Benderaku Dilecehkan

Benderaku Dilecehkan

SHARE

Oleh: Damrah Bimasal (Aktivis HMI dan Mahasiswa Pascasarjana UNJ)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi Mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia. Seorang mahasiswa bernama Lafran Pane mengamati dan menganalisa kondisi bangsa Indonesia yang baru saja merdeka masih belum stabil, kekacauan di mana-mana, isu agama, kondisi politik dan ekonomi masih kacau. Melihat kondisi bangsa Indonesia yang masih prematur, Lafran Pane memandang perlu membentuk kekuatan mahasiswa atau pemuda untuk membantu pemerintah dan militer mempertahankan kemerdekaan yang masih prematur.

Pada tanggal 5 Februari 1947 Lafran Pane memprakarsai berdirinya HMI bersama 10 orang temannya di Yogyakarta. HMI didirikan setelah 1 tahun 5 bulan Indonesia merdeka, usia kemerdekaan yang masih sangat muda, ibarat bayi yang masih membutuhkan ASI esklusif. Berdirinya HMI atas dasar dua misi yaitu misi keislaman (menegakkan syariat islam) dan misi kebangsaan (mempertahankan kemerdekan NKRI). Dua misi inilah yang terus tertanam dalam setiap diri kader HMI ketika sudah diBai’at.

Sejak HMI didirikan tentu melewati sejarah panjang mewarnai kemerdekaan Indonesia, mengarungi gelombang pasang surut. Setiap perubahan yang terjadi di Indonesia, HMI turut berkontribusi baik secara institusional maupun melalui pengabdian alumni di berbagai lini. Jika ditilik sejarah pergerakan dan perjuangan HMI sejak didirikan sampai hari ini, kita tidak akan sanggup menghitung kontiribusi dan kekuatan yang dimiliki HMI. Bersama TNI, HMI pernah mengangkat senjata melawan Komunis (Partai Komunis Indonesia), ini adalah salah satu sejarah emas HMI mempertahankan kemerdekaan RI.

Banyak tokoh nasional yang lahir dari rahim HMI, mereka mengakui bahwa mereka menjadi besar dan hebat karena pernah berproses di HMI. Deretan nama tokoh nasional produk HMI ada Jusuf Kalla (Wapres RI), Akbar Tanjung (politisi senior), Nuscholis Madjid (cendekiawan muslim terkemuka), Harry Azhar Azis (Ketua BPK RI), Ade Komarudin (Ketua DPR RI), Zulkifli Hasan (Ketua MPR RI), Hariman Gusman (Ketua DPD RI), Abdullah Hehamahua (penasehat KPK), Mahfud MD (Mantan Ketua MK), Hamdan Zoelva (Mantan Ketua MK), Yusril Ihsa Mahendra (Guru Besar Hukum Tata Negara), Husni Kamil (Ketua KPU RI), Jimli Assidqie (Ketua DKPP RI), Taufiq Ismail (penyair ternama), Ridwan Sahidi (budayawan), Fahmi Idris (Menteri Era Orde Baru), Marwah Daud (Politisi Perempuan), Ferry Mursidan Baldan (Menteri Agraria dan pertanahan), Yudi Krisnandi (Menteri Menpan dan RB), Anis Baswedan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), Fasli Jalal (Kepala BKKBN), Chusnul Mar’iah (Guru Besar Ilmu Politik UI), Siti Zuhro (Peneliti Senior di LIPI dan pengamat politik), dan masih banyak tokoh-tokoh nasional yang lahir dari rahim HMI dan tokoh daerah baik eksekutif, legislatif , yudikatif, pengusaha, akademisi dan profesi lain. Sederetan nama tersebut baru sebagian kecil sebagai bukti bahwa HMI mampu mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

Sederetan nama tokoh tersebut di atas dan kekuatan HMI, rupanya tidak masuk dalam hitungan Saut Situmorang (SS) seorang pejabat publik. Pada hari kamis tanggal 5 Mei 2016 keluarga besar HMI dan KAHMI se-Nusantara dikejutkan dengan pernyataan SS melalui media elektronik TV Nasional “ketika menjadi mahasiswa mereka cerdas-cerdas, kalau HMI minimal LK 1, ketika menjadi pejabat mereka korup dan sangat jahat”. pernyataan ini tidak etis dan tidak pantas keluar dari mulut seorang pejabat publik apalagi disampaikan langsung melalui media elektronik TV Nasional yang disaksikan oleh pemirsa seluruh Indonesia. Pernyataan SS sangat tendensius, menghina, melecehkan dan menghianati institusi besar yang sudah banyak berkontribusi untuk negeri ini dan sampai hari ini memiliki kekuatan besar diseluruh Indonesia.

Saya salah satu mahasiswa yang pernah diBai’at dan berposes di HMI memiliki hutang besar terhadap HMI karena di HMI-lah saya bisa mengenal diri saya, mengenal Tuhan, mengenal Indonesia dan memiliki ribuan saudara yang tersebar di seluruh nusantara. Ketika mendengar pernyataan SS yang menghina dan melecehkan “Benderaku” rasanya saya disiram air panas, itulah yang mendorongku untuk turun ke jalan dan naik mimbar jalanan. Saya yakin semua orang yang pernah berproses di HMI merasa kesal dan marah dengan pernyataan SS. Betul ada alumni HMI yang terlibat kasus korupsi, tidak masalah disebutkan namanya tetapi jangan menyeret nama institusi HMI karena HMI tidak pernah mengajarkan kadernya menjadi koruptor.

Saya sejak ikut Latihan Kader I sampai Latihan Kader III dan perkaderan lainnya di HMI tidak pernah diajarkan untuk korupsi, yang diajarkan adalah menjadi insan akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Yang menjadi pertanyaan besar atas pernyataan SS adalah “kenapa alumni HMI saja yang menjadi sampel koruptor?” kenapa tidak sebut institusi lain juga misalnya partai politik. Tentu saja SS memiliki maksud dan tujuan tertentu atas pernyataannya yang menyeret nama institusi HMI. Pernyataan yang general ini, sama halnya SS menuduh semua tokoh dan pejabat yang pernah berproses di HMI adalah koruptor dan sangat jahat. Semoga gerakan dan tuntutan HMI dan KAHMI se-Nusantara memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi oknum SS dan siapapun yang menghina dan melecehkan HMI. Kekuatan HMI tidak akan mudah diruntuhkan karena HMI ada di mana-mana dan alumnus tersebar di segala lini untuk mengabdi pada umat dan bangsa.
–Yakin Usaha Sampai–