69 Tahun HMI Mengabdi

69 Tahun HMI Mengabdi

SHARE
Oleh: Damrah Bimasal

Tepat bulan Agustus 2006 saya terdaftar sebagai Mahasiswa di salah satu kampus di Kota Bima. Sebagai mahasiswa baru yang serba ingin tahu dan penasaran dengan dunia kampus dan kemahasiswaan, saya memberanikan diri untuk mendaftarkan diri dan ikut pelatihan dalam sebuah organisasi Mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia bahkan di seluruh Dunia yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dikenal dengan kampus Hijau Hitam. Tepat tanggal 25 Desember 2006 (04 Dzulhijah 1427 H) saya dengan kawan-kawan diBai’at sebagai anggota HMI di Auditorium STKIP Bima, semua peserta bersumpah sambil bercucuran air mata karena terharu setelah 5 hari mengikuti pelatihan dan dinyatakan lulus sampai akhirnya diBai’at untuk dimintai sumpah bahwa hidup dan mati hanya karena Allah dan ber-HMI hanya untuk mengabdi kepada agama dan bangsa. Mengabdi pada agama dan bangsa adalah beban yang sangatlah berat.

Sejak di Bai’at sebagai anggota HMI, semangat belajar dan rasa keingintahuan saya tentang HMI semakin besar, rasa ingin tahu dan ingin belajar itulah yang mendorong saya untuk terus aktif di HMI sejak di Komisariat sampai tingkat Pengurus Besar. Ketika membaca sejarah HMI dan mendengar dari cerita para senior bahwa banyak tokoh-tokoh nasional yang lahir dari rahim HMI, sayapun bermimpi besar untuk menjadi tokoh minimal di tanah kelahiran saya. Mimpi besar itulah yang terus menyemangati saya untuk tetap bertahan dengan dinamika kehidupan di ibu kota dan tetap eksis di HMI karena di HMI ada banyak hal yang tidak saya dapatkan diluar HMI terutama memiliki saudara dari ujung Timur-ujung Barat Indonesia.

Bagi saya HMI adalah “Mesin Penggiling” yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi yang berkualitas sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan siap digunakan, begitulah kira-kira analogi yang tepat untuk HMI. Sulit untuk mencatat sejarah dan dinamika HMI dari zaman ke zaman, sudah tidak terhitung lagi cendekiawan muslim, guru bangsa/tokoh nasional, pengusaha, maupun profesi lain yang tersebar di bumi ini dan tokoh masyarakat yang lahir dari rahim HMI. Terlepas publik berpandangan negatif terhadap HMI disebabkan adanya anggota/alumni HMI yang tersangkut kasus, pandangan itu wajarlah karena ketidaktahuannya tentang HMI. Tetapi bagi saya tidaklah tepat pandangan negatif itu dialamatkan ke organisasi yang melahirkan mereka. Ibarat seorang anak bersalah, yang disalahkan bukan ibunya tetapi tetaplah anak tersebut yang disalahkan. Demikian halnya dengan HMI, jika anggota/alumninya bersalah yang disalahkan orangnya bukan HMI-nya.

Sejak didirikan 5 Februari 1947 (14 Rabiul Awal 1366 H) HMI tentunya mengalami pasang surut sampai sekarang tepat menginjak usia 69 tahun, usia ini bukanlah usia yang muda bagi manusia. Pendidikan dan pelatihan di HMI memberikan kontribusi besar bagi mahasiswa yang berhimpun di dalamnya. Entah berapa juta kali HMI mengadakan Basic Training, Intermediate Training, Advance Training dan training-training lainnya dan sudah berapa juta generasi bangsa yang lahir dari rahim HMI sejak 5 Februari 1947. Ayahanda Lafran Pane dkk mendirikan HMI di era Revolusi dengan misi keumatan dan kebangsaan yaitu mempertahankan kemerdekaan dan mengangkat harkat dan martabat bangsa, di mana kondisi bangsa Indonesia pasca kemerdekaan masih terpuruk. Ayahanda Lafran Pane sebagai pelopor lahirnya HMI, sudah sepatutnya dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional atas jasa dan dedikasinya terhadap ibu pertiwi ini.
DIRGAHAYU HMI, SEMOGA TETAP JAYA dan MEWARNAI IBU PERTIWI, HMI adalah Harapan Muslim Indonesia..

Penulis: Aktivis HMI dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta