Membuka Tabir Hubungan JM-MJ

Membuka Tabir Hubungan JM-MJ

SHARE

Lima tahun hampir berlalu. Masa jabatannya sebagai wakil bupati pendamping Bupati Jamaluddin Malik (JM) akan berakhir hanya dalam hitungan bulan. Mereka pun akan berpisah karena masing-masing maju sebagai incumbent. JM ingin tetap bertahan dengan jabatannya sekarang. Sedangkan MJ, ingin membuktikan kemampuan kepemimpinannya, jika terpilih menjadi bupati. Sebab, dia merasakan selama ini hanya berperan pas terbatas.

Masyarakat melihat selama ini Hubungan JM-MJ tidak pernah akur, JM sengaja mengamputasi peran wakil Bupati agar tidak tersaingi. Namun dalam perjalanan selama lima tahun terakhir ternyata pemrintahan JM terseok-seok dan masyarakat menganggapnya sebagai kegagalan.

Berikut petikan wawancara 15 menit Didin Maninggara dengan Wakil Bupati Sumbawa Muhammad Jabir di sela kesibukan tugasnya di Jakarta, Minggu petang (22/11/09) setelah mengikuti acara pergelaran seni budaya Sumbawa di Puri Agung Grand Sahid Jaya Hotel, Sabtu malam (21/11).

T: JM-MJ menggores sejarah baru sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa pertama hasil pemilihan langsung dalam pilkada 2005. Bagaimana Anda memaknainya?

MJ: Pertama, saya mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT karena dengan kehendak-Nya kami terpilih. Kedua, terima kasih tak terhingga kepada masyarakat, karena kemenangan itu representasi kepercayaan rakyat. Namun semua itu menjadi tidak bermakna, jika dalam menjalankan kepercayaan itu mengabaikan hak dan kepentingan rakyat.

T: Apa saja hak dan kepentingan rakyat yang diwujudkan selama ini?

MJ: Dari sisi saya sebagai wakil bupati, antara lain mewujudkan masyarakat yang sehat secara jasmani dan rohani melalui penyediaan layanan kesehatan agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat dan terjangkau. Kalau sehat, masyarakat bisa melakukan usaha produktif dengan mengelola sumber daya yang tersedia untuk meningkatkan kemakmurannya, yaitu diharapkan masyarakat makmur secara ekonomi, rukun damai secara sosial dan tentram secara spiritual.

T: Visi pemerintahan JM-MJ: Samawa Mampis Rungan yang arti harfiahnya Sumbawa menebarkan kabar baik, mengandung sederet makna yang menginovasi dan memotivasi masyarakat dan aparatur untuk mewujudkan kemajuan. Tapi kenapa implementasinya terkesan masih lemah?

MJ: Memang dalam beberapa hal belum fokus dijalankan, seperti pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Tapi dalam beberapa hal lain ada kemajuan.

T: Karena perbedaan dalam menjalankan visi itu, kabarnya ada disharmonisasi Anda dengan JM?

MJ: Bukan disharmonisasi tapi perbedaan pendapat. Nyatanya hubungan personal saya dengan JM tidak terganggu. Berjalan seperti air mengalir dari hulu ke muara.

T: Tapi JM pernah mengatakan, terjadi ketidakkompakan dalam menjalankan pemerintahan. Menurut Anda?

MJ: Sekali lagi saya jelaskan, bukan ketidak kekompakan tetapi perbedaan sebagai hal biasa dalam situasi penyelenggaraan pemerintahan daerah di era otonomi daerah seperti saat ini karena semua bupati dan wakil bupati atau wali kota dan wali kota diberi kesempatan membangun prakarsa dan inovasi bagi kemajuan daerahnya.

T: Muncul tudingan di kalangan publik yang meragukan kinerja pemerintahan karena rasa keadilan masyarakat terusik dengan kehidupan bupati yang terkesan pamer kekayaan. Tanggapan Anda?

MJ: Sulit bagi saya menjawab pertanyaan itu secara hitam putih karena arahnya membangun perbenturan.

T: Dengan kata lain, apakah Anda menduga kekayaan JM karena menyalahgunakan APBD?

MJ: Saya tidak pernah berperasangka buruk. Sudahlah, ini mau pilkada.

T: Kongkritnya yang Anda maksud?

MJ: Masyarakat kita akan memilih bupati dan wakil bupati secara langsung. Tentu, saya mengharapkan ada kompetisi yang sehat. Tidak saling menjatuhkan sesama kandidat.

T: Kenapa harus begitu?

MJ: Karena, itulah cara terbaik. Bukan perbenturan yang menghasut dan mempropokasi. Tapi penawaran konsep dan program secara langsung kepada rakyat sebagai pemegang otoritas penentu dalam memilih pemimpinnya berdasarkan hati nurani.

T: Sepertinya, Anda sangat siap berkompetisi di pilkada?

MJ: Lahir batin harus siap. Karena nawaitu saya ingin membangun Sumbawa ke arah yang lebih baik. Untuk itu, jika Tuhan menghendaki dan rakyat memberi kepercayaan kembali kepada saya, Insya Allah ada harapan baru di periode kedua.

T: Apa saja harapan baru itu?

MJ: Tidak muluk-muluk. Salah satu yang utama saya lakukan adalah percepatan pengentasan kemiskinan dan pengangguran dengan grand strategi yang dijalankan benar-benar fokus dan kuat dilaksanakan oleh badan atau dinas terkait. Yang lebih penting lainnya, memberi insentif bagi aparatur yang menjalankan fungsi pelayanan dasar, seperti tenaga medis, guru di tempat terpencil dan dana insentif desa sesuai kondisi dan prestasinya.

T: Selama ini terlihat pemerintah daerah kurang serius membangun infrastruktur jalan. Bagaimana anda menyiasati pembiayaan proyek tersebut ke depan?

MJ: Jika saya terpilih menjabat bupati,APBD Kabupaten Sumbawa diupayakan lebih fokus untuk pembiayaan proyek infrastruktur jalan. Tentu diharapkan juga dengan dana perimbangan dari pemertintah pusat yang mudah-mudahan ada peningkatan.

T: Kabarnya, selama menjabat wakil bupati, Anda tidak punya kekayaan?

MJ: Sebenarnya yang menilai saya adalah orang lain. Tapi yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan, saya tidak memiliki kekayaan material. Perlu dicatat, bahwa benar selama saya menjadi wakil bupati tidak pernah memakai APBD untuk memperkaya diri dan kroni. Padahal, terbuka kesempatan memanfaatkan jabatan saya untuk memperkaya diri. (***)

Majalah Sumbawanews Edisi Ke-3 Desember 2009: Utama

SHARE
Admin Sumbawanews