja DPD KNPI hari ini adalah keberhasilan maupun kegagalan kolektif bagi seluruh pengurus. Ketua DPD KNPI selaku pucuk pimpinan organisasi yang paling bertanggung jawab menjaga marwah dan eksistensi KNPI di Sumbawa harus bisa lebih arif dan bijaksana menghadapi resistensi yang terjadi di kalangan pengurus yang lain, dan sebaliknya jangan terkesan reaksioner dalam menghadapi permasalahan internal organisasi. Segera bangun komunikasi yang lebih elegan, klarifikasi setiap masalah yang dipersoalkan secara terang benderang di rapat internal organisasi, saya kira ini dapat dijadikan alternatif bagi langkah efektif penyelesaian konflik.

Berangkat dari dinamika konflik tersebut, saya sebagai elemen pemuda di Kabupaten Sumbawa menawarkan solusi sebagai berikut : pertama, segera bangun Rekonsiliasi DPD KNPI Kabupaten Sumbawa dengan membentuk tim internal dari kalangan DPD KNPI Sumbawa dan Majelis Pemuda Indonesia (MPI) Kabupaten Sumbawa. Artinya jangan dulu berpikir melaksanakan MUSDA sebelum tercapai rekonsiliasi organisasi (Islah). Kedua, semua item permasalahan internal organisasi dalam penyelesaiannya segera kembalikan pada mekanisme organisasi dengan merujuk pada AD/ART KNPI, dan tidak mengedepankan penyelesaian masalah melalui ranah hukum apalagi berpolemik di media massa yang sulit menemukan penyelesaiannya.

Nama : Amilan Hatta
Alamat : RT.003. RW.001 Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kab. Sumbawa
Riwayat Organisasi :
1. Sekretaris PK KNPI Moyo Hilir 2010-2014
2. Ketua DPC GMNI Sumbawa 2011-2013
3. Presidium Pusat GMNI 2013-2015 (demisioner)

SHARE
Admin Sumbawanews